Mohon Maaf

Pagi ini, saya menerima sebuah e-mail dari seorang ibu yang merasa keberatan dengan pernyataan saya di sebuah advertorial pengguna BlackBerry yang disponsori sebuah provider telekomunikasi. Dia keberatan karena saya menggunakan kata ‘autis’ didalam pernyataan saya, yang menurutnya akan menimbulkan konotasi 'kurang positif' terhadap kondisi autis dan akan menyinggung perasaan para penyandangnya. Ibu ini adalah ibu dari seorang putri penyandang autis berumur 3 tahun.

Terima kasih. Saya sadar betul apa yang saya buat dan nyatakan didalam advertorial itu. Saya tidak akan berkelit. Saya telah keliru dan saya menerima kekeliruan itu sebagai pelajaran berharga. Saya tidak akan melakukan pembelaan apapun, walau di satu sisi saya juga sadar betul bahwa motivasi saya saat membuat pernyataan itu bukan untuk menghina atau memojokkan siapapun. Sama sekali bukan.

Oleh karena itu, saya atas nama pribadi MOHON MAAF yang sedalam-dalamnya atas kekeliruan ini kepada siapapun pihak yang merasa tersinggung dengan pernyataan saya, khususnya para penyandang gejala autis, Yayasan Autisme Indonesia dan Organisasi Putera Kembara.

Saya akan berusaha mensosialisasikan dan mengingatkan hal ini kepada siapapun agar tidak terulang kembali hal yang sama karena bagaimanapun juga hal menggunakan kata ‘autis’ dikalangan pengguna BlackBerry (bahkan juga sudah mulai digunakan oleh kalangan pengguna non-BlackBerry) sudah menjadi semacam ‘trend’ yang tentunya sudah merebak kemana-mana dan sulit untuk dikontrol. Saya akan usahakan yang terbaik. 

Sekali lagi, ini sebuah pelajaran berharga buat saya pribadi dan tentunya buat anda semua yang membaca blog saya, untuk kemudian tidak mengulangi hal yang sama. 

Terima kasih atas e-mail-nya, Mbak Wulan.

Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini

Semoga semua mahluk berbahagia.

26 comments:

Vicky Laurentina said...

Mengingatkan saya bahwa saya juga sering menggunakan kata autis juga untuk penggunaan yang tidak perlu. Kita memang suka kebablasan, perlu disentil juga sesekali supaya ngingetin kita. Terima kasih buat remindernya ya..

didut said...

mungkin ini ada link yg menarik :D

http://sillystupidlife.com/2009/04/01/time-to-speak-out/

evaluasi juga terjadi dalam hidup kita sehari-hari dan begitu baca postingan diatas saya juga otomatis hrs mengevaluate diri saya sendiri :D

Shasya Pashatama said...

:) sini juga lagi 'sibuk' mensosialisasikan for not using that word in daily jokes :)

Apalagi minggu lalu blogger Bandung baru kunjungan ke SLB di Banjaran, untuk ngasih bantuan berupa alat2 musik (keyboard, angklung, dll) dan di SLB itu juga menampung anak2 penyandang autis yang dari keluarga nggak mampu sehingga mereka nggak bisa melakukan terapi seperti seharusnya. Syukurlah guru2 SLB disana udah dikasih pembekalan untuk mengajar anak2 autis, sehingga meskipun nggak bisa terapi, minimal bisa ditangani dengan lebih baik.

Hendri said...

saya setuju banget untuk mengurangi penggunaan kata tersebut untuk sesuatu yg berkonotasi negatif, tq buat Marcell yg sudah berani mengakui kesalahannya, tq for the share... go green... be happy :-)

Widya D. Setyawati said...

tks juga sudah mengingatkan saya, karena kata 'ini' sudah jadi trend dan sering terucap, sengaja maupun tidak, hmmmm saya ganti dengan "ari" alias asik sendiri boleh gak?.... :')

Anonymous said...

Marcell thanks for your kind and appropriate respond
Saya yakin bahwa semua mahluk akan berbahagia jika kita saling berempati dengan posisi masing-masing,
Keep sharing your sincere thoughts,
Wulan

Anonymous said...

