Limit

Menikmati hidup tanpa pertanyaan adalah hadiah yang paling membahagiakan. Seperti menikmati terbitnya matahari di ufuk timur dan terbenamnya di ufuk barat. Seperti ketika orang-orang sudah tidak perlu lagi mempertanyakan banyak hal yang tidak penting. Yang tertinggal hanyalah kesadaran untuk saling menerima dan menghargai. Kesadaran untuk menerima bahwa apa yang diyakininya sebagai kebenaran adalah sesuatu yang hanya bisa dinikmatinya sendiri. Kesadaran bahwa kebenaran yang diyakininya bukan untuk dipaksakan kepada yang lain karena merasa (sekali lagi: merasa) ‘kebenaran’ yang lain adalah palsu. Ketika kebenaran dipaksakan, tidak ada lagi yang namanya pilihan termasuk kebebasan untuk memilih. Manusia yang tidak mampu memilih bukanlah manusia. Seperti kata pepatah kerbau yang selalu siap dicocok hidungnya

Ketika ada pihak yang mengkritik bahkan mencerca keputusan apapun yang saya ambil, saya hanya diam. Mengapa? Karena saya tahu, para pengkritik ini sebenarnya membutuhkan jawaban saya. Dengan membuat saya gerah, mereka berharap adanya reaksi. Harapan bahwa akan keluar jawaban dari mulut saya. Ketika saya diam, justru mereka semua yang merasa kegerahan. Kritikan semakin pedas, semakin meyakitkan dan (sayangnya) semakin ngawur. Ngawurnya kritikan mereka ini bahkan mampu mengaburkan kenyataan siapa yang seharusnya mendapatkan kritikan. Saya yang telah dianggap berbuat dosa oleh mereka yang juga telah tanpa sadar berbuat dosa dengan menyakiti hati saya. Asumsi-asumsi yang perlahan membunuh saya. Saya, yang seringkali mereka anggap sebagai setan, sedang dibombardir dengan kritikan menyakitkan oleh sekawanan ‘setan berpengalaman’ yang selalu melakukan dosa langganan: merasa suci. Inilah bentuk perhatian sesama setan. Sesama setan harus saling menasehati. Saya sadar saya adalah setan yang kurang pengalaman. Butuh wejangan dari setan yang ‘lebih berpengalaman’ untuk merasa suci.

Jujur, semua ini menjadi tidak ada bedanya dengan perang yang didalamnya sudah pasti terdapat unsur pembunuhan keji namun dilakukan atas nama ‘kebenaran’. Ya, ini adalah perang suci kata para pelakunya dengan penuh percaya diri. Suci karena dianggap membela kebenaran dan memerangi kebathilan. Yang membuat saya tertawa adalah: kalau perang saja sudah dianggap suci maka bayangkan yang tidak sucinya. Mengerikan. Tidak ada yang lebih primitif daripada menganggap perang, pembunuhan keji sebagai sesuatu yang suci.

Kebenaran, apalagi Cinta, tidak memerlukan pembelaan. Makanya saya diam. Dan sekali lagi inipun kebenaran yang saya anut. Jangan ambil pusing dengan kebenaran saya. Nikmati kebenaran anda sendiri karena saya juga tidak ambil pusing dengan kebenaran anda.

Oh, ya. Hampir lupa. Mau curhat sedikit.

Masih ingat kolom ShoutBox yang pernah bertengger dengan gagah beraninya disebelah kanan blog saya? Kolom yang awalnya sengaja saya biarkan terbuka bagi siapapun yang ingin berekspresi, berkomentar, berteriak, mengkritik? Sekarang sudah tidak ada lagi. Demikian juga kolom ShoutBox yang ada di blog istri saya. Ya, saya telah memutuskan untuk menutupnya. Bahkan saya dengan tegas memerintahkan istri saya untuk menutup kolom ShoutBox di blog-nya. 

Mohon maaf atas keputusan ini, saudara-saudara.

Awalnya saya merasa bahwa membiarkan orang untuk berekspresi adalah suatu keputusan yang bijak. Memang nggak ada salahnya sebenernya, kan? Tapi ya itu tadi: saya hanya manusia, saya ternyata punya limit. Dan saatnya memberikan sedikit kesempatan untuk diri saya menghormati limit itu. Karena kalau bukan saya yang menghormati limit itu lantas siapa lagi, saudara-saudara? Bukan begitu?

Kenapa saya tutup? Karena sudah terlalu banyak didominasi oleh komentar yang keterlaluan, kelewatan, kebablasan, keblinger. Sok benar, sok tahu, sok keren, sok suci. Saya sampai geleng-geleng kepala sendiri: kok ada orang-orang yang seperti ini kualitasnya, yang bertindak hanya berdasarkan naluri untuk menang, naluri bertahan atas kebenarannya sendiri, tanpa logika dan hati nurani. Merasa paling benar sehingga TIDAK PERLU menghormati orang lain, menghormati PROSES orang lain. Memuakkan sekali, saudara-saudara. Membuat saya ingin muntah. Mohon maaf. 

Tapi, ya sudahlah. Toh kolom di blog saya itu sudah saya tutup. Saya tidak perlu merasa mual lagi.

Semoga semua mahluk berbahagia.

Terima kasih semesta atas perjalanan hari ini.

P.S. Saya mengutip komentar Dana, salah seorang yang memberikan komentarnya di posting saya sebelumnya. Lucu juga untuk direnungkan bersama. Dia tulis sebagai berikut: 
"Why God create differences when he has the power to make everything the same ?"
Iya, benar. Kenapa, yaaa? :)


39 comments:

Priscilla said...

wajar kalau ada pro dan kontra c, kak.. krn memang hidup selalu ada pro dan kontra nya, tapi gmn cara kita menyikapinya dengan bijaksana aja. toh yang tau kehidupan kita itu cuma kita sendiri. anggaplah anjing menggonggong kafila berlalu..
emank kl omong itu mudah c *peace*
tidak ada masukan lain selain itu c, just do what you want to do, just follow your heart..
GBU

bend said...

"Why God create differences when he has the power to make everything the same ?"

======

Bro..Thanks that GOD Dont use HIS power to create all things the same...If HE did..then this world will be in one tone...one color...so boring...

The problem is how we can appreciate and see the differences as beauty instead of problems...

I do Admire diferences in races, religions and culture...Think It..Feel It..It's so great...

And I think it is enaf lah to bother what people thinks about us... I am who I am..you are who you ar..we are who we are... kenapa seh harus berubah menjadi seorang pribadi yg merupakan penjelmaan dari ekpektasi2 semua orang?....we gonna lose the real us....

I am Who I am..why should I changed...ya emang the world\everything is changing (*Annica rite), but we dont have to push ourselves to change in order to get update with the world rite..but we can adjust ourselve... :) a little adjustment might be better than big change...

and rite..there must be a Limit of ajustment...

didut said...

sekali-kali komen ah hihihi~

I love to follow your blog and your wife (and your ex wife also) :P

Gak tau kenapa tapi kadang ngasih inspirasi ajah.

Yah kl soal shoutbox sih gak usah diterangin juga gpp wong blog khan ruangan pribadi kita yang terserah mo diapain juga :D

apalagi yah ..oh iya marcel, kl bisa postingannya jangan disetting central gitu dung hihi~ tau kl itu hak buat nulis tapi kadang mumet juga bacanya kl postingannya di tengah-tengah gitu.

sekian dan terimaksih *berasa apa gitu*

Adhini Amaliafitri said...

Why God create differences?

Mungkin supaya kehidupan ini berwarna warni. Tidak hanya satu warna yg mewarnai. Tapi terdapat banyak warna didalamnya. Apapun warna yg ada. Itu adalah proses untuk memaknai hidup ini. Mungkin seperti itu...

Untuk kebenaran. Banyak terdapat orang yg membuka mulutnya, lalu mengoceh ngoceh sesukanya berdasarkan versi ‘kebenaran’ yang dimiliki, lantas dengan mudah menunjuk orang lain yg memiliki ketidaksamaan akan versi ‘kebenaran’ yg dimiliki. Jadi diam adalah pilihan bijak dan tepat untuk menghadapi orang2 seperti itu. Biarkan sajaa.. nanti ada saatnya mereka letih sendiri. Toh, energinya nanti kekuras habis sendiri karna sibuk mengkritiki kehidupanmu.

have a great day Marcell!:)

Jenny Jusuf said...

Dan kenapa Tuhan membiarkan Setan eksis sementara Dia punya segala kuasa untuk menjadikan semua makhluk seperti Dia?

Ehehehehe...

the mosaicist said...

Why God create differences when he has the power to make everything the same ?

because some things in life are just not meant to be explained.

maka dengan itulah wujudnya konsep: faith.

nin said...

Yang sabar ya marcell

Miss Kay said...

HELLOO MARCELL.

frankly i am not ur ardent fan but i am really happy that u n rima r together now.

sidetrack a bit, im in love with ur song esp "jgn pernah berubah" cos sum1 dedicated that song to me... isnt he romantic?? :))

well...wishing u all the best marcell,send regards to ur jambu/pretty wife n son(ss).. :))

Marcell Siahaan said...

Hi all!
Terima kasih untuk segala supportnya, sahabat-sahabat :) Sabar dan Sadar memang latihan saya sehari-hari.

To the mosaicist: Is that the concept of 'Blind Faith' that you've tried to tell? Wah, kita berseberangan kalo begitu. Maaf yaa :)

To Jenny Jusuf: Jangan-jangan Setan ama Tuhan sebenernya sama aja. Wong banyak yang bilang percaya Tuhan tapi kelakuannya kayak Setan. Atau bilang suka ritual setan, sok-sok satanis, dengerin musik setan (?) giliran ngeliat Kuntilanak di Pohon Nangka langsung ngajak sembahyang. Piye, JenJus?? :)

Peace yo!

Patricia said...

I agree with Priscilla and Adhini. You don't need to give any comment. Over time it will just ended, it wont stay forever.

I watched you and your lovely wife in Empat Mata last week. You are great couple. Dont let unhappy people disturbing your happiness. Take care and my warm regards to Rima and your adorable boys.

the mosaicist said...
This comment has been removed by the author.
Mary said...

Smart move on choosing to close the shoutoutbox especially on Rima's blog.Sakit hati bila saya baca those sadistic comments left by people who are merely miserable and feels the need to voice out their unproductive opinions..Congrats on ur marriage and insyallah,tuhan akan melindungi perkahwinan u and rima sampai ke anak cucu.

The Blogger said...

nice one...

as always, from marcell..

hehe..

buat pertanyaan terakhir yang di-bold ya...
i dont know, we dont know (jangan sotoy ye :)
ya karena kita bukan Dog, eh salah mksdnya God (beneran gue pertama kali mo nulis god malah ke tulis dog) ^^

MasKarso said...

To: Bung Marcell

1. Untuk "Shout Box" memang itu hak anda untuk memasangnya atau tidak, saya pun termasuk yang tidak memasang.

2. "Why God.......?
Sebuah pertanyaan yang juga selalu ada di benak saya, mungkin itu salah satu dari ke-besaran Nya. Tidak selalu menggunakan "power"nya. Dia memberi kebebasan pada kita untuk me-manage-nya.

MasKarso
http://untuk-awam.blogspot.com

Jenny Jusuf said...

"Jangan-jangan Setan ama Tuhan sebenernya sama aja."

Hehehehe.

Jadi ingat film 'Conversation with God' yang dibuat berdasarkan buku dengan judul yang sama (oleh Neale Donald Walsch).

Di bagian awal film tersebut, Neale ditanya oleh salah satu audiens yang mendengarkan ceramahnya, kira-kira begini: "Jika Tuhan punya pesan untuk kita, kira-kira apa yang ingin Dia katakan?"

Jawabannya nggak lebih dari 5 kata:

"you've got me all wrong."

;-)

IAMNOMARY said...

Dearest Azza aka the mosaicist:

How could you quote, some things in life are just not meant to be explained? In life everything needs explanation sweetheart. Its all about righteous living. How could you have faith and not want things to be explained? Dari segi manakah yang awak pelajari?

God(whichever god you have "faith" in) make differences so that we can lead/find the right way of life. Its a guidance to love, not war. Love, not revenge. Love, not hate. Love, not judge.

However, God created people like you and me different so that we can have our own "freedom of speech" and opinions in life. So your comments gave me the right to speak and share my opinons. RIGHT??

And faith? U call it a "concept"? I seriously think that you need to rephrase that.

Whatever you have in your mind - forget it;
Whatever you have in your hand - give it;
Whatever is to be your fate - face it!

Abu Sa'id(Essential Sufism).

Sekian. Wassallam.

Iza said...

As the saying goes "biarkan si Luncai terjun dengan labu labunya". Let them be.

My two cents - live your life for you and no one else.

ViS said...

Keep the faith brother....
let's gain the stream....
Tetap jaga kualitas spiritualmu...anda sudah melihat pantai seberang, jangan sampai terbawa arus....
Sukkhi Hotu!!!

Tria nin said...

pukpukpuk marcell
sabbe satta bhavantu sukhitatta

Anonymous said...

wahai manusia,

Bukan kah lebih baik kita menjaga diri kita dan keluarga kita sendiri dari mengambil terlalu pusing dengan keadaan orang lain. Siapakah kita untuk menghakimi orang lain, sedang kan kita pun tidak tahu dimanakah tempat kita akhirnya..syurga atau neraka.

Biarlah mereka (rima & marcell) melalui process kehidupan mereka sejauh mana yang mereka tahu... itu adalah hak mereka sebagai manusia... sementara itu kita sebagai manusia yang bukan sempurna amalkan hidup penuh toleransi terhadap pilihan orang lain, dan mengambil setiap kejadian itu sebagai iktibar untuk diri kita sendiri...

Luffy said...

Moga, ini bisa buat loe lebih happy..

Sang Buddha berkata, "Murid-murid-Ku, mencela orang lain bukanlah hal yang baru. Tak satu pun orang di dunia ini yang tak pernah dicela; orang-orang akan mencela meskipun seorang raja atau bahkan seorang Buddha. Dicela atau dipuji oleh orang bodoh, tidaklah berarti. Seseorang akan benar-benar tercela hanya bila ia dicela oleh orang bijaksana, dan benar-benar terpuji hanya bila dipuji oleh orang bijaksana."

Kemudian Sang buddha membabarkan syair 227, 228, 229 dan 230 berikut ini :

"O Atula, hal ini telah ada sejak dahulu
dan bukan saja ada sekarang,
di mana mereka mencela orang yang duduk diam,
mereka mencela orang yang banyak bicara,
mereka juga mencela orang yang sedikit bicara.
Tak ada seorangpun di dunia ini
yang tak dicela.

Tidak pada zaman dahulu,
waktu yang akan datang ataupun waktu sekarang,
dapat ditemukan seseorang yang selalu dicela
maupun yang selalu dipuji.

Setelah memperhatikan secara seksama,
orang bijaksana memuji ia yang menempuh kehidupan tanpa cela,
pandai serta memiliki kebijaksanaan dan sila.

Siapakah yang layak merendahkan orang tanpa cela
seperti sepotong emas murni?
Para dewa akan selalu memujinya,
begitu pula para brahmana."

Yacob Wilfred said...

Why God create differences when he has the power to make everything the same?

Saya rasa jawabannya tak akan ditemukan oleh manusia. Dia yang membuat, Dia yang punya kekuatan, jelas hanya Dia yang tau 'tujuannya'.

Jenjus said...

...maka, selayaknyalah kita hidup sebaik-baiknya di dunia, tanpa mengesampingkan kebenaran bahwa SEKALIPUN kita tidak tahu maksud dan tujuan Tuhan menciptakan perbedaan, perbedaan itu TETAPLAH ada, dan nyata. Tak perlu mencoba menebak-nebak dan bermain menjadi Tuhan atas hidup siapa pun. Jalani saja hidup ini seutuhnya, sepenuhnya, apa adanya, dan sebaik2nya. Niscaya kalau mati masuk surga! Amin!

santi_ceng said...

Perbedaan adalah kebenaran hakiki dan kesempurnaan abadi. Semuanya menjadi indah karena perbedaan yang ada. Bisa juga Perbedaan itu ada karena adanya persamaan.
Ibarat mengucapkan kata Tuhan tanpa henti: TUHANTUHANTUHANTUHANTUHANTUHAN...
maka akan terdengar kata TUHAN dan HANTU... seakan TUHAN dan HANTU(setan) adalah 2 pribadi yang tidak dapat terpisahkan, yang hidup di dalam diri manusia, dalam diri sang 'AKU'.
Jika TUHAN adalah segala kebaikan maka HANTU adalah segala keburukan. 'AKU-AKU' yang hidup dalam ini masih memiliki visi hidup yang berbeda, ego berbeda, jalan pikiran berbeda... ada yang masih dipihak TUHAN ada yang masih di pihak HANTU, ada pula yang sebenarnya di pihak HANTU tapi mengaku di pihak TUHAN sebaliknya di pihak TUHAN malah bertingkah layaknya HANTU...
Hendaknya setiap 'AKU' mau berlatih kesadaran untuk menghidupkan TUHAN, dan mematikan sang HANTU... Bila setiap 'AKU' hanya memiliki TUHAN saja dan perbedaan itu mungkin akan lenyap, tapi seandainya masih belum lenyap minimal dunia ini dalam keharmonisan dan keseimbangan... perbedaan warna kulit tetap ada tetapi tidak ada lagi perang... agama tetap berbeda-beda tetapi sudah dapat saling menghormati dan menghargai... karena sudah satu dalam TUHAN, Sang Kebaikan....

Semoga semua makhluk berbahagia.
SANTI

Harsa said...

Saya setuju dengan pendapat anda, mengatas namakan kebenaran dengan melakukan 'perang' dengan tindakan yang keji adalah hal yang tidak bisa ditoleransi. Dan diam adalah salah satu cara untuk mengakhiri 'perang' ini...

"Saya sadar saya adalah setan yang kurang pengalaman. Butuh wejangan dari setan yang ‘lebih berpengalaman’ untuk merasa suci."

saya suka sekali dengan kata-kata yang ini, ironinya ok banget.. :) great words!!

Dana said...

Bro, I'm glad that I can share some of my thought with all of you in your previous posting.

I don't have the answer, but the point is, if all of us can respect each other despite of the differences that we have, then this world would be a much better place to live in.

Why do you think Me and my wife or Marcel and Rima could be together?, it's because we "respect" each other, so we can put a side our diferences.

Just another my 2 cents

Mettacittena (^_^)

doubleandry said...

Daripada ribut mending latian wingchun & taichi bro!!!!

Anonymous said...

Why God create differences when he has the power to make everything the same?

for completely each other...

Keep writing Marcel, u r the inspiration ever...

million :*

Sha said...

Jangan hiraukan yang tidak berkualitas dalamnya. Semua itu hanya didasari rasa ketidakpuasan akan hidup yang mereka rasakan. Teruskan langkah dan pemikiranmu yang menginspirasi banyak orang..

Regard :)

spatula online said...

kuasakah Tuhan menciptakan sebuah batu yang sedemikian beratnya sehingga Ia sendiri tak kuasa untuk mengangkatnya ?

Sukanto said...

Apapun Agamanya...., agama yang benar adalah agama yang mengajarkan untuk menghindari kejahatan, memperbanyak kebaikan dan cinta kasih terhadap semua makhluk hidup.

May All Beings Be Happy

Anonymous said...

Why God create differences when he has the power to make everything the same?

Karena TUHAN menciptakan manusia dengan memiliki kehendak bebas dalam hidupnya. Bebas untuk memilih apa yang dia rasa baik, namun dengan konsekuensinya sendiri.

Kalo kita memilih yakin bahwa surga itu tidak ada dan dengan keyakinan itu tidak berusaha untuk mengejarnya.....yah...berarti kelak di hari terakhir kita (yang meyakini tidak ada surga) memang tidak akan beroleh..nya...:-)

Anonymous said...

Hi..readers...

Something across my mind...
Jangan-jangan Tuhan emang bener cuma nyiptain satu jalan...cuma manusia yang bikin tiruannya kali...sehingga jadi tercipta begitu banyak agama...maybe...
I might be wrong...peace..

Anonymous said...

Saya tergelitik dengan pertanyaan di blog Anda, Mas Marcell: "Why God create differences when he has the power to make everything the same?" Sebab, seketika saya teringat kembali dengan sebuah pertanyaan yang kurang lebih masih pada jalur yang sama: "Mengapa Tuhan membiarkan manusia menderita di dunia, seolah-olah Dia menutup mata? Padahal, Tuhan punya kuasa untuk merubahnya."

Cukup lama saya mencari jawaban untuk pertanyaan sedemikian: melanglang buana di dunia maya, bertanya kepada teman-teman, bertanya kepada mereka yang saya anggap kompeten, dan kerap jawaban yang diberikan mirip: "Tuhan bekerja dengan cara yang misterius" atau "Itu adalah rahasia Ilahi". Sampai suatu ketika saya mendapatkan jawaban dari sebuah film, judulnya The Answer Man. Talking about the irony--haha. Anyway, di film itu ada pertanyaan seperti ini: "Bagaimana manusia tahu bahwa sengsara adalah sengsara, menderita adalah menderita, atau kebahagian adalah kebahagian. Apa tolak ukurnya?"

Dengan acuan itu saya ingin mengajak untuk kembali ke pertanyaan pertama: mengapa Tuhan menciptakan perbedaan. Bagaimana, kita, saya dan Anda, manusia di bumi ini, tahu tentang perbedaan? Apa tolak ukur seseorang sehingga tahu arti sebuah kata "perbedaan"? Tentu karena dia mengetahui apa yang dinamakan persamaan. Seperti menderita--kita tahu tentang "derita" karena kita tahu tentang "bahagia", atau kita tahu rasanya "manis" karena kita tahu rasanya "asin". And the list go on and on and on...

Intinya adalah: Tuhan mempersembahkan semua itu agar kita mengerti. Seseorang tak mungkin meng-klaim dirinya bahagia jika dia tidak tahu arti sebuah kata "derita". Dan semua itu hanyalah opini saya. Saya tidak berani meng-klaim bahwa itu adalah kehendak Tuhan, sementara saya sendiri masih dalam perjalanan mencari kebenaran. Boleh dikatakan, kini saya berada pada posisi dimana Sigmund Freud dan C.S Lewis pernah tapaki. Dan tentu saya ingin mencari arti kebenaran itu untuk saya pribadi. Jika Mas Marcell bertanya-tanya--ya, saya masih pada posisi yang menurut para ahli: agnostic.


Eric.

PS: bukan maksud saya merahasiakan identitas dengan memakai anonymous, hanya saja saya belum punya blog.

Yuliana said...

"Why God create differences when he has the power to make everything the same?"

Good question. Tapi menurut saya, smuanya itu tadinya baik. Yang memisahkan dan membuat perbedaan kan manusia sendiri. Bukannya begitu ya? Yang ada Tuhan menciptakan pilihan, yang membuat pilihan salah bukannya manusia itu sendiri yah?

dwee said...

Agree with this post :)

Panah Hujan, inc. said...

....speechless. :)

Menginspirasi betul.

Hanny said...

"Why God create differences when he has the power to make everything the same?"
Hi, saya baru baca blog ini. Menarik juga.
Yang pasti, kalau jawabannya adalah untuk "melengkapi".....ya susah juga ya. Giliran dapat yang positif (kaya, lahir kondisi normal, paras cantik,dll) enak aja bilang begitu......giliran dapat yang negatif (lahir cacat dari lahir,idiot,melarat, dll)...bagaimana???
Sedangkan kalau jawabannya "rahasia"....itu lebih ngga masuk akal lagi deh. Itu kan jawaban ngeles lage....:)

May all beings be happy

biibiiis said...

Itu semua agar kita bisa berpikir.
maka dari itu Tuhan menciptakan otak, bukan hanya menerima saja.Sama saja kalu kita bertanya kenapa ada miskin dan kaya, kenapa tidak dibikin kaya saja semuanya?
Coba kita jawab...
Manusia itu makhluk Tuhan yang paling sempurna, itulah makanya otak kita diatas, hati ditengah, nafsu itu dibawah.
Seharusnya anda bisa berpikir, saya berpikir, semuanya berpikir. bukan hanya komplain dan menyalahkan keadaan.
Sepatutnya kita bersyukur.