Nasionalisme?

Saya bahagia sekali. Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 7 September 2009, saya telah menyelesaikan rekaman duet pertama saya dengan penyanyi solo wanita berbakat asal Malaysia, Dayang Nurfaizah di Kuala Lumpur, Malaysia. Proyek rekaman duet ini adalah proyek yang tertunda selama hampir 4 tahun dikarenakan masalah (basi) ‘birokrasi’ label. Kami menyanyikan sebuah lagu berjudul ‘Sayang’ yang diciptakan oleh seorang gitaris dan produser muda berbakat asal Malaysia, Omar Khan serta lirik yang ditulis oleh adiknya sendiri, Nuur Iman. Ditemani road manager saya dari Millionaires Club Management, Iraz Siregar serta dua sahabat saya Shaliza ‘Liza’ Kader Sultan (manajer Dayang Nurfaizah) dan Sharina Ahmad, dan dibantu Zain Almohdsar sang operator studio, kami berhasil menyelesaikan proses rekaman lagu itu dengan baik sekali.

Terima kasih sekali lagi dari hati yang paling dalam untuk Dayang, Liza, Sharina, Omar dan Zain atas kerendahan hati, keramah-tamahan, profesionalisme serta persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Selamat Hari Raya.

Ironis memang. Disaat dimana segelintir masyarakat (saya beranikan diri untuk mengatakan segelintir karena memang tidak semuanya) di negara saya tengah 'kebakaran jenggot' karena 'merasa' banyak ‘budaya’-nya dicuri, saya justru berkolaborasi. Banyak juga yang berkomentar atas keputusan saya karena merasa takut kerjasama kami suatu saat akan menjadi kontroversi. Saya tidak takut. Saya tidak terpengaruh. Peduli setan. Saya hanya melakukan suatu pekerjaan yang saya cintai dengan orang-orang yang juga saya cintai. Dan ini bukan sebuah bentuk tindakan yang kontra-nasionalis hanya karena saya melakukannya dengan orang Malaysia. Karena sekali lagi, tidak semua orang Malaysia berpikiran sempit. Dan tidak semua orang Indonesia kebakaran jenggot.

Ngomong-ngomong, apa sih sebenarnya nasionalisme?

Apakah dengan sok-sokan melakukan aksi '
sweeping' warga negara Malaysia yang dilakukan di daerah Menteng, Jakarta Pusat yang (memalukannya) ternyata hasilnya nihil karena tidak ada satupun orang Malaysia yang lewat? Apakah dengan berorasi sambil menyebarkan spanduk dan pamflet bertuliskan 'Malaysia=Malingsia'? Apakah dengan sok-sokan bakar-bakar bendera Malaysia (sedangkan di Malaysia tidak ada satupun yang melakukan hal yang sama) tanpa pernah memikirkan efeknya pada hubungan bilateral yang sudah terjalin baik sejak dulu? Apakah preman-preman (ya, PREMAN, karena mereka bukan aparat berwenang serta tidak punya dasar hukum yang kuat dan valid untuk melakukan sweeping sehingga lebih mirip tukang palak di terminal bis) kampungan yang melakukan sweeping ini memikirkan bahwa ada jutaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia dan tentunya ini akan berakibat buruk pada para pekerja Indonesia ini jika mereka dipulangkan? Karena saya yakin, preman-preman kampungan dan pahlawan-pahlawan pembela 'kebetulan' ini tentunya tidak akan pernah sanggup memberi makan (apalagi memberikan lapangan pekerjaan) kepada para TKI ini jika mereka dipulangkan. Ya, merekalah justru 'teroris-teroris' yang merusak citra bangsanya sendiri, yang membuat orang luar malas dan takut untuk datang ke Indonesia, yang membuat konser-konser musik mancanegara batal karena Travel Warning, yang membuat rupiah kita melemah, yang menyengsarakan rakyatnya sendiri.

Lebih sedihnya lagi, banyak aksi seperti ini dilakukan dan dimotori oleh 'mahasiswa' yang 'katanya' merupakan generasi intelek, generasi terdidik. Teman-teman mahasiswa, saya mohon dengan sangat: tolong jangan sampai kebablasan. Jangan keblinger. Jangan hanya berbekal pengalaman karena banyaknya revolusi fisik didalam sejarah negara kita yang terjadi karena dimotori mahasiswa, lalu kemudian menganggap bahwa segala-galanya harus diselesaikan dengan demonstrasi, dengan protes-protes fisik sampai konflik dengan aparat keamanan dan berakhir dengan tindakan-tindakan vandalis. Apapun itu, tindakan demonstrasi, protes-protes fisik dan (apalagi) tindakan-tindakan vandalis tetaplah menganggu stabilitas. Setiap manusia punya hak untuk hidup aman, tenteram dan tenang, teman-teman. Pikirkan mereka-mereka yang juga punya kepentingan yang lain diluar kalian, karena demonstrasi-demonstrasi ini juga seringkali menimbulkan kemacetan lalu lintas dan keresahan sehingga mengganggu banyak sekali kepentingan. Lakukanlah dengan sadar dan bijak, prosedural dan tertata. Semua ada jalurnya, aturannya. Jangan hanya rusuh dan emosional saja. Jangan sampai kata 'intelek' yang menjadi label mahasiswa kehilangan 'in' menjadi tinggal 'telek'-nya. Ingat, tindakan-tindakan seperti ini TIDAK SELAMANYA efektif. Kalau kemarin-kemarin mungkin dirasa efektif, belum tentu hari ini. Jadi
please, hati-hatilah, teman-teman mahasiswa. Karena reformasi yang keblinger, sesuci apapun tujuannya, akan tetap menyengsarakan banyak orang. Jangan perburuk lagi keadaan ini. Kasihan rakyat kita. Saya mohon.

Setiap orang punya cara pandang. Berbeda-beda memang. Tapi bukanlah cara pandang sempit dan terbelakang yang hanya berujung pada penderitaan.

Jangan reaktif. Pikir baik-baik sebelum bertindak. Jangan seperti anak kecil yang merengek dan langsung marah-marah, banting-banting barang ketika mainannya diambil. Padahal kalau mainannya tidak disentuh, anak itu juga lupa kalau dia pernah punya mainan. Jangankan diurus, diingatpun tidak. Saya merasa banyak dari kita yang bersikap seperti itu saat ini. Berlebihan dalam menanggapi apapun termasuk problematika budaya ini. Santai saja, tapi tetap waspada,
aware. Sikap emosional malah seringkali membuat kita kehilangan kewaspadaan kita, keajegan kita. Tetap terima kenyataan bahwa kita ini masih serumpun dan sama akar budayanya, suka atau nggak suka, enak nggak enak. Apresiatif.

Kemarin saya mendapat kesempatan berbicara dengan seorang musisi dan pencipta lagu senior yang juga seorang pakar Hak Cipta (
Intelectual Property Right) yang bernama James F. Sundah. Beliaulah pencipta lagu legendaris 'Lilin-lilin Kecil' yang pernah dinyanyikan oleh almarhum Chrisye dulu. Beliau berkata pada saya bahwa sekarang ini tengah terjadi perdebatan apakah Folklore atau Budaya Asli akan tetap dimasukkan kedalam kriteria Hak Cipta atau tidak. Selama ini Folklore sudah termasuk dalam perlindungan Hak Cipta dan kenyataan ini sebenarnya menyulitkan dalam pembuktian. Mengapa? Karena cukup sulit ternyata untuk menentukan originalitas budaya asli disebabkan banyaknya percampuran budaya. Banyak sekali kemiripan budaya kita bukan hanya dengan budaya bangsa serumpun saja tapi juga dengan bangsa-bangsa lain. Pulau-pulau yang tadinya bersatu, namun karena peristiwa alam, terpecah-pecah menjadi 13.000 lebih pulau. Ditambah lagi dengan proses fusi ataupun asimilasi budaya sebagai konsekuensi perdagangan dan persinggahan antar bangsa. Indonesia, karena memang sejak dulu sudah menjadi tempat persinggahan dan perdagangan antar bangsa, akhirnya memiliki 'budaya asli' yang kaya akan percampuran dengan berbagai macam budaya luar. Ada percampuran dengan budaya Cina, Arab, Portugis, dan banyak lagi. Dan percampuran itu bisa terlihat jelas dalam berbagai produk seni musik, tari, beladiri, bahasa dan sebagainya.

Makin sulit akhirnya menemukan dan mengklaim mana budaya asli kita dan mana yang bukan. Perbedaannya semakin tipis. Dan, arsip sejarah yang kita milikipun ternyata masih kalah lengkap dibandingkan arsip sejarah Indonesia yang tersimpan di Negeri Belanda, mantan 'penjajah' kita. Kita hanya punya data sekitar 40 persen dari data asli yang kesemuanya justru dimiliki dan tersimpan di negara lain. Sedih. Ternyata kita masih banyak belum tahu tentang diri kita. Lebih banyak tahu orang lain dibanding kita sendiri.

Beliaupun mengingatkan bahwa negara kita adalah negara hukum. Oleh karena itu kasus Tari Pendet (yang orang Indonesia sendiri kebanyakan tahunya Tari Bali, bukan Tari Pendet), kasus Batik, kasus Reog, semuanya adalah masalah hukum Hak Cipta karena kesemuanya termasuk
Folklore. Jadi, kasih kesempatan hukum yang menyelesaikannya. Kasih kesempatan untuk dilakukannya perundingan antar negara dengan jalan damai. Jangan kebanyakan protes dan bilang bahwa kondisi hukum kita sudah lemah dan rusak kalau pada kenyataannya saja kita sendiri masih meremehkan bahkan melanggar hukum, tidak menghormati. Masalah hukum adalah masalah kita bersama, bukan melulu masalah pemerintah. Beri kesempatan bagi hukum untuk bisa efektif ditegakkan. Bantu negara ini memperbaiki citra sebagai negara hukum yang bermartabat. Kalau memang pemerintah dinilai lamban dalam menyelesaikan masalah ini, tolong, pakailah cara-cara yang terhormat. Tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang berbudaya dan intelek. Jangan hanya sekedar bangga bahwa kita punya banyak sekali budaya tanpa pernah mengerti dan mengakar. Sayapun setuju dan mengakui, walaupun nasionalisme hanyalah sebuah konsep, kita tetap memerlukannya. Penting untuk jati diri kita, supaya kita tidak dianggap remeh dan diinjak-injak. Tapi bukanlah jenis nasionalisme yang terbelakang, nasionalisme kosong yang kerap terjadi seperti sekarang ini. Bukan dengan melakukan tindakan-tindakan yang justru mempermalukan diri kita, bangsa kita sendiri. Kalau kita tidak ingin diremehkan dan diinjak-injak, jangan melakukan tindakan-tindakan yang justru meremehkan dan merendahkan kita, merusak jati diri kita.

Satu lagi: JANGAN MUDAH terpengaruh begitu saja pada media jurnalisme. Saya mampu katakan bahwa tidak semua media jurnalisme mampu dengan bijak dan seimbang dalam pemberitaan. Kitalah yang harus sadar dan cermat. Mana yang benar-benar berita, mana yang sekedar provokasi, ngompor-ngomporin, manas-manasin. Banyak media jurnalisme yang seharusnya memberikan informasi yang edukatif,  yang seharusnya melaksanakan sistem 
check and balance, malah menjadi menurun kualitas pemberitaannya karena terpengaruh oleh 'mental' media jurnalisme hiburan (baca: infotainmen) yang kini lebih sarat unsur-unsur komersil dan hiburan ketimbang edukasinya. Hati-hati, banyak menonton infotainmen bukan berarti mengubah mental kita menjadi berlebihan, dramatis dan 'lebay', kaan? Tetap gunakan nalar dan hati. Kesadaran tetap nomor satu agar kita tidak mudah terprovokasi.

Buat para pengguna laman f
acebook, bijaksanalah! Please, nggak usah buat grup-grup provokator di facebook atau nyebar-nyebarin thread yang isinya provokasi untuk melakukan 'ganyang-ganyangan'. Nggak usah nyebar-nyebarin kebencian. Kalo lo benci itu masalah lo sendiri, nggak usah ngajak-ngajak. Nggak semua orang harus ikut-ikutan benci. Gua nggak tertarik, prén. Sumpah. Jijay.

Oh ya, satu lagi bahan introspeksi: selain pembajakan yang memang menjadi tren di negeri ini, banyak iklan produk di TV yang menggunakan lagu-lagu tema yang mirip bahkan cenderung 'mencuri' dari lagu-lagu yang beredar diluar negeri. Bahkan ada satu produk makanan instan yang terang-terangan mengambil lagu dari sebuah grup musik dalam negeri kita (hiks!) tanpa pernah meminta ijin (apalagi membayar royalti) kepada grup musik penciptanya. Ya, saya tahu kalau mendapatkan
proper licensing dari sebuah lagu tentunya akan membuat biaya produksi membengkak karena harus bayar royalti. Tapi tolong dipikirkan: royalti adalah HAK, boss. Hak atas jerih payah dan kerja keras kita, para musisi. Sama-sama cari makan kita, boss. Masih pada kurang puas juga? Ingat, menjiplak, ya tetap menjiplak. Mencuri ya tetap mencuri. Tidak hanya dihitung berdasarkan berapa not yang kita ambil, berapa nada yang kita jiplak, tapi juga substansi lagunya. Dengan adanya unsur kemiripan yang menimbulkan kesan atau mengingatkan seseorang akan lagu tertentu, sebenarnya sudah mampu dijadikan dasar untuk menggugat pelanggaran hukum ini.

Well, sebenernya nggak perlu marah-marah berlebihan ketika budaya kita, karya kita dicuri orang lain karena kitapun ternyata masih belum mampu menghargai hak intelektual orang lain bahkan hak intelektual bangsa sendiri. Kita masih menjiplak, membajak, mencuri karya bangsa sendiri, mengeruk keuntungan finansial daripadanya. Kita menikmati hasil jiplakan, bajakan dan curian beserta turunan-turunannya. Jangan berbicara nasionalisme secara berlebihan dulu, deh. Nggak perlu menjadi manusia-manusia yang ultra-nasionalis kalo ternyata yang kita bela mati-matian adalah bangsa yang kebanyakan orang-orangnya masih berprofesi sebagai pembajak-pembajak profesional. 
PERBAIKI DIRI LEBIH DULU, nggak usah 'lebay' :)

Introspeksilah, mungkin ini buah dari karma yang kita semua lakukan.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Terima kasih semesta atas perjalanan hari ini.

Terima kasih, oom James! :)

"Nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan." - koil -



Puasa

Bulan puasa. Toko-toko yang mendadak menjadi cepat sekali tutup. Pengemis dan pengamen (baca: orang-orang yang tidak terlalu ingin untuk bekerja keras) makin banyak berkeliaran dijalan-jalan. Pengendara kendaraan bermotor yang mendadak jauh lebih beringas dan agak sedikit lupa aturan ketika waktu mendekati pukul 6 sore. Kemacetan lalu lintas yang lebih kompleks. Konsentrasi kerja yang menurun. Mobilitas yang melambat. Emosional dan sensitif. Banyak excuses yang tidak perlu. 

Lepas dari segala fenomena diatas tetaplah bulan puasa adalah bulan penuh berkah. Mengapa penuh berkah? Karena dibulan ini kita diberi kesempatan ‘lebih’ untuk introspeksi. Ada yang komentar: 'Lho, bukannya introspeksi itu harusnya setiap hari? Nggak usah nunggu bulan puasa kaliii?' Saya jawab: Iyaa, makanya saya bilang ‘lebih’ karena dibulan ini kita (ceritanya) difokuskan, diniatkan lebih serius lagi :)

Dalam pendapat saya bulan puasa adalah bulan dimana kita semua (saya tekankan: SEMUA) belajar untuk introspeksi, belajar untuk apresiatif yang akhirnya menjadikan kita bijaksana dan seimbang. Momen ini penting bukan hanya untuk saudara-saudara saya yang muslim tapi juga saya beserta saudara-saudara saya yang non-muslim. Kita latihan bersama-sama sebenarnya.

Berpuasa atau tidak berpuasa kedua-duanya adalah sama-sama pilihan bebas yang harus dihormati dan dihargai.

Yang berpuasa menyadari bahwa yang dikuatkan dalam menjalankan ibadah puasa adalah iman terhadap godaan serta keteguhan hati untuk menerima kenyataan bahwa banyak juga orang lain yang tidak berpuasa. Keteguhan hati untuk memberikan keleluasaan kepada orang lain untuk memilih jalannya masing-masing, apakah mau berpuasa atau tidak berpuasa. Agak menjadi lucu memang ketika orang yang tidak berpuasa harus menerima ‘teguran’ dari orang-orang yang berpuasa ketika kedapatan sedang makan dibulan puasa. ‘Hargain dong orang puasa! Jangan makan depan orang puasa!’ begitu protesnya. Lucu.

Yang tidak berpuasa juga menyadari bahwa banyak yang memilih untuk berpuasa. Apresiatif. Bukan toleransi saja. Mengertilah lebih. Bahwa pada kenyataannya akan banyak orang menjadi tidak terlalu kreatif, menjadi emosional dan sensitif karena menahan lapar dan lelah ketika berpuasa. Kata-kata seperti: ‘Lo yang puasa ya masalah lo! Siapa juga yang nyuruh? Kalo nggak kuat ya jangan puasa!’ tidak perlu hadir dalam kenyataan. Inilah momen melatih kesabaran. Jangan mengharap lebih. Harapan berlebihan hanya akan menimbulkan penderitaan dan konflik-konflik yang tidak perlu.

Introspeksi, sesuai namanya, adalah proses kedalam dan bukan keluar. Jadi tidak pada tempatnya kalau kita menyalahkan segala sesuatu yang berada diluar diri kita. Kontra indikatif.

Kalau iman mau dikuatkan, SEBENARNYA bukan restoran atau diskotiknya yang ditutup, bukan alkohol yang dimusnahkan, bukan pelacuran atau perjudian yang dibubarkan, tapi IMAN (baca: kesadarannya, mentalitasnya) yang harus dilatih. Contoh paling ekstrim: kenapa pelacuran dan perjudian masih ada? Jawabannya sederhana: Hukum Ekonomi.
Supply and Demand. Pelacuran dan perjudian masih ada karena masih ada demand, masih ada permintaan, masih banyak fans-nya. Supply akan berhenti dengan sendirinya kalau demand makin sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.

Bagaimana cara mengurangi atau bahkan ‘mematikan’
demand-demand ‘ajaib’ ini? Yang paling efektif adalah latihan kesadaran. Keteguhan iman-nya yang dikuatkan, mentalitasnya yang dikokohkan, pola pikirnya yang dibersihkan. Bukan godaannya yang dihancurkan dan dihilangkan. Kalau setiap kali kita ingin meneguhkan iman dengan cara menghancurkan segala godaan lalu apa guna dan manfaat latihan meneguhkan iman? Dimana makna latihannya? Nggak ada.

Ada yang protes: ‘Tapi dengan menutup pelacuran dan perjudian kan juga salah satu upaya menutup kemungkinan suatu ‘dosa’ dibuat? Jadi nggak salah dong kalo kita nutup pelacuran dan perjudian?’ atau pernyataan ‘Melacur itu bukan pekerjaan!’ (dengan mengenyampingkan fakta dan menyangkal bahwa melacur sebagai mata pencaharian sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, lepas dari halal atau tidaknya). Iya bener kok. Nggak salah. Tapi tetaplah berhati-hati dan jangan merasa sudah menang. Bukan hanya dengan membangun tempat-tempat ibadah di sekitar pelacuran dan berharap semua pelacur kemudian bertobat. Atau dengan memberikan mereka keterampilan bekerja dan berharap mereka akan meninggalkan pelacuran dan memulai kerja yang lebih halal. Tidak semudah itu, kawan. Karena dengan menutup pelacuran dan perjudian tentunya juga menimbulkan konsekuensi lain yang tidak kalah mengerikannya bahkan lebih mengerikan dari pelacuran dan perjudian itu sendiri. Faktanya justru pelacuran dan perjudian malahan menjadi makin liar tidak terkendali, penyakit karena hubungan seksual merajalela dan semakin sulit dikontrol, banyak orang yang hidupnya dan keluarganya hancur berantakan karena pelacuran dan perjudian.

Masalah-masalah ini sekali lagi erat hubungannya dengan keteguhan iman kita, mentalitas kita. Kasarnya, kalau memang mentalnya suka melacur, apapun pasti akan dilacurkan, bahkan anak sendiripun kalau perlu dijual dan diperkosa. Kalau mentalnya memang sudah doyan judi, apapun bisa dijudikan. Kalau mentalnya memang doyan mabuk, alkohol dari apotek dicampur dengan 
soft drinks-pun pasti akan memuaskan keinginan untuk mabuk. Jadi kembali lagi: ini masalah MENTAL. Tidak lain dan tidak bukan, bukan?

Introspeksi dan latihan kesadaran sama-sama yuk. Jangan kebanyakan nyalahin orang atau nyalahin keadaan diluar diri kita. Kuatkan mental kita, iman kita, kesadaran kita.

Sekali lagi, bulan puasa adalah bulan penuh berkah. Puasalah dengan tulus. Tanpa pamrih. Anggaplah pahala itu tidak pernah ada, jadi kita bisa mengerti arti ketulusan. Puasa yang bukan hanya mengharapkan pahala saja. Tidak mengharapkan kembali. Jangan takut melewati kegagalan karena masih ada sebelas bulan yang lain untuk terus berlatih menjadi lebih baik. Selamat menunaikan ibadah puasa, saudara-saudaraku.

Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.

Semoga semua mahluk berbahagia

P.S. Saya pernah mendengar pengakuan polos seorang tukang cukur ketika saya sedang bercukur. Dia bilang kalau dia sengaja tidak tidur malam dan langsung menyambung dengan sahur. Setelahnya dia bisa tidur dan bangun sekitar jam 3 siang sambil menunggu buka puasa. Enak banget puasanya. Menurut anda gimana? :)



Mohon Maaf

Pagi ini, saya menerima sebuah e-mail dari seorang ibu yang merasa keberatan dengan pernyataan saya di sebuah advertorial pengguna BlackBerry yang disponsori sebuah provider telekomunikasi. Dia keberatan karena saya menggunakan kata ‘autis’ didalam pernyataan saya, yang menurutnya akan menimbulkan konotasi 'kurang positif' terhadap kondisi autis dan akan menyinggung perasaan para penyandangnya. Ibu ini adalah ibu dari seorang putri penyandang autis berumur 3 tahun.

Terima kasih. Saya sadar betul apa yang saya buat dan nyatakan didalam advertorial itu. Saya tidak akan berkelit. Saya telah keliru dan saya menerima kekeliruan itu sebagai pelajaran berharga. Saya tidak akan melakukan pembelaan apapun, walau di satu sisi saya juga sadar betul bahwa motivasi saya saat membuat pernyataan itu bukan untuk menghina atau memojokkan siapapun. Sama sekali bukan.

Oleh karena itu, saya atas nama pribadi MOHON MAAF yang sedalam-dalamnya atas kekeliruan ini kepada siapapun pihak yang merasa tersinggung dengan pernyataan saya, khususnya para penyandang gejala autis, Yayasan Autisme Indonesia dan Organisasi Putera Kembara.

Saya akan berusaha mensosialisasikan dan mengingatkan hal ini kepada siapapun agar tidak terulang kembali hal yang sama karena bagaimanapun juga hal menggunakan kata ‘autis’ dikalangan pengguna BlackBerry (bahkan juga sudah mulai digunakan oleh kalangan pengguna non-BlackBerry) sudah menjadi semacam ‘trend’ yang tentunya sudah merebak kemana-mana dan sulit untuk dikontrol. Saya akan usahakan yang terbaik. 

Sekali lagi, ini sebuah pelajaran berharga buat saya pribadi dan tentunya buat anda semua yang membaca blog saya, untuk kemudian tidak mengulangi hal yang sama. 

Terima kasih atas e-mail-nya, Mbak Wulan.

Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini

Semoga semua mahluk berbahagia.

Yuk, Mareeee!

Saya sempat dibuat kesal oleh seseorang yang mengirimkan pesan singkat (SMS) lewat sebuah nomor tak dikenal yang isinya adalah sebuah ayat yang diambil dari sebuah kitab suci, yang saya tahu sekali bahwa ayat ini selalu dijadikan 'senjata pamungkas' bagi penganut agama yang bersangkutan untuk menghina agama lain, menganggap agama lain tidak benar, tidak suci dan tidak mampu untuk menyelamatkan. Ya, sebuah ayat yang mengatakan bahwa kalau kita tidak mempercayai atau tidak melalui nabi ini, juru selamat itu, tuhan ini, tuhan itu, kita tidak akan pernah selamat. 

Yeah, roiiight!

Entah mengapa, biasanya saya tahan dan santai-santai saja terhadap orang-orang kurang kerjaan yang sok suci ini. Kali itu, entah mengapa, saya tersinggung berat. Mungkin karena lagi lelah seharian. Dan saya rasa itu wajar. Namanya juga warga, kaaan? :) Dari banyak SMS yang selalunya saya diamkan, pasti ada satu atau dua SMS yang akhirnya menyinggung saya. Entah imbalan apa yang dia dapatkan dari orang tuanya, pemuka agamanya, dari nabinya, bahkan dari tuhannya kalau dia berhasil membawa saya kembali ke jalan yang ‘benar’ (menurutnya). Tak pernah berhenti dan lelah untuk 'menjaring' umat sebanyak-banyaknya, bahkan kalau perlu menyakiti orang lain, ‘menipu’ orang lain supaya berpindah keyakinan dan masuk ke agamanya. Kalau perlu sampai bunuh-bunuhan. Perang suci. Entah surga jenis apa yang mau dia kejar. Entah pahala yang bagaimana yang mau dia reguk. Dan entah di neraka mana dia ingin menceburkan saya.

Let me say this straightly and strictly to whoever you are that had sent me those unimportant SMSes: GET A LIFE, man!

 Kalau kamu merasa kamu yakin dengan ayat itu atau apapun yang kamu yakini tentang kebenaran (yang sayangnya kebenaranmu sendiri), berhentilah memaksa orang lain untuk mengikuti apapun yang kamu yakini. Because for me, it’s your choice. Not mine. And unfortunately (again, it's for you), I HAVE already my own choice. 

Saya bukan orang yang suka diberi perhatian oleh orang yang tidak tahu dan tidak mengenal siapa saya sebenarnya. Dan, mengirimi saya ayat-ayat supaya saya pindah agama bukanlah bentuk  perhatian. Sok tahu lebih tepatnya.
Anda salah orang. Anda salah korban. 

Semakin kamu mengajak-ngajak, memaksa-maksa orang lain untuk ikut serta, terlihat jelas bahwa kamu TIDAK YAKIN dengan apa yang kamu yakini. Kenapa kamu harus takut kalau saya tidak percaya dengan apa yang kamu yakini? Sebegitu pentingnyakah saya buat kamu sampai kamu harus membuang-buang waktu, membuang-buang pulsa sekaligus juga sesudahnya harus kena saya maki? Sebegitu takutnyakah kamu kehilangan saya, satu dari sekian miliar umat yang sama denganmu yang kemudian berpindah ‘aliran’ hanya karena lebih bisa menentukan sikapnya sendiri? Bukankah agama dan keyakinan itu sifatnya pribadi? Atau, kamu takut merasa sendirian kalau ternyata apa yang kamu yakini itu ternyata tidak sepenuhnya benar? So if let’s say: kalau ternyata surga atau neraka, atau apapun kebenaran-kebenaran yang kamu yakini itu ternyata (misalnya) tidak ada, dan akhirnya kamu merasa tertipu dan merasa tolol karena terjebak, terus kamu mau mengajak saya ikut serta dalam ketertipuan dan keterjebakan yang kamu alami, begitu? 

Giliran ketipu aja ngajak-ngajak. Coba kalo nggak ketipu, boro-boro inget. Dasar lo! Hehe! Peace, yo! :)

Tapi jujur, kadang saya kagum sama orang seperti kamu karena pasti minimal kamu pernah mati (atau mati suri) karena bisa dengan begitu percaya dirinya berbicara tentang sesuatu yang hanya bisa dialami dan dirasakan ketika kita sudah mati. Surga dan neraka, sekali lagi menurut yang kamu yakini, ada setelah kita mati, bukan?

Udahlaah. Masih banyak hal penting lain yang harus lo pikirin. Hari gini lo masih aja mikirin gimana caranya nyari umat. For human's sake, wake up!

Mendingan lo pikirin tentang PEMANASAN GLOBAL dan gimana caranya supaya kita bisa kembali lagi bersahabat ama bumi kita, rumah kita yang selama ini hanya selalu jadi tempat sampah kita. Iklim sekarang udah bener-bener ‘aneh’ karena pemanasan global. Dan itu nyata, jooo. Lebih nyata daripada surga atau neraka yang lo gembar-gemborin itu. Dan pemanasan global jelas-jelas bukan hanya disebabkan oleh emisi gas buang tapi lebih karena terlalu banyaknya peternakan di bumi ini (jumlah sapi di dunia sekarang lebih dari 1,3 miliar ekor dan itu baru sapi doang) karena kita-kita yang masih nggak sadar-sadar ngebunuhin binatang hanya karena nggak bisa nahan mata dan lidah. Satu sapi doang setiap harinya ngehasilin sekitar 12 liter gas Metana atau Metanol (Methane Gas) sebagai hasil dari proses ekskresinya yang terlepaskan ke udara bebas. Dan gas Metana atau Metanol ini panasnya 25 kali lebih panas dari Karbonmonoksida (CO) yang udah jelas-jelas bikin lapisan Ozone kita bocor. 

Mendingan lo pikirin gimana caranya untuk lo bisa jadi VEGETARIAN atau minimal ngurangin konsumsi daging seperti yang udah jadi peringatan super keras oleh IPCC (International Panel for Climate Change). 

Mendingan lo pikirin gimana caranya buat bikin taman untuk PENGHIJAUAN atau minimal nanem pohon aja deh nggak usah jauh-jauh. 

Mendingan lo pikirin gimana caranya buat HEMAT ENERGI. Salut gua buat mereka-mereka yang madamin listrik selama 60 menit dari pukul 20.30 sampai 21.30 pada momen Earth Hour di hari Sabtu, 28 Maret 2009 yang lalu, diseluruh jagad ini. Moga-moga kita bisa terus menjaga bumi kita, rumah kita, seperti ini ya, guys! Let's continue this holy journey! Love you all!

Mendingan lo pikirin gimana caranya supaya jangan sampai bencana sekelas Tragedi Situ Gintung terjadi lagi karena itu JELAS-JELAS disebabkan oleh kelalaian manusia, bukan alam. Nyalahin alam mulu aaah, basi. Nggak usah jauh-jauh mikirin konflik Israel-Palestina deeeh kalo konflik-konflik disekeliling kita (atau lebih parah: konflik internal lo sendiri, ketakutan lo sendiri) yang jelas-jelas ada didepan mata aja lo masih belon bisa handle. Kejauhan, jooo.

Mendingan lo pikirin gimana caranya kalo lo ngerokok, JANGAN ngerokok diruangan ber-AC (Air Conditioned Room). Pikirin orang laen yang nggak ngerokok jugalaaah. Lagian orang gemblung juga tau kalo diruangan ber-AC, apalagi ada ANAK-ANAK KECIL, udah pasti nggak boleh ngerokok. Tinggal masalah lo pake otak ama hati lo aja. Nggak perlu sampe Pemda yang harus turun tangan. Nggak perlu sampe tempel-tempel pengumuman dimana-mana. Nahan diri dikit nggak ada salahnya.

Atau yang paling gampang: JANGAN BUANG SAMPAH SEENAKNYA. Jangan cuman untuk sok-sokan, keren-kerenan bikin acara-acara panggung musik buat kampanye anti pemanasan global tapi tetep aja disekeliling panggung banyak sampah betebaran dimana-mana. Gua pernah manggung di acara kayak ginian dan langsung gua sindir panitianya dari atas panggung. Malu-maluin, nggak ada keren-kerennya. Sumpah. Pertanyaan bodoh gua: lo sebenernya ngerti nggak sih lo kampanye-kampanye itu buat apa? Huh? Bukan cuman rame-ramean dan seru-seruan aja, lho. Tanggung jawabnya gede.

Nah, kembali lagi, kalo lo udah bisa kayak gitu, udah bisa nahan diri untuk hal-hal yang seringkali lo anggap remeh dan sepele, atau latihan nggak makan daging dulu setaun aja, bolehlah lo ajak-ajak gua, pengaruh-pengaruhin gua. Ok, beybeeh? 

Yuk, mareeee!

Semoga semua mahluk berbahagia.

Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.


Limit

Menikmati hidup tanpa pertanyaan adalah hadiah yang paling membahagiakan. Seperti menikmati terbitnya matahari di ufuk timur dan terbenamnya di ufuk barat. Seperti ketika orang-orang sudah tidak perlu lagi mempertanyakan banyak hal yang tidak penting. Yang tertinggal hanyalah kesadaran untuk saling menerima dan menghargai. Kesadaran untuk menerima bahwa apa yang diyakininya sebagai kebenaran adalah sesuatu yang hanya bisa dinikmatinya sendiri. Kesadaran bahwa kebenaran yang diyakininya bukan untuk dipaksakan kepada yang lain karena merasa (sekali lagi: merasa) ‘kebenaran’ yang lain adalah palsu. Ketika kebenaran dipaksakan, tidak ada lagi yang namanya pilihan termasuk kebebasan untuk memilih. Manusia yang tidak mampu memilih bukanlah manusia. Seperti kata pepatah kerbau yang selalu siap dicocok hidungnya

Ketika ada pihak yang mengkritik bahkan mencerca keputusan apapun yang saya ambil, saya hanya diam. Mengapa? Karena saya tahu, para pengkritik ini sebenarnya membutuhkan jawaban saya. Dengan membuat saya gerah, mereka berharap adanya reaksi. Harapan bahwa akan keluar jawaban dari mulut saya. Ketika saya diam, justru mereka semua yang merasa kegerahan. Kritikan semakin pedas, semakin meyakitkan dan (sayangnya) semakin ngawur. Ngawurnya kritikan mereka ini bahkan mampu mengaburkan kenyataan siapa yang seharusnya mendapatkan kritikan. Saya yang telah dianggap berbuat dosa oleh mereka yang juga telah tanpa sadar berbuat dosa dengan menyakiti hati saya. Asumsi-asumsi yang perlahan membunuh saya. Saya, yang seringkali mereka anggap sebagai setan, sedang dibombardir dengan kritikan menyakitkan oleh sekawanan ‘setan berpengalaman’ yang selalu melakukan dosa langganan: merasa suci. Inilah bentuk perhatian sesama setan. Sesama setan harus saling menasehati. Saya sadar saya adalah setan yang kurang pengalaman. Butuh wejangan dari setan yang ‘lebih berpengalaman’ untuk merasa suci.

Jujur, semua ini menjadi tidak ada bedanya dengan perang yang didalamnya sudah pasti terdapat unsur pembunuhan keji namun dilakukan atas nama ‘kebenaran’. Ya, ini adalah perang suci kata para pelakunya dengan penuh percaya diri. Suci karena dianggap membela kebenaran dan memerangi kebathilan. Yang membuat saya tertawa adalah: kalau perang saja sudah dianggap suci maka bayangkan yang tidak sucinya. Mengerikan. Tidak ada yang lebih primitif daripada menganggap perang, pembunuhan keji sebagai sesuatu yang suci.

Kebenaran, apalagi Cinta, tidak memerlukan pembelaan. Makanya saya diam. Dan sekali lagi inipun kebenaran yang saya anut. Jangan ambil pusing dengan kebenaran saya. Nikmati kebenaran anda sendiri karena saya juga tidak ambil pusing dengan kebenaran anda.

Oh, ya. Hampir lupa. Mau curhat sedikit.

Masih ingat kolom ShoutBox yang pernah bertengger dengan gagah beraninya disebelah kanan blog saya? Kolom yang awalnya sengaja saya biarkan terbuka bagi siapapun yang ingin berekspresi, berkomentar, berteriak, mengkritik? Sekarang sudah tidak ada lagi. Demikian juga kolom ShoutBox yang ada di blog istri saya. Ya, saya telah memutuskan untuk menutupnya. Bahkan saya dengan tegas memerintahkan istri saya untuk menutup kolom ShoutBox di blog-nya. 

Mohon maaf atas keputusan ini, saudara-saudara.

Awalnya saya merasa bahwa membiarkan orang untuk berekspresi adalah suatu keputusan yang bijak. Memang nggak ada salahnya sebenernya, kan? Tapi ya itu tadi: saya hanya manusia, saya ternyata punya limit. Dan saatnya memberikan sedikit kesempatan untuk diri saya menghormati limit itu. Karena kalau bukan saya yang menghormati limit itu lantas siapa lagi, saudara-saudara? Bukan begitu?

Kenapa saya tutup? Karena sudah terlalu banyak didominasi oleh komentar yang keterlaluan, kelewatan, kebablasan, keblinger. Sok benar, sok tahu, sok keren, sok suci. Saya sampai geleng-geleng kepala sendiri: kok ada orang-orang yang seperti ini kualitasnya, yang bertindak hanya berdasarkan naluri untuk menang, naluri bertahan atas kebenarannya sendiri, tanpa logika dan hati nurani. Merasa paling benar sehingga TIDAK PERLU menghormati orang lain, menghormati PROSES orang lain. Memuakkan sekali, saudara-saudara. Membuat saya ingin muntah. Mohon maaf. 

Tapi, ya sudahlah. Toh kolom di blog saya itu sudah saya tutup. Saya tidak perlu merasa mual lagi.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Terima kasih semesta atas perjalanan hari ini.

P.S. Saya mengutip komentar Dana, salah seorang yang memberikan komentarnya di posting saya sebelumnya. Lucu juga untuk direnungkan bersama. Dia tulis sebagai berikut: 
"Why God create differences when he has the power to make everything the same ?"
Iya, benar. Kenapa, yaaa? :)