Hi Marcell, I'm a mom of a 9yrs old autistic boy. trust me, being autistic is not fun at all, anak saya dan teman2nya harus berjuang dgn keras dan terus menerus untuk dapat diterima di masyarakat "normal". terima kasih utk permintaan maafnya yang tulus atas advertisment di Kompas tgl 26/04/09 lalu. Dan lebih banyak terima kasih atas tekad Marcell utk tidak menggunakan kata autis ini pada konteks yang tidak semestinya.
Salam, Maulina
-towards a better life for autistic individuals, sukseskan bulan peduli autism, April 2009-

Jenjus said...

Salut, Mas. Angkat topi. Plus empat jempol.

Budi Wibowo said...

waduh, saya juga mau dukung go green juga ah.

Let's Go Green!!

^_^

Regards,
Budi Wibowo

Shinta-story said...

mas...
saya seneng dengan kebesaran hatinya untuk meminta maaf, toh semua mungkin bisa diperbaiki dengan memulai mengucapkan maaf..

kekhilafan saya rasa wajar kok, selama itu tidak de sengaja, semoga kita semua adalah orang-orang yang saling memaafkan..;)



-asd-

Anonymous said...

Bagaimana bila Anda juga menuliskan note permintaan maaf kepada para orangtua individu autistik dan individu-individu autistik itu sendiri, dengan menuliskan testimonial pribadi ditujukan kepada kami di dyahpspt@autism-aware.info
supaya segera bisa kami muat di milis Puterakembara, website Yayasan Autisma Indonesia, dan fb-kami para anggota komunitas autisme.

Only if you want to.

Btw, kami baru saja kembali dari pertemuan dengan pihak Indosat, juga membahas iklan yang sama. Komunitas autisme diwakili oleh Ketua dan Sekretaris Yayasan Autisma Indonesia, serta wakil Yayasan Puterakembara. Hasilnya? well, let's wait and see.

SPA! (salam peduli autisme)

Dyah Puspita, psikolog.
Ibu dari Ikhsan Priatama, autis non-verbal (tidak bisa bicara), 18 tahun.
Sekretaris Yayasan Autisma Indonesia.

Anonymous said...

Hidup bersama individu autis dibutuhkan kesabaran yang super extra.Namun bagaimana pun kondisinya, dia adalah sama mahluk Allah yang dititipkan dan diamanahkan kepada kami untuk dididik dan dibina semaksimal mungkin sesuai ajaran yang kami yakini.

Saya menghargai kebesaran hati anda untuk memohon maaf atas kekhilafan yang merupakan bagian dari sifat manusiawi.

Saya sebagai salah satu penikmat musik, merasa tidak asing dengan nama besar anda. Sebagai public figure kami butuh bantuan anda dalam mengkampanyekan Autism Awareness. Diantaranya adalah memberikan pemahaman yang sebenarnya mengenai autis kepada masyarakat awam dan menghimbau agar individu autis dapat diterima selayaknya individu lainnya dalam kehidupan sosial bemasyarakat.

Terimakasih
Yudi Setiadi, Bapaknya Fiandi - Autis, 10,5 thn (Anggota Milis Puterakembara)

Reza Gunawan said...

Dear bro,

I agree, terkadang kita keselip bicara tentang sesuatu yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyakiti perasaan siapapun, tetapi tanpa kita sadari, ada saja pihak yang merasa sakit hati.

Memang ada beberapa kata tertentu dalam kehidupan yang punya "daya picu" tinggi seperti "kanker", "kematian", "cerai", "Tuhan", dan mungkin baru beberapa tahun belakangan ini kata "autis".

Terimakasih sudah mengingatkan kita semua untuk lebih berhati-hati.

Di lain sisi, saya kuatir bahwa kehati-hatian kita justru semakin memupuk sebuah salah kaprah besar yang tumbuh cukup kuat di batin kita masing-masing.

Salah kaprah tersebut adalah kepercayaan bahwa kita bisa membuat perasaan orang lain menjadi sakit atau menjadi bahagia.

Analoginya begini: kita mengucapkan kata-kata tertentu, misalnya "KAMU CANTIK". Bagi orang yang mendengar, bilamana di dalam hatinya terdapat kebutuhan untuk mendapatkan konfirmasi atas kecantikan dirinya, maka dia akan timbul rasa senang. Sementara jika selama ini dalam hatinya memang dia sudah merasa buruk rupa, barangkali perasaan yang muncul berupa "Ah masa sih!", atau "Kamu nyindir ya mentang-mentang saya busuk!".

Dengan kata lain, siklus munculnya rasa dalam hati seseorang adalah:
apa yang mereka dengar secara objektif + filter subjektif dalam hati/pