Si Pencari


Saya manusia tipe pencari. A seeker.  Untuk urusan keyakinan, saya selalu mencari dan mencari. Tidak pernah puas. Resikonya adalah dianggap tidak konsisten oleh, lagi-lagi, orang lain. Ya, orang lain yang terlalu sibuk hanya  memikirkan orang lain, yang tidak terlalu percaya diri dengan keyakinannya sendiri dan selalu mencari 'kambing hitam'. Untuk urusan keyakinan, saya kurang nyaman kalau hanya sekedar harus tunduk dan ’menerima’. Maka itu saya selalu mencari yang terbaik untuk saya, yang paling mendamaikan saya terutama kedamaian dengan diri saya sendiri. 

Keyakinan buat saya adalah sesuatu yang sangat pribadi dan mandiri. Tidak boleh mudah terpengaruh oleh pandangan orang lain. Tidak boleh mudah percaya apa kata orang sekalipun itu orang tua ataupun orang terdekat kita. Pandangan setiap orang terhadap agama dan keyakinannya adalah personal dan tentunya setiap orang akan punya pandangan berbeda berdasarkan pengalaman spiritualnya masing-masing. Ya, agama dan keyakinan adalah urusan saya dengan apapun itu yang sering banyak disebut orang sebagai  ‘Tuhan’. 

Saya rasa tidaklah masuk akal ketika saya menjalani hidup dan memilih untuk sesuatu hal yang bahkan paling pribadi sekalipun masih harus mengikuti ekspektasi orang lain. Kalau begitu terus, lalu kapan saya punya waktu untuk benar-benar mendengarkan ekspektasi saya sendiri? Keinginan saya sendiri? Menentukan jalan hidup memang tidak mudah dan seringkali kitapun memerlukan bimbingan mereka yang dianggap 'lebih tahu' tapi haruskah selalu 'mengikutsertakan' ekspektasi orang lain, rasa takut tidak enak dengan perasaan orang lain, obligasi secara moral terhadap orang lain? 

Saya pribadi memutuskan: tidak. 

Peduli setan dengan ekspektasi orang lain. Apakah saya ini liberal? Moderat? Fanatik? Entahlah, yang pasti saya tidak pernah berusaha meluangkan waktu untuk mengurusi keyakinan dan persepsi orang lain mengenai agama dan kepercayaannya. Dan untuk urusan tidak mau ikut sibuk ini, saya cukup fanatik. Anda bagaimana?


Semoga semua mahluk berbahagia. 






And The Story Continues...


Nama yang sudah tidak asing lagi bagi pecinta musik Indonesia. Marcell Siahaan atau lebih dikenal sebagai Marcell memulai karirnya di industri musik Indonesia ditahun 2002 lewat lagu 'Hanya Memuji' ciptaan Melly Goeslaw, duetnya bersama Shanty didalam kompilasi “Duet Cinta” produksi Warner Music Indonesia. Banyak lagu hits yang telah dihasilkan oleh vokalis yang sudah mengenal banyak referensi musik sejak kecil ini. Dan selain musik, solis yang juga menggemari olah raga beladiri Tai-Chi, Wing Chun, Jeet Kune Do dan Pencak Silat ini juga mendalami dunia seni peran. Tiga buah film sudah dibintanginya yaitu “Andai Ia Tahu” (2003), “Laskar Pemimpi” (2010) dan “Madame X” (2010).

Bersama Warner Music Indonesia, Marcell sudah menghasilkan tiga buah lagu yaitu ‘Hanya Memuji’, duetnya bersama Shanty dalam kompilasi “Duet Cinta”, ‘Ketika Kau Menyapa’ dan ‘Heaven Is Not’ yang ada didalam album soundtrack film “Andai Ia Tahu” yang dibintanginya bersama Rachel Maryam, dan tiga buah album yaitu “Marcell” (2003) dan “Marcell: Repackaged (2004) dengan tambahan dua lagu baru ciptaan Tengku Shafick yaitu ‘Ku Tak Mendua’ dan ‘Mendendam’, “Marcell: Denganmu” (2006) dan “Marcell: Hidup” (2008). Setelah Marcell menyelesaikan kontrak rekamannya bersama Warner Music Indonesia untuk kemudian bergabung dengan E-Motion Entertainment ditahun 2010, Marcell mengeluarkan dua buah lagu yaitu ‘Takkan Terganti’ ciptaan Yovie Widianto dan diaransemen oleh Tohpati diawal tahun 2010 dan ‘Peri Cintaku’, masih ciptaan Yovie Widianto namun diaransemen oleh Andi Rianto dipertengahan tahun 2010. Dan ‘Sisa Semalam’, lagu ketiga yang pada akhir April 2011 lalu baru saja dirilis, mendapat respon yang sangat baik dari pecinta musik Indonesia. Lagu ini merupakan cover version dari lagu yang diciptakan dan dipopulerkan oleh grup asal Bandung, Java Jive sekitar awal tahun 90-an dan Marcell-pun mampu membawakannya dengan sangat apik, unik dan berbeda dari versi aslinya.

Album ini keseluruhan berisi sebelas lagu. Selain 'Takkan Terganti', 'Peri Cintaku', dan 'Sisa Semalam', dialbum ini ada beberapa materi baru seperti 'Cinta Untukmu' (ditulis oleh Toma Pratama), 'Melati' (ditulis oleh Mhala Numata), 'Dia Yang Kucinta' (ditulis oleh Tengku Shafick), 'Nusantaraku' (bertemakan kecintaan Marcell pada Bhinneka Tunggal Ika). Yang membuat menarik, Marcell juga berduet dengan salah satu solis wanita terbaik di negeri ini yaitu Dewi Sandra pada lagu berjudul 'Tanpa kata ciptaan Andi Rianto dan sutradara serta lyricist handal Monty Tiwa.. Tidak Hanya Dewi Sandra, Marcell juga berkolaborasi dengan Rayi Putra, anggota dari grup RAN di lagu 'Permainan Cinta'. Selain itu ada dua lagu lain yang juga merupakan 'cover version' yaitu lagu 'Mau Dibawa Kemana' yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Armada, dibawakan kembali dengan aransemen yang jazzy dan broadway-ish, sangat berbeda dari versi aslinya. Dan lagu lainnya adalah 'I Knew I Loved You' yg diakhir tahun 90-an dipopulerkan oleh grup Savage Garden dari Australia.

Album yang sangat ditunggu kemunculannya ini setelah tiga tahun dalam penantian, "And The Story Continues..." merupakan “cerita cinta” Marcell yang masih dan akan terus berlanjut. 'Indonesia masih membutuhkan cinta, bohong kalau bilang tidak', katanya mengutip pernyataan Yovie Widianto.

Album ini juga menjadi sangat spesial karena dibantu oleh penata musik Indonesia bertaraf Internasional yaitu Andi Rianto, yang ikut menggarap kesepuluh lagu dalam album ini. Selain kejeniusannya mengaransemen, Andi Rianto dipilih karena kepiawaiannya menciptakan 'efek visual' disetiap aransemennya, yang mampu membuat pendengarnya membayangkan sendiri jalan ceritanya di kepala masing-masing.

Selamat menikmati lanjutan cerita Marcell ini.

Saya (Akhirnya) Menulis (Lagi)




Apa kabar semuanya, sahabat-sahabat? Saya yakin kita semua dalam keadaan baik dan tak kurang suatu apapun saat ini. Sebelumnya, saya minta maaf sekali saya baru kali ini punya kesempatan untuk meng-update blog setelah dalam waktu cukup lama tidak terjadi perubahan yang sangat signifikan. Maapken daku, teman-teman. Karena banyak hal harus dikerjakan dan diperbaiki sehingga menyita waktu dan konsentrasi saya untuk kembali menulis lagi. Jujur sudah banyak hal terjadi dalam beberapa waktu belakangan ini. Semuanya berlangsung begitu cepat namun padat secara konten. Dan karena begitu banyak dan padatnya inilah saya akan coba ceritakan nanti dalam posting-posting berikutnya. Selain biar tidak kepanjangan di-posting ini, juga supaya lebih fokus ceritanya. Semoga bisa mengobati kekangenan-kekangenan yang bergelora pada mahluk yang fana ini. :))

Semoga semua mahluk berbahagia.

Nasionalisme?

Saya bahagia sekali. Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 7 September 2009, saya telah menyelesaikan rekaman duet pertama saya dengan penyanyi solo wanita berbakat asal Malaysia, Dayang Nurfaizah di Kuala Lumpur, Malaysia. Proyek rekaman duet ini adalah proyek yang tertunda selama hampir 4 tahun dikarenakan masalah (basi) ‘birokrasi’ label. Kami menyanyikan sebuah lagu berjudul ‘Sayang’ yang diciptakan oleh seorang gitaris dan produser muda berbakat asal Malaysia, Omar Khan serta lirik yang ditulis oleh adiknya sendiri, Nuur Iman. Ditemani road manager saya dari Millionaires Club Management, Iraz Siregar serta dua sahabat saya Shaliza ‘Liza’ Kader Sultan (manajer Dayang Nurfaizah) dan Sharina Ahmad, dan dibantu Zain Almohdsar sang operator studio, kami berhasil menyelesaikan proses rekaman lagu itu dengan baik sekali.

Terima kasih sekali lagi dari hati yang paling dalam untuk Dayang, Liza, Sharina, Omar dan Zain atas kerendahan hati, keramah-tamahan, profesionalisme serta persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Selamat Hari Raya.

Ironis memang. Disaat dimana segelintir masyarakat (saya beranikan diri untuk mengatakan segelintir karena memang tidak semuanya) di negara saya tengah 'kebakaran jenggot' karena 'merasa' banyak ‘budaya’-nya dicuri, saya justru berkolaborasi. Banyak juga yang berkomentar atas keputusan saya karena merasa takut kerjasama kami suatu saat akan menjadi kontroversi. Saya tidak takut. Saya tidak terpengaruh. Peduli setan. Saya hanya melakukan suatu pekerjaan yang saya cintai dengan orang-orang yang juga saya cintai. Dan ini bukan sebuah bentuk tindakan yang kontra-nasionalis hanya karena saya melakukannya dengan orang Malaysia. Karena sekali lagi, tidak semua orang Malaysia berpikiran sempit. Dan tidak semua orang Indonesia kebakaran jenggot.

Ngomong-ngomong, apa sih sebenarnya nasionalisme?

Apakah dengan sok-sokan melakukan aksi '
sweeping' warga negara Malaysia yang dilakukan di daerah Menteng, Jakarta Pusat yang (memalukannya) ternyata hasilnya nihil karena tidak ada satupun orang Malaysia yang lewat? Apakah dengan berorasi sambil menyebarkan spanduk dan pamflet bertuliskan 'Malaysia=Malingsia'? Apakah dengan sok-sokan bakar-bakar bendera Malaysia (sedangkan di Malaysia tidak ada satupun yang melakukan hal yang sama) tanpa pernah memikirkan efeknya pada hubungan bilateral yang sudah terjalin baik sejak dulu? Apakah preman-preman (ya, PREMAN, karena mereka bukan aparat berwenang serta tidak punya dasar hukum yang kuat dan valid untuk melakukan sweeping sehingga lebih mirip tukang palak di terminal bis) kampungan yang melakukan sweeping ini memikirkan bahwa ada jutaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia dan tentunya ini akan berakibat buruk pada para pekerja Indonesia ini jika mereka dipulangkan? Karena saya yakin, preman-preman kampungan dan pahlawan-pahlawan pembela 'kebetulan' ini tentunya tidak akan pernah sanggup memberi makan (apalagi memberikan lapangan pekerjaan) kepada para TKI ini jika mereka dipulangkan. Ya, merekalah justru 'teroris-teroris' yang merusak citra bangsanya sendiri, yang membuat orang luar malas dan takut untuk datang ke Indonesia, yang membuat konser-konser musik mancanegara batal karena Travel Warning, yang membuat rupiah kita melemah, yang menyengsarakan rakyatnya sendiri.

Lebih sedihnya lagi, banyak aksi seperti ini dilakukan dan dimotori oleh 'mahasiswa' yang 'katanya' merupakan generasi intelek, generasi terdidik. Teman-teman mahasiswa, saya mohon dengan sangat: tolong jangan sampai kebablasan. Jangan keblinger. Jangan hanya berbekal pengalaman karena banyaknya revolusi fisik didalam sejarah negara kita yang terjadi karena dimotori mahasiswa, lalu kemudian menganggap bahwa segala-galanya harus diselesaikan dengan demonstrasi, dengan protes-protes fisik sampai konflik dengan aparat keamanan dan berakhir dengan tindakan-tindakan vandalis. Apapun itu, tindakan demonstrasi, protes-protes fisik dan (apalagi) tindakan-tindakan vandalis tetaplah menganggu stabilitas. Setiap manusia punya hak untuk hidup aman, tenteram dan tenang, teman-teman. Pikirkan mereka-mereka yang juga punya kepentingan yang lain diluar kalian, karena demonstrasi-demonstrasi ini juga seringkali menimbulkan kemacetan lalu lintas dan keresahan sehingga mengganggu banyak sekali kepentingan. Lakukanlah dengan sadar dan bijak, prosedural dan tertata. Semua ada jalurnya, aturannya. Jangan hanya rusuh dan emosional saja. Jangan sampai kata 'intelek' yang menjadi label mahasiswa kehilangan 'in' menjadi tinggal 'telek'-nya. Ingat, tindakan-tindakan seperti ini TIDAK SELAMANYA efektif. Kalau kemarin-kemarin mungkin dirasa efektif, belum tentu hari ini. Jadi
please, hati-hatilah, teman-teman mahasiswa. Karena reformasi yang keblinger, sesuci apapun tujuannya, akan tetap menyengsarakan banyak orang. Jangan perburuk lagi keadaan ini. Kasihan rakyat kita. Saya mohon.

Setiap orang punya cara pandang. Berbeda-beda memang. Tapi bukanlah cara pandang sempit dan terbelakang yang hanya berujung pada penderitaan.

Jangan reaktif. Pikir baik-baik sebelum bertindak. Jangan seperti anak kecil yang merengek dan langsung marah-marah, banting-banting barang ketika mainannya diambil. Padahal kalau mainannya tidak disentuh, anak itu juga lupa kalau dia pernah punya mainan. Jangankan diurus, diingatpun tidak. Saya merasa banyak dari kita yang bersikap seperti itu saat ini. Berlebihan dalam menanggapi apapun termasuk problematika budaya ini. Santai saja, tapi tetap waspada,
aware. Sikap emosional malah seringkali membuat kita kehilangan kewaspadaan kita, keajegan kita. Tetap terima kenyataan bahwa kita ini masih serumpun dan sama akar budayanya, suka atau nggak suka, enak nggak enak. Apresiatif.

Kemarin saya mendapat kesempatan berbicara dengan seorang musisi dan pencipta lagu senior yang juga seorang pakar Hak Cipta (
Intellectual Property Right) yang bernama James F. Sundah. Beliaulah pencipta lagu legendaris 'Lilin-lilin Kecil' yang pernah dinyanyikan oleh almarhum Chrisye dulu. Beliau berkata pada saya bahwa sekarang ini tengah terjadi perdebatan apakah Folklore atau Budaya Asli akan tetap dimasukkan kedalam kriteria Hak Cipta atau tidak. Selama ini Folklore sudah termasuk dalam perlindungan Hak Cipta dan kenyataan ini sebenarnya menyulitkan dalam pembuktian. Mengapa? Karena cukup sulit ternyata untuk menentukan originalitas budaya asli disebabkan banyaknya percampuran budaya. Banyak sekali kemiripan budaya kita bukan hanya dengan budaya bangsa serumpun saja tapi juga dengan bangsa-bangsa lain. Pulau-pulau yang tadinya bersatu, namun karena peristiwa alam, terpecah-pecah menjadi 13.000 lebih pulau. Ditambah lagi dengan proses fusi ataupun asimilasi budaya sebagai konsekuensi perdagangan dan persinggahan antar bangsa. Indonesia, karena memang sejak dulu sudah menjadi tempat persinggahan dan perdagangan antar bangsa, akhirnya memiliki 'budaya asli' yang kaya akan percampuran dengan berbagai macam budaya luar. Ada percampuran dengan budaya Cina, Arab, Portugis, dan banyak lagi. Dan percampuran itu bisa terlihat jelas dalam berbagai produk seni musik, tari, beladiri, bahasa dan sebagainya.

Makin sulit akhirnya menemukan dan mengklaim mana budaya asli kita dan mana yang bukan. Perbedaannya semakin tipis. Dan, arsip sejarah yang kita milikipun ternyata masih kalah lengkap dibandingkan arsip sejarah Indonesia yang tersimpan di Negeri Belanda, mantan 'penjajah' kita. Kita hanya punya data sekitar 40 persen dari data asli yang kesemuanya justru dimiliki dan tersimpan di negara lain. Sedih. Ternyata kita masih banyak belum tahu tentang diri kita. Lebih banyak tahu orang lain dibanding kita sendiri.

Beliaupun mengingatkan bahwa negara kita adalah negara hukum. Oleh karena itu kasus Tari Pendet (yang orang Indonesia sendiri kebanyakan tahunya Tari Bali, bukan Tari Pendet), kasus Batik, kasus Reog, semuanya adalah masalah hukum Hak Cipta karena kesemuanya termasuk
Folklore. Jadi, kasih kesempatan hukum yang menyelesaikannya. Kasih kesempatan untuk dilakukannya perundingan antar negara dengan jalan damai. Jangan kebanyakan protes dan bilang bahwa kondisi hukum kita sudah lemah dan rusak kalau pada kenyataannya saja kita sendiri masih meremehkan bahkan melanggar hukum, tidak menghormati. Masalah hukum adalah masalah kita bersama, bukan melulu masalah pemerintah. Beri kesempatan bagi hukum untuk bisa efektif ditegakkan. Bantu negara ini memperbaiki citra sebagai negara hukum yang bermartabat. Kalau memang pemerintah dinilai lamban dalam menyelesaikan masalah ini, tolong, pakailah cara-cara yang terhormat. Tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang berbudaya dan intelek. Jangan hanya sekedar bangga bahwa kita punya banyak sekali budaya tanpa pernah mengerti dan mengakar. Sayapun setuju dan mengakui, walaupun nasionalisme hanyalah sebuah konsep, kita tetap memerlukannya. Penting untuk jati diri kita, supaya kita tidak dianggap remeh dan diinjak-injak. Tapi bukanlah jenis nasionalisme yang terbelakang, nasionalisme kosong yang kerap terjadi seperti sekarang ini. Bukan dengan melakukan tindakan-tindakan yang justru mempermalukan diri kita, bangsa kita sendiri. Kalau kita tidak ingin diremehkan dan diinjak-injak, jangan melakukan tindakan-tindakan yang justru meremehkan dan merendahkan kita, merusak jati diri kita.

Satu lagi: JANGAN MUDAH terpengaruh begitu saja pada media jurnalisme. Saya mampu katakan bahwa tidak semua media jurnalisme mampu dengan bijak dan seimbang dalam pemberitaan. Kitalah yang harus sadar dan cermat. Mana yang benar-benar berita, mana yang sekedar provokasi, ngompor-ngomporin, manas-manasin. Banyak media jurnalisme yang seharusnya memberikan informasi yang edukatif,  yang seharusnya melaksanakan sistem 
check and balance, malah menjadi menurun kualitas pemberitaannya karena terpengaruh oleh 'mental' media jurnalisme hiburan (baca: infotainmen) yang kini lebih sarat unsur-unsur komersil dan hiburan ketimbang edukasinya. Hati-hati, banyak menonton infotainmen bukan berarti mengubah mental kita menjadi berlebihan, dramatis dan 'lebay', kaan? Tetap gunakan nalar dan hati. Kesadaran tetap nomor satu agar kita tidak mudah terprovokasi.

Buat para pengguna laman f
acebook, bijaksanalah! Please, nggak usah buat grup-grup provokator di facebook atau nyebar-nyebarin thread yang isinya provokasi untuk melakukan 'ganyang-ganyangan'. Nggak usah nyebar-nyebarin kebencian. Kalo lo benci itu masalah lo sendiri, nggak usah ngajak-ngajak. Nggak semua orang harus ikut-ikutan benci. Gua nggak tertarik, prén. Sumpah. Jijay.

Oh ya, satu lagi bahan introspeksi: selain pembajakan yang memang menjadi tren di negeri ini, banyak iklan produk di TV yang menggunakan lagu-lagu tema yang mirip bahkan cenderung 'mencuri' dari lagu-lagu yang beredar diluar negeri. Bahkan ada satu produk makanan instan yang terang-terangan mengambil lagu dari sebuah grup musik dalam negeri kita (hiks!) tanpa pernah meminta ijin (apalagi membayar royalti) kepada grup musik penciptanya. Ya, saya tahu kalau mendapatkan
proper licensing dari sebuah lagu tentunya akan membuat biaya produksi membengkak karena harus bayar royalti. Tapi tolong dipikirkan: royalti adalah HAK, boss. Hak atas jerih payah dan kerja keras kita, para musisi. Sama-sama cari makan kita, boss. Masih pada kurang puas juga? Ingat, menjiplak, ya tetap menjiplak. Mencuri ya tetap mencuri. Tidak hanya dihitung berdasarkan berapa not yang kita ambil, berapa nada yang kita jiplak, tapi juga substansi lagunya. Dengan adanya unsur kemiripan yang menimbulkan kesan atau mengingatkan seseorang akan lagu tertentu, sebenarnya sudah mampu dijadikan dasar untuk menggugat pelanggaran hukum ini.

Well, sebenernya nggak perlu marah-marah berlebihan ketika budaya kita, karya kita dicuri orang lain karena kitapun ternyata masih belum mampu menghargai hak intelektual orang lain bahkan hak intelektual bangsa sendiri. Kita masih menjiplak, membajak, mencuri karya bangsa sendiri, mengeruk keuntungan finansial daripadanya. Kita menikmati hasil jiplakan, bajakan dan curian beserta turunan-turunannya. Jangan berbicara nasionalisme secara berlebihan dulu, deh. Nggak perlu menjadi manusia-manusia yang ultra-nasionalis kalo ternyata yang kita bela mati-matian adalah bangsa yang kebanyakan orang-orangnya masih berprofesi sebagai pembajak-pembajak profesional. 
PERBAIKI DIRI LEBIH DULU, nggak usah 'lebay' :)

Introspeksilah, mungkin ini buah dari karma yang kita semua lakukan.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Terima kasih semesta atas perjalanan hari ini.

Terima kasih, oom James! :)

"Nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan." - koil -

Puasa

Bulan puasa. Toko-toko yang mendadak menjadi cepat sekali tutup. Pengemis dan pengamen (baca: orang-orang yang tidak terlalu ingin untuk bekerja keras) makin banyak berkeliaran dijalan-jalan. Pengendara kendaraan bermotor yang mendadak jauh lebih beringas dan agak sedikit lupa aturan ketika waktu mendekati pukul 6 sore. Kemacetan lalu lintas yang lebih kompleks. Konsentrasi kerja yang menurun. Mobilitas yang melambat. Emosional dan sensitif. Banyak excuses yang tidak perlu. 

Lepas dari segala fenomena diatas tetaplah bulan puasa adalah bulan penuh berkah. Mengapa penuh berkah? Karena dibulan ini kita diberi kesempatan ‘lebih’ untuk introspeksi. Ada yang komentar: 'Lho, bukannya introspeksi itu harusnya setiap hari? Nggak usah nunggu bulan puasa kaliii?' Saya jawab: Iyaa, makanya saya bilang ‘lebih’ karena dibulan ini kita (ceritanya) difokuskan, diniatkan lebih serius lagi :)

Dalam pendapat saya bulan puasa adalah bulan dimana kita semua (saya tekankan: SEMUA) belajar untuk introspeksi, belajar untuk apresiatif yang akhirnya menjadikan kita bijaksana dan seimbang. Momen ini penting bukan hanya untuk saudara-saudara saya yang muslim tapi juga saya beserta saudara-saudara saya yang non-muslim. Kita latihan bersama-sama sebenarnya.

Berpuasa atau tidak berpuasa kedua-duanya adalah sama-sama pilihan bebas yang harus dihormati dan dihargai.

Yang berpuasa menyadari bahwa yang dikuatkan dalam menjalankan ibadah puasa adalah iman terhadap godaan serta keteguhan hati untuk menerima kenyataan bahwa banyak juga orang lain yang tidak berpuasa. Keteguhan hati untuk memberikan keleluasaan kepada orang lain untuk memilih jalannya masing-masing, apakah mau berpuasa atau tidak berpuasa. Agak menjadi lucu memang ketika orang yang tidak berpuasa harus menerima ‘teguran’ dari orang-orang yang berpuasa ketika kedapatan sedang makan dibulan puasa. ‘Hargain dong orang puasa! Jangan makan depan orang puasa!’ begitu protesnya. Lucu.

Yang tidak berpuasa juga menyadari bahwa banyak yang memilih untuk berpuasa. Apresiatif. Bukan toleransi saja. Mengertilah lebih. Bahwa pada kenyataannya akan banyak orang menjadi tidak terlalu kreatif, menjadi emosional dan sensitif karena menahan lapar dan lelah ketika berpuasa. Kata-kata seperti: ‘Lo yang puasa ya masalah lo! Siapa juga yang nyuruh? Kalo nggak kuat ya jangan puasa!’ tidak perlu hadir dalam kenyataan. Inilah momen melatih kesabaran. Jangan mengharap lebih. Harapan berlebihan hanya akan menimbulkan penderitaan dan konflik-konflik yang tidak perlu.

Introspeksi, sesuai namanya, adalah proses kedalam dan bukan keluar. Jadi tidak pada tempatnya kalau kita menyalahkan segala sesuatu yang berada diluar diri kita. Kontra indikatif.

Kalau iman mau dikuatkan, SEBENARNYA bukan restoran atau diskotiknya yang ditutup, bukan alkohol yang dimusnahkan, bukan pelacuran atau perjudian yang dibubarkan, tapi IMAN (baca: kesadarannya, mentalitasnya) yang harus dilatih. Contoh paling ekstrim: kenapa pelacuran dan perjudian masih ada? Jawabannya sederhana: Hukum Ekonomi.
Supply and Demand. Pelacuran dan perjudian masih ada karena masih ada demand, masih ada permintaan, masih banyak fans-nya. Supply akan berhenti dengan sendirinya kalau demand makin sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.

Bagaimana cara mengurangi atau bahkan ‘mematikan’
demand-demand ‘ajaib’ ini? Yang paling efektif adalah latihan kesadaran. Keteguhan iman-nya yang dikuatkan, mentalitasnya yang dikokohkan, pola pikirnya yang dibersihkan. Bukan godaannya yang dihancurkan dan dihilangkan. Kalau setiap kali kita ingin meneguhkan iman dengan cara menghancurkan segala godaan lalu apa guna dan manfaat latihan meneguhkan iman? Dimana makna latihannya? Nggak ada.

Ada yang protes: ‘Tapi dengan menutup pelacuran dan perjudian kan juga salah satu upaya menutup kemungkinan suatu ‘dosa’ dibuat? Jadi nggak salah dong kalo kita nutup pelacuran dan perjudian?’ atau pernyataan ‘Melacur itu bukan pekerjaan!’ (dengan mengenyampingkan fakta dan menyangkal bahwa melacur sebagai mata pencaharian sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, lepas dari halal atau tidaknya). Iya bener kok. Nggak salah. Tapi tetaplah berhati-hati dan jangan merasa sudah menang. Bukan hanya dengan membangun tempat-tempat ibadah di sekitar pelacuran dan berharap semua pelacur kemudian bertobat. Atau dengan memberikan mereka keterampilan bekerja dan berharap mereka akan meninggalkan pelacuran dan memulai kerja yang lebih halal. Tidak semudah itu, kawan. Karena dengan menutup pelacuran dan perjudian tentunya juga menimbulkan konsekuensi lain yang tidak kalah mengerikannya bahkan lebih mengerikan dari pelacuran dan perjudian itu sendiri. Faktanya justru pelacuran dan perjudian malahan menjadi makin liar tidak terkendali, penyakit karena hubungan seksual merajalela dan semakin sulit dikontrol, banyak orang yang hidupnya dan keluarganya hancur berantakan karena pelacuran dan perjudian.

Masalah-masalah ini sekali lagi erat hubungannya dengan keteguhan iman kita, mentalitas kita. Kasarnya, kalau memang mentalnya suka melacur, apapun pasti akan dilacurkan, bahkan anak sendiripun kalau perlu dijual dan diperkosa. Kalau mentalnya memang sudah doyan judi, apapun bisa dijudikan. Kalau mentalnya memang doyan mabuk, alkohol dari apotek dicampur dengan 
soft drinks-pun pasti akan memuaskan keinginan untuk mabuk. Jadi kembali lagi: ini masalah MENTAL. Tidak lain dan tidak bukan, bukan?

Introspeksi dan latihan kesadaran sama-sama yuk. Jangan kebanyakan nyalahin orang atau nyalahin keadaan diluar diri kita. Kuatkan mental kita, iman kita, kesadaran kita.

Sekali lagi, bulan puasa adalah bulan penuh berkah. Puasalah dengan tulus. Tanpa pamrih. Anggaplah pahala itu tidak pernah ada, jadi kita bisa mengerti arti ketulusan. Puasa yang bukan hanya mengharapkan pahala saja. Tidak mengharapkan kembali. Jangan takut melewati kegagalan karena masih ada sebelas bulan yang lain untuk terus berlatih menjadi lebih baik. Selamat menunaikan ibadah puasa, saudara-saudaraku.

Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.

Semoga semua mahluk berbahagia

P.S. Saya pernah mendengar pengakuan polos seorang tukang cukur ketika saya sedang bercukur. Dia bilang kalau dia sengaja tidak tidur malam dan langsung menyambung dengan sahur. Setelahnya dia bisa tidur dan bangun sekitar jam 3 siang sambil menunggu buka puasa. Enak banget puasanya. Menurut anda gimana? :)



Mohon Maaf

Pagi ini, saya menerima sebuah e-mail dari seorang ibu yang merasa keberatan dengan pernyataan saya di sebuah advertorial pengguna BlackBerry yang disponsori sebuah provider telekomunikasi. Dia keberatan karena saya menggunakan kata ‘autis’ didalam pernyataan saya, yang menurutnya akan menimbulkan konotasi 'kurang positif' terhadap kondisi autis dan akan menyinggung perasaan para penyandangnya. Ibu ini adalah ibu dari seorang putri penyandang autis berumur 3 tahun.

Terima kasih. Saya sadar betul apa yang saya buat dan nyatakan didalam advertorial itu. Saya tidak akan berkelit. Saya telah keliru dan saya menerima kekeliruan itu sebagai pelajaran berharga. Saya tidak akan melakukan pembelaan apapun, walau di satu sisi saya juga sadar betul bahwa motivasi saya saat membuat pernyataan itu bukan untuk menghina atau memojokkan siapapun. Sama sekali bukan.

Oleh karena itu, saya atas nama pribadi MOHON MAAF yang sedalam-dalamnya atas kekeliruan ini kepada siapapun pihak yang merasa tersinggung dengan pernyataan saya, khususnya para penyandang gejala autis, Yayasan Autisme Indonesia dan Organisasi Putera Kembara.

Saya akan berusaha mensosialisasikan dan mengingatkan hal ini kepada siapapun agar tidak terulang kembali hal yang sama karena bagaimanapun juga hal menggunakan kata ‘autis’ dikalangan pengguna BlackBerry (bahkan juga sudah mulai digunakan oleh kalangan pengguna non-BlackBerry) sudah menjadi semacam ‘trend’ yang tentunya sudah merebak kemana-mana dan sulit untuk dikontrol. Saya akan usahakan yang terbaik. 

Sekali lagi, ini sebuah pelajaran berharga buat saya pribadi dan tentunya buat anda semua yang membaca blog saya, untuk kemudian tidak mengulangi hal yang sama. 

Terima kasih atas e-mail-nya, Mbak Wulan.

Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini

Semoga semua mahluk berbahagia.

Yuk, Mareeee!

Saya sempat dibuat kesal oleh seseorang yang mengirimkan pesan singkat (SMS) lewat sebuah nomor tak dikenal yang isinya adalah sebuah ayat yang diambil dari sebuah kitab suci, yang saya tahu sekali bahwa ayat ini selalu dijadikan 'senjata pamungkas' bagi penganut agama yang bersangkutan untuk menghina agama lain, menganggap agama lain tidak benar, tidak suci dan tidak mampu untuk menyelamatkan. Ya, sebuah ayat yang mengatakan bahwa kalau kita tidak mempercayai atau tidak melalui nabi ini, juru selamat itu, tuhan ini, tuhan itu, kita tidak akan pernah selamat. 

Yeah, roiiight!

Entah mengapa, biasanya saya tahan dan santai-santai saja terhadap orang-orang kurang kerjaan yang sok suci ini. Kali itu, entah mengapa, saya tersinggung berat. Mungkin karena lagi lelah seharian. Dan saya rasa itu wajar. Namanya juga warga, kaaan? :) Dari banyak SMS yang selalunya saya diamkan, pasti ada satu atau dua SMS yang akhirnya menyinggung saya. Entah imbalan apa yang dia dapatkan dari orang tuanya, pemuka agamanya, dari nabinya, bahkan dari tuhannya kalau dia berhasil membawa saya kembali ke jalan yang ‘benar’ (menurutnya). Tak pernah berhenti dan lelah untuk 'menjaring' umat sebanyak-banyaknya, bahkan kalau perlu menyakiti orang lain, ‘menipu’ orang lain supaya berpindah keyakinan dan masuk ke agamanya. Kalau perlu sampai bunuh-bunuhan. Perang suci. Entah surga jenis apa yang mau dia kejar. Entah pahala yang bagaimana yang mau dia reguk. Dan entah di neraka mana dia ingin menceburkan saya.

Let me say this straightly and strictly to whoever you are that had sent me those unimportant SMSes: GET A LIFE, man!

 Kalau kamu merasa kamu yakin dengan ayat itu atau apapun yang kamu yakini tentang kebenaran (yang sayangnya kebenaranmu sendiri), berhentilah memaksa orang lain untuk mengikuti apapun yang kamu yakini. Because for me, it’s your choice. Not mine. And unfortunately (again, it's for you), I HAVE already my own choice. 

Saya bukan orang yang suka diberi perhatian oleh orang yang tidak tahu dan tidak mengenal siapa saya sebenarnya. Dan, mengirimi saya ayat-ayat supaya saya pindah agama bukanlah bentuk  perhatian. Sok tahu lebih tepatnya.
Anda salah orang. Anda salah korban. 

Semakin kamu mengajak-ngajak, memaksa-maksa orang lain untuk ikut serta, terlihat jelas bahwa kamu TIDAK YAKIN dengan apa yang kamu yakini. Kenapa kamu harus takut kalau saya tidak percaya dengan apa yang kamu yakini? Sebegitu pentingnyakah saya buat kamu sampai kamu harus membuang-buang waktu, membuang-buang pulsa sekaligus juga sesudahnya harus kena saya maki? Sebegitu takutnyakah kamu kehilangan saya, satu dari sekian miliar umat yang sama denganmu yang kemudian berpindah ‘aliran’ hanya karena lebih bisa menentukan sikapnya sendiri? Bukankah agama dan keyakinan itu sifatnya pribadi? Atau, kamu takut merasa sendirian kalau ternyata apa yang kamu yakini itu ternyata tidak sepenuhnya benar? So if let’s say: kalau ternyata surga atau neraka, atau apapun kebenaran-kebenaran yang kamu yakini itu ternyata (misalnya) tidak ada, dan akhirnya kamu merasa tertipu dan merasa tolol karena terjebak, terus kamu mau mengajak saya ikut serta dalam ketertipuan dan keterjebakan yang kamu alami, begitu? 

Giliran ketipu aja ngajak-ngajak. Coba kalo nggak ketipu, boro-boro inget. Dasar lo! Hehe! Peace, yo! :)

Tapi jujur, kadang saya kagum sama orang seperti kamu karena pasti minimal kamu pernah mati (atau mati suri) karena bisa dengan begitu percaya dirinya berbicara tentang sesuatu yang hanya bisa dialami dan dirasakan ketika kita sudah mati. Surga dan neraka, sekali lagi menurut yang kamu yakini, ada setelah kita mati, bukan?

Udahlaah. Masih banyak hal penting lain yang harus lo pikirin. Hari gini lo masih aja mikirin gimana caranya nyari umat. For human's sake, wake up!

Mendingan lo pikirin tentang PEMANASAN GLOBAL dan gimana caranya supaya kita bisa kembali lagi bersahabat ama bumi kita, rumah kita yang selama ini hanya selalu jadi tempat sampah kita. Iklim sekarang udah bener-bener ‘aneh’ karena pemanasan global. Dan itu nyata, jooo. Lebih nyata daripada surga atau neraka yang lo gembar-gemborin itu. Dan pemanasan global jelas-jelas bukan hanya disebabkan oleh emisi gas buang tapi lebih karena terlalu banyaknya peternakan di bumi ini (jumlah sapi di dunia sekarang lebih dari 1,3 miliar ekor dan itu baru sapi doang) karena kita-kita yang masih nggak sadar-sadar ngebunuhin binatang hanya karena nggak bisa nahan mata dan lidah. Satu sapi doang setiap harinya ngehasilin sekitar 12 liter gas Metana atau Metanol (Methane Gas) sebagai hasil dari proses ekskresinya yang terlepaskan ke udara bebas. Dan gas Metana atau Metanol ini panasnya 25 kali lebih panas dari Karbonmonoksida (CO) yang udah jelas-jelas bikin lapisan Ozone kita bocor. 

Mendingan lo pikirin gimana caranya untuk lo bisa jadi VEGETARIAN atau minimal ngurangin konsumsi daging seperti yang udah jadi peringatan super keras oleh IPCC (International Panel for Climate Change). 

Mendingan lo pikirin gimana caranya buat bikin taman untuk PENGHIJAUAN atau minimal nanem pohon aja deh nggak usah jauh-jauh. 

Mendingan lo pikirin gimana caranya buat HEMAT ENERGI. Salut gua buat mereka-mereka yang madamin listrik selama 60 menit dari pukul 20.30 sampai 21.30 pada momen Earth Hour di hari Sabtu, 28 Maret 2009 yang lalu, diseluruh jagad ini. Moga-moga kita bisa terus menjaga bumi kita, rumah kita, seperti ini ya, guys! Let's continue this holy journey! Love you all!

Mendingan lo pikirin gimana caranya supaya jangan sampai bencana sekelas Tragedi Situ Gintung terjadi lagi karena itu JELAS-JELAS disebabkan oleh kelalaian manusia, bukan alam. Nyalahin alam mulu aaah, basi. Nggak usah jauh-jauh mikirin konflik Israel-Palestina deeeh kalo konflik-konflik disekeliling kita (atau lebih parah: konflik internal lo sendiri, ketakutan lo sendiri) yang jelas-jelas ada didepan mata aja lo masih belon bisa handle. Kejauhan, jooo.

Mendingan lo pikirin gimana caranya kalo lo ngerokok, JANGAN ngerokok diruangan ber-AC (Air Conditioned Room). Pikirin orang laen yang nggak ngerokok jugalaaah. Lagian orang gemblung juga tau kalo diruangan ber-AC, apalagi ada ANAK-ANAK KECIL, udah pasti nggak boleh ngerokok. Tinggal masalah lo pake otak ama hati lo aja. Nggak perlu sampe Pemda yang harus turun tangan. Nggak perlu sampe tempel-tempel pengumuman dimana-mana. Nahan diri dikit nggak ada salahnya.

Atau yang paling gampang: JANGAN BUANG SAMPAH SEENAKNYA. Jangan cuman untuk sok-sokan, keren-kerenan bikin acara-acara panggung musik buat kampanye anti pemanasan global tapi tetep aja disekeliling panggung banyak sampah betebaran dimana-mana. Gua pernah manggung di acara kayak ginian dan langsung gua sindir panitianya dari atas panggung. Malu-maluin, nggak ada keren-kerennya. Sumpah. Pertanyaan bodoh gua: lo sebenernya ngerti nggak sih lo kampanye-kampanye itu buat apa? Huh? Bukan cuman rame-ramean dan seru-seruan aja, lho. Tanggung jawabnya gede.

Nah, kembali lagi, kalo lo udah bisa kayak gitu, udah bisa nahan diri untuk hal-hal yang seringkali lo anggap remeh dan sepele, atau latihan nggak makan daging dulu setaun aja, bolehlah lo ajak-ajak gua, pengaruh-pengaruhin gua. Ok, beybeeh? 

Yuk, mareeee!

Semoga semua mahluk berbahagia.

Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.


Limit

Menikmati hidup tanpa pertanyaan adalah hadiah yang paling membahagiakan. Seperti menikmati terbitnya matahari di ufuk timur dan terbenamnya di ufuk barat. Seperti ketika orang-orang sudah tidak perlu lagi mempertanyakan banyak hal yang tidak penting. Yang tertinggal hanyalah kesadaran untuk saling menerima dan menghargai. Kesadaran untuk menerima bahwa apa yang diyakininya sebagai kebenaran adalah sesuatu yang hanya bisa dinikmatinya sendiri. Kesadaran bahwa kebenaran yang diyakininya bukan untuk dipaksakan kepada yang lain karena merasa (sekali lagi: merasa) ‘kebenaran’ yang lain adalah palsu. Ketika kebenaran dipaksakan, tidak ada lagi yang namanya pilihan termasuk kebebasan untuk memilih. Manusia yang tidak mampu memilih bukanlah manusia. Seperti kata pepatah kerbau yang selalu siap dicocok hidungnya

Ketika ada pihak yang mengkritik bahkan mencerca keputusan apapun yang saya ambil, saya hanya diam. Mengapa? Karena saya tahu, para pengkritik ini sebenarnya membutuhkan jawaban saya. Dengan membuat saya gerah, mereka berharap adanya reaksi. Harapan bahwa akan keluar jawaban dari mulut saya. Ketika saya diam, justru mereka semua yang merasa kegerahan. Kritikan semakin pedas, semakin meyakitkan dan (sayangnya) semakin ngawur. Ngawurnya kritikan mereka ini bahkan mampu mengaburkan kenyataan siapa yang seharusnya mendapatkan kritikan. Saya yang telah dianggap berbuat dosa oleh mereka yang juga telah tanpa sadar berbuat dosa dengan menyakiti hati saya. Asumsi-asumsi yang perlahan membunuh saya. Saya, yang seringkali mereka anggap sebagai setan, sedang dibombardir dengan kritikan menyakitkan oleh sekawanan ‘setan berpengalaman’ yang selalu melakukan dosa langganan: merasa suci. Inilah bentuk perhatian sesama setan. Sesama setan harus saling menasehati. Saya sadar saya adalah setan yang kurang pengalaman. Butuh wejangan dari setan yang ‘lebih berpengalaman’ untuk merasa suci.

Jujur, semua ini menjadi tidak ada bedanya dengan perang yang didalamnya sudah pasti terdapat unsur pembunuhan keji namun dilakukan atas nama ‘kebenaran’. Ya, ini adalah perang suci kata para pelakunya dengan penuh percaya diri. Suci karena dianggap membela kebenaran dan memerangi kebathilan. Yang membuat saya tertawa adalah: kalau perang saja sudah dianggap suci maka bayangkan yang tidak sucinya. Mengerikan. Tidak ada yang lebih primitif daripada menganggap perang, pembunuhan keji sebagai sesuatu yang suci.

Kebenaran, apalagi Cinta, tidak memerlukan pembelaan. Makanya saya diam. Dan sekali lagi inipun kebenaran yang saya anut. Jangan ambil pusing dengan kebenaran saya. Nikmati kebenaran anda sendiri karena saya juga tidak ambil pusing dengan kebenaran anda.

Oh, ya. Hampir lupa. Mau curhat sedikit.

Masih ingat kolom ShoutBox yang pernah bertengger dengan gagah beraninya disebelah kanan blog saya? Kolom yang awalnya sengaja saya biarkan terbuka bagi siapapun yang ingin berekspresi, berkomentar, berteriak, mengkritik? Sekarang sudah tidak ada lagi. Demikian juga kolom ShoutBox yang ada di blog istri saya. Ya, saya telah memutuskan untuk menutupnya. Bahkan saya dengan tegas memerintahkan istri saya untuk menutup kolom ShoutBox di blog-nya. 

Mohon maaf atas keputusan ini, saudara-saudara.

Awalnya saya merasa bahwa membiarkan orang untuk berekspresi adalah suatu keputusan yang bijak. Memang nggak ada salahnya sebenernya, kan? Tapi ya itu tadi: saya hanya manusia, saya ternyata punya limit. Dan saatnya memberikan sedikit kesempatan untuk diri saya menghormati limit itu. Karena kalau bukan saya yang menghormati limit itu lantas siapa lagi, saudara-saudara? Bukan begitu?

Kenapa saya tutup? Karena sudah terlalu banyak didominasi oleh komentar yang keterlaluan, kelewatan, kebablasan, keblinger. Sok benar, sok tahu, sok keren, sok suci. Saya sampai geleng-geleng kepala sendiri: kok ada orang-orang yang seperti ini kualitasnya, yang bertindak hanya berdasarkan naluri untuk menang, naluri bertahan atas kebenarannya sendiri, tanpa logika dan hati nurani. Merasa paling benar sehingga TIDAK PERLU menghormati orang lain, menghormati PROSES orang lain. Memuakkan sekali, saudara-saudara. Membuat saya ingin muntah. Mohon maaf. 

Tapi, ya sudahlah. Toh kolom di blog saya itu sudah saya tutup. Saya tidak perlu merasa mual lagi.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Terima kasih semesta atas perjalanan hari ini.

P.S. Saya mengutip komentar Dana, salah seorang yang memberikan komentarnya di posting saya sebelumnya. Lucu juga untuk direnungkan bersama. Dia tulis sebagai berikut: 
"Why God create differences when he has the power to make everything the same ?"
Iya, benar. Kenapa, yaaa? :)


Untukmu, Istriku

Istriku,

Rasanya begitu banyak hal-hal berat yang kita hadapi akhir-akhir ini. Begitu sering kesadaran, kesabaran dan cinta kita diuji. Begitu banyak pihak yang mengkritik dan menghujat perjalanan kita, memporak-porandakan kesetiaan kita. Berat sekali. Saya tahu. Tapi saya bangga, sayang. Bangga sekali. Karena ketika hal berat dan duka mendera, ketika kita yang sewajarnya sebagai manusia merasa takut dan pergi menjauhi rasa sakit, kita justru malah berpelukan erat dan tidak mau lepas. Tak ada kata menjauh, tak ada kata jarak. Ya, kita sama-sama menyadari bahwa rasa sakit karena duka hanya akan menjadi lebih perih jika kita justru berlari menjauh meninggalkan satu sama lain. Alih-alih mampu menyelesaikannya sendiri, kita malah gagal dan semakin terpuruk. Masalah tidak akan pernah selesai bahkan tetap ada dan semakin berat.

Yakin dan saling percaya, sayang. Ya, hanya itu. Tak aneh jika pintu untuk saling menerima dan memaafkan selalu terbuka untuk kita berdua. Karena cinta itu menerima dan memaafkan. Dan itulah cinta yang kita imani. Cinta yang tulus.

Saya tidak pernah berhenti mengagumimu, sayang. Tidak pernah berhenti untuk selalu membanggakan dirimu. Dimanapun, kapanpun, kepada siapapun. Kamu adalah sosok wanita, perempuan dan ibu yang selalu saya hormati. Karena memang pantas dihormati. Yang selalu menjadi tempat berpegang, berkeluh kesah, menangis, tertawa bagi saya dan kedua cahaya mata kita, Keenan dan Edga. 

Kekasih hatiku,

Saya bahagia, sayang. Bahagia sekali. Sumpah.
I've never been on this state of contentment before.

Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana gelombang rasa ini terus bertumbuh dan bergulung di dalam diri saya. Rasa bahagia yang belum pernah ada sebelumnya. Rasa bahagia yang membuat saya ingin terus-menerus belajar menjadi manusia yang lebih baik hari ke hari dan selalu mampu untuk kamu banggakan. Lelaki, suami, ayah yang selalu bisa menjadi panutanmu dan anak-anak kita.

Terima kasih atas rasa percayamu sejak saat pertama kali kita berpegangan tangan dalam perjalanan empat jam menuju airport tanggal 2 Februari 2008 yang lalu.
Terima kasih atas rasa hormat dan penghargaan yang selalu saya rasakan setiap kali kamu mencium lembut tangan saya saat akan memulai hari-harimu. 
Terima kasih atas kesabaran dan penerimaanmu yang rasa-rasanya tak pernah ada habisnya kepada raga tak sempurna ini.
Terima kasih saya ucapkan kepadamu, atas nama bulan dan bintang, atas nama matahari dan segenap isi tata surya serta segala entitas yang hadir di semesta ini. Hormat saya kepada jiwamu, ragamu, pikiranmu dan segenap kondisi yang membuatmu hadir di kehidupan ini.

Jangan pernah takut, cintaku. Yang kita jalani adalah sebuah perjalanan yang suci. Kita mengawali dan menjalaninya dengan penuh kesadaran dan kesabaran, karena cinta. Banyak orang tidak mampu melihat dan menerima perjalanan kita dan ini adalah urusan dan masalah mereka, bukan kita.  
Don't ever worry, sweetheart. 

Sekalipun neraka itu ada dan kamu ditakdirkan untuk kesana, kamu tidak akan sendirian, sayangku. Saya akan ada bersamamu, menggandeng tanganmu, memeluk erat tubuhmu, mencium keningmu. Kita dinginkan neraka dengan cinta dan kasih sayang. 

Sekali lagi, saya bahagia karena diberi kesempatan oleh semesta untuk mencintai kamu di masa kehidupan sekarang ini. Kesempatan untuk memberikan yang terbaik dan terindah untukmu, untuk anak-anak kita.

I love you, Melatiku.

- Suamimu -

Saya Batak

Saya orang Batak. Setidaknya terlahir sebagai orang Batak. Muka sayapun terlihat Batak. Marga saya Siahaan. Dan pernah menikah dengan seorang boru dari marga Simangunsong dan mempunyai seorang  anak yang (pastinya) juga Batak. Tetapi saya dilahirkan dan dibesarkan di Bandung, Tanah Parahyangan, oleh sebuah keluarga besar yang sangat ‘Jawa’. Ayah saya, Paian Siahaan, adalah orang Batak asli dan lahir di Pematang Siantar. Ibu saya, Veronica Indrasari, adalah peranakan Surakarta, Ambon, Belanda dan Cina yang lahir di Bandung dan sudah ‘ditahbiskan’ menjadi orang Batak dan memperoleh marga Manurung. Kakek saya, alm. R.M. Soebroto Hardjowahono, adalah orang Surakarta asli yang banyak menghabiskan waktu masa mudanya di negeri Belanda. Ayah beliau (saya menyebutnya ‘eyang resi’), alm. R.M. Soetarto Hardjowahono adalah salah satu pendiri Taman Sriwedari, Surakarta. Nenek saya, alm. Doortje Francine Suzanne Noya, adalah orang Ambon dengan sedikit darah Belanda dan Cina yang besar di Surabaya dan Belanda. Kakek saya pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Psikologi Angkatan Darat (Dispsiad) sekitar tahun 50-an sepulang dari negeri Belanda sehingga mengharuskan beliau menetap di Bandung karena saat itu kantor pusatnya di jalan Sangkuriang, Bandung.

Semenjak kecil saya lebih banyak berinteraksi dengan adat Sunda dan Jawa. Saya bahkan bersekolah di Santo Aloysius, Bandung sejak TK hingga lulus SMU yang mana mayoritas sahabat-sahabat saya adalah keturunan Cina dan semuanya fasih berbahasa Sunda. Akibatnya saya menjadi lebih fasih berbicara bahasa Sunda dan sedikit bahasa Jawa. Saya tidak bisa berbicara dan berbahasa Batak sedikitpun. Dan Papa bukan orang Batak yang
‘strict’ terhadap adat istiadat Batak. Dia tidak pernah memaksa saya ‘menjadi’ orang Batak karena Papa sangat realistis. ‘Darah Batak sudah mengalir dalam darahmu’, begitu katanya. Hasilnya saya selalu menjadi bahan celaan dan permainan saudara-saudara dari pihak Papa karena tidak bisa berbahasa Batak. Mereka menganggap saya Batak palsu, Batak KTP, Batak jadi-jadian. Saya selalu diejek ‘lembek’ seperti orang Jawa, ditertawakan dan dikomentari dengan bahasa Batak dan mereka selalu merasa saya tidak mengerti padahal saya juga tidak bodoh. Saya sempat suatu hari bercerita kepada Papa mengenai ini. Dan mengomentari masalah bahasa beliau berkata: ‘Lebih penting bahasa Inggris kau pelajari daripada bahasa Batak. Persentase untuk kau nanti pakai bahasa Inggris akan jauh lebih banyak kurasa. Sudahlah, tak akan mati kau tak bisa bahasa Batak.’ Saya tersenyum. Benar juga. Untuk menjawab celaan-celaan  dalam bahasa Batak yang ditujukan kepada saya akhirnya saya menjawabnya dengan bahasa Sunda. Nyambung atau nggak, peduli setan. Yang penting 'nyela' balik. Akhirnya celaan-celaan tersebut berhenti sendiri karena sama-sama bingung, sama-sama frustrasi.

Kembali lagi, walapun Papa tidak secara spesifik mengajarkan adat istiadat dan berbicara bahasa Batak, beliau mengajarkan saya untuk menjadi orang Batak yang baik dan terhormat. Dan hal yang selalu beliau ajarkan kepada saya adalah bahwa orang Batak itu berkarakter kuat, berani mengambil sikap tegas dan bertanggung jawab, apa adanya dan sangat menghormati orang tuanya. Saya selalu ingat itu.

Saya bangga menjadi orang Batak. Karena saya telah dibesarkan oleh orang Batak yang bertanggung jawab. Papa, walaupun beliau sudah berpisah dengan Mama sepuluh tahun lebih, adalah figur lelaki Batak yang selalu menjadi panutan saya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dia adalah lelaki yang sangat cerdas, kritis, pekerja keras, bertanggung jawab dan sangat peka terhadap lingkungannya. Dia sangat keras mendidik saya karena diapun dididik sangat keras (bahkan terlalu keras) oleh ayahnya, '
ompung doli' Leman Siahaan, terutama terhadap apapun yang ada hubungannya dengan rasa bersyukur. Dia mengajarkan saya untuk selalu bersyukur atas apapun yang kita miliki karena dalam hidup masih banyak orang yang tidak seberuntung saya. Tidak boleh menyia-nyiakan jerih payah orang lain. Tidak boleh menyisakan dan membuang makanan. Tidak boleh menghina dan melecehkan orang kecil. Jangan lupa untuk selalu membantu siapapun yang membutuhkan bantuan. Seburuk apapun orang tuamu tetaplah hormati. Mengkritik orang tua bukan hal yang tabu namun haruslah dengan cara yang sopan dan terpelajar karena bagaimanapun tetaplah orang tua. Sebagai penutup beliau berkata: ‘Aku keras sama kau. Kau pasti tidak terima aku keras sama kau. Tapi suatu saat nanti kau akan berterima kasih sama aku.’ Ya, beliau benar. Akurat.

Papa bukanlah orang Batak kebanyakan. Beliau berbeda, setidaknya menurut pengalaman saya dan pendapat saya. Sangat realistis.
Bukan orang Batak yang usil yang suka ikut campur masalah orang lain atas nama persaudaraan.
Bukan orang Batak yang merasa dirinya, adatnya, keyakinannya, agamanya adalah yang paling benar sehingga ‘seakan-akan’ memberikan kekuatan bagi dirinya untuk menghakimi, mengkhotbahi dan menzalimi orang lain terlebih saudaranya sendiri.
Bukan orang tua Batak yang dengan mudahnya mengancam anaknya dengan ancaman ‘anak durhaka’ ketika anaknya berpacaran ataupun menikah dengan orang yang bukan Batak ataupun yang berbeda keyakinan.
Bukan orang tua Batak yang suka menjodoh-jodohkan anaknya dengan sesama orang Batak.
Bukan orang tua Batak yang menjebak anaknya dalam perasaan bersalah hanya karena anaknya ternyata punya pendapat sendiri.
Bukan orang tua Batak yang suka membanding-bandingkan anaknya dengan anak keluarga Batak lainnya yang dianggap ‘lebih sukses’.
Bukan orang tua Batak yang dengan mudah menyebut ‘saudara’ ketika meminta bantuan untuk kepentingan anaknya sehingga seringkali membuat anaknya malu.
Bukan orang tua Batak yang sedikit-sedikit mengutip ayat kitab suci dan berkhotbah ketika dirinya merasa benar dan kebenarannya tidak dipatuhi.

Buat saya tidak ada kata durhaka. Malin Kundang hanyalah legenda. Dalam hemat saya orang tua tetap orang tua. Orang tua hanya manusia biasa yang juga harus diingatkan, ditegur. Namun cara mengingatkan dan menegurnya MUTLAK harus dengan sopan. Karena mereka, bagaimanapun juga adalah orang tua kita, darah daging kita, yang membesarkan kita. Itu saja.

Saya orang Batak bukan berarti dimana-mana saya harus ‘Batak’ ataupun kelihatan ‘Batak’. Saya menghormati tanah kelahiran saya, Tanah Parahyangan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya lahir disana, besar, makan dan minum, bersekolah, menikah dan mempunyai anak disana. Saya sudah menjadi bagian dari masyarakatnya. Saya tidak ingin ‘menguasai’ hanya karena asumsi bahwa orang Batak harus selalu eksis dimanapun, kapanpun, dengan siapapun dan jadinya malah menginjak-nginjak adat istiadat orang lain, menganggap orang lain ‘lembek’, menganggap orang lain 'culas' dan sebagainya.
Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Saya menunjukkan bahwa saya orang Batak bukan hanya dengan mencantumkan marga. Bukan hanya dengan menghafal siapa saja anggota keluarga dan kerabat saya dan bagaimana memanggil mereka. Bukan hanya dengan mengingat ketujuh klan Siahaan dan generasi keberapa saya saat ini. Saya menunjukkan itu dengan sikap dan karakter sebagai orang Batak seperti yang Papa sudah ajarkan. Orang Batak juga manusia. HANYA manusia. Dan karakter manusia tercermin dari perbuatannya bukan dari siapa dan darimana dia  berasal. Buat saya itu cukup. Lebih dari cukup.

Sekali lagi saya bangga sebagai orang Batak. Terserah orang mau bilang apa.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.

Sabbe Sankhara Anicca saya ucapkan dari hati yang terdalam kepada sahabat saya, abang saya,  Robin 'NOXA' Hutagaol, yang telah meninggal dunia karena kecelakaan lalu-lintas dan sempat mengalami koma selama beberapa hari. Pertemuan yang singkat namun begitu berarti, bang. Terima kasih atas kesempatan mengenali abang lebih dekat dan memaknai persahabatan diantara kita walaupun singkat. Have a peaceful journey, my brother!

Janji Tinggal Janji

Janji memang harus ditepati. Seperti sebuah dogma. Tak terbantahkan. Ketika ada seseorang berjanji kepada kita dia harus menepatinya apapun yang terjadi dan bagaimanapun caranya. Seperti pepatah: ‘Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak akan dipercaya.’ Kalau tidak menepati janji kita dianggap tidak punya pendirian, tidak jantan (ayam kaleee jantan! *déjavu*), tidak 'gentleman' (kalau laki-laki, kalau wanita mungkin ‘gentlewoman’ *huh*). Tapi pernahkah kita merenung sejenak dan menyadari bahwa janji itu, seberat apapun dia, hanya bisa ditepati sesuai dengan kemampuan dan keadaan? Dan ketika kita meminta seseorang untuk berjanji sadarkah kita bahwa kita sebenarnya sama sekali tidak berhak untuk memaksa seseorang menepati janjinya karena semuanya tergantung pada kemampuan dan keadaan?

Berjanji sebenarnya adalah salah satu tindakan ataupun upaya kita untuk menciptakan kepastian didalam keadaan hidup yang serba tidak pasti.

Kita terkadang lupa bahwa kita berjanji untuk sesuatu hal dimasa depan tanpa pernah bisa tahu dan yakin bahwa janji tersebut bisa kita tepati atau tidak. Insya Allah, kalau kata saudara-saudara saya yang Muslim. Ya, karena kita sebenarnya berjanji dengan menggunakan sudut pandang masa kini untuk mencoba memberikan kepastian di masa depan (yang tentunya kita belum tahu karena belum terjadi) yang sudah pasti keadaannya akan berbeda nantinya jika dibandingkan dengan saat (ini) dimana kita mencetuskan janji kita.

Setiap saat berubah, tidak ada yang sama.

Janji menjemput, janji menemani, janji makan malam, janji jalan-jalan, janji memenuhi klausul kontrak, janji membayar utang, janji memberi piutang, janji kawin bahkan janji sehidup-sematipun (apalagi yang terakhir ini) semuanya hanya janji. Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana untuk memenuhinya nanti. Semuanya hanya upaya untuk menyuntikkan semacam obat bius lokal pada tubuh yang kesakitan akibat 'tergores' oleh ketidakpastian agar tidak terlalu terasa sakitnya, perihnya.

Masing-masing, apakah yang berjanji maupun yang dijanjikan, harus mulai untuk sama-sama menyadari dan belajar. Belajar apa? Ya, belajar untuk tidak mudah berjanji kalau tidak realistis atau kalau dirasa kurang mampu memenuhinya. Demikian juga sebaliknya yang dijanjikan juga jangan mudah percaya (saya tekankan ‘jangan mudah’ percaya, bukan ‘jangan’ percaya) pada janji-janji kurang realistis. Jangan terlalu 'ngarep'. Dan, jangan memaksa seseorang untuk berjanji, karena sesungguhnya berjanji itu tidak mudah. Sangatlah tidak mudah. Jangan membebani.

Saya berbicara ini bukan untuk mempengaruhi anda semua untuk bersikap antipati terhadap janji dan seluruh handai taulannya. Orang menjadi mudah dan lantang bilang janji, mudah melanggar perjanjian yang sudah disepakati, meremehkan janji, menyakiti perasaan bahkan merusak hidup orang lain karena sudah terlanjur antipati terhadap janji. Atau menjadi membebani orang lain karena secara langsung maupun tidak telah memaksanya berjanji sampai melewati batas kewajaran padahal jelas-jelas berjanji itu tidak mudah. Kenapa begitu ya?

Jawabannya: karena takut. Ya, takut. T-A-K-U-T.

Karena takut menyebabkan orang kehilangan kepercayaan bahkan terhadap dirinya sendiri. Karena takut menyebabkan orang mudah berjanji dan mudah percaya pada janji. Karena takut orang menjadi memaksa seseorang lain untuk berjanji. Tak sadar bahwa ketika seseorang dipaksa untuk berjanji justru semakin membuka segala kemungkinan untuk janji tersebut tidak ditepati. Karena janji yang diucapkan tadi tidaklah tulus. Didorong, dipaksa, dijebak. Dan ketidaktulusan itupun sekali lagi terjadi karena: Takut. Masalahnya cuma itu dan hanya selalu itu.

Kalau begitu apakah inti pembicaraan ‘ngalor-ngidul’ ini? Musti ngapain dong kita kalau begitu? Yang pasti bukan kayang atau senam ritmik.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.

Keenan


Keenan Avalokita Kirana. Keenan diambil dari kata bahasa Irlandia artinya 'Penjaga', Avalokita diambil dari kata bahasa Sansekerta Avalokiteshvara artinya 'Kasih Sayang', dan Kirana artinya 'Cahaya'. Penjaga Cahaya Kasih Sayang. Tapi cukup panggil saja dia Keenan. Atau Nang-nang. Atau Kintjeu. Atau Kinanto Sungkono. 

Dilahirkan melalui proses persalinan secara Caesarian karena terbelit tali pusat pada hari Jumat, tanggal 5 Agustus 2004, pukul 13.45 siang dengan berat 2,78 kg dan panjang 51 cm, di Rumah Sakit Bersalin Santo Borromeus, Bandung. Ya, Keenan berzodiak Leo dan lahir tepat di Tahun Monyet Emas pada jam Kambing. Seorang yang disinyalir oleh para ahli Feng Shui sebagai pribadi yang sangat cerdas dan cerdik, tidak bisa diam, memiliki sifat memimpin alami, pelawak dan penghibur serta attention seeker sejati. Memilih menjadi seorang vegetarian sejati sejak umur 1 tahun, yang mana kenyataan ini selalu dianggap bohong dan hanya isapan jempol dan rekayasa kedua orang tuanya. Mampu membaca di usia 2 tahun sehingga dia dinobatkan sebagai satu dari seribu anak pemegang rekor anak Batita (Bawah Tiga Tahun) yang sudah mampu untuk membaca versi Museum Rekor Indonesia (MURI). Kata-kata pertama yang diucapkannya adalah: ‘Nggu!’. Entah apa maksudnya. Memiliki sense of rhythm dan sense of tone yang tinggi karena sejak didalam kandungan selalu diperdengarkan musik klasik dan ketika berumur kurang dari satu tahun selalu dinina-bobokan dengan permainan drum ayahnya sampai jatuh tertidur serta diperdengarkan musik dari berbagai aliran. Sempat menjadi murid playgroup Gymboree di Bandung, Montessori Bandung dan menjalani terapi untuk meningkatkan fokus di Our Dream, Bandung. Pakar psikologi anak di sekolahnya sempat menganggap Keenan punya kecenderungan autis dan hiperaktif karena susah sekali untuk diam tenang. Namun setelah diteliti itu semua dikarenakan tingkat kecerdasannya yang diatas rata-rata anak seusianya (IQ Keenan disinyalir sekitar 150-160) sehingga dia mudah sekali bosan. Ketika di Montessori Bandung-pun dilaporkan bahwa dia sudah sangat bosan untuk membaca karena buku bacaan Level Advance di sekolahnya setara dengan buku bacaan Level 4 miliknya dirumah. Sedangkan Keenan sudah membaca sampai dengan Level 9. Dimanapun dia bersekolah dia selalu menjadi murid favorit yang selalu dinantikan kedatangannya karena dia terkenal sangat ramah terhadap semua gurunya sampai saat ini. Keenan juga terkenal dengan sifatnya yang menyukai kebersihan. Dia tidak bisa melihat sampah, kotoran maupun barang-barang yang berserakan. Selalu akan dia ambil dan dibuang ke tempat sampah ataupun dikembalikan ke tempatnya semula. Dia juga sempat mendapat gelar murid dengan gigi terbaik disekolahnya sekarang, Amanda Montessori di Bintaro, karena sejak kecil sampai sekarang tidak pernah makan permen dan setiap selesai makan apapun selalu disiplin untuk sikat gigi.

Ya, itulah Keenan. Membanggakan. Menakjubkan untuk sebagian orang.

Tapi buat saya Keenan tetap Keenan. Keenan yang sekarang sudah berusia 4 tahun lebih. Keenan yang rambutnya mirip almarhum
Heath Ledger. Keenan yang selalu mengganggu saya dengan memanggil ‘Ayah Marcell Hidup’ sambil tersenyum nakal. Keenan yang setiap malam selalu minta dipijat dengan minyak kayu putih merek Sidola ataupun dengan minyak Yu-Yee Cap Limau. Keenan yang selalu ingin menonton potongan film duet drum antara Phil Collins dan Chester Thompson yang saya rip dari DVD Genesis: Live At Wembley 1986 sambil bermain stik drum diatas drumpad. Keenan yang selalu takut mandi air dingin. Keenan yang selalu tidur jumpalitan sampai-sampai secara tak sadar menendang muka saya. Keenan yang selalu minta dibuatkan roti bakar dengan muisjes (baca: meses) Ceres menggunakan bread toaster berbentuk sapi imut bermerek Fagor (yang selalu dia katakan dengan: ‘Mau bikin Fajor!’). Keenan yang tergila-gila dengan lagu ‘Hide You’ dari Kosheen, ‘Straight Line’ dari Silverchair, ‘Eye in the Sky’ dari Alan Parsons Project, ‘On the Way Home’ dari Dewa Budjana serta kompilasi lagu-lagu The Beatles yang dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi kanak-kanak berjudul The Starbugs: Kids Singing Beatles. Keenan yang selalu kentut sembarangan dan sesudahnya bilang: ‘Permisi, mau kentuuut!’ walaupun rasanya sudah sangat terlambat untuk permisi. Keenan yang selalu menemani saya berlatih Taichi di Senayan dengan sepedanya. Keenan yang doyan makan tahu dan tempe di restoran sunda Sambara. Keenan yang selalu bilang ‘Mau pundung aja! Mau pulang kampung aja!’ (Pundung adalah bahasa Sunda. Artinya kesal, marah) kalau ditegur ketika dia dianggap nakal dan membantah. Keenan yang super cerewet dan bawel. Keenan yang selalu mengingatkan saya dengan bilang: ‘Pakai seatbelt, Ayaaah. Nanti ditangkep polisi.’ 

Ada seseorang yang tengah merindukan dia. Kangen berat. Mau mati.

Orang itu adalah saya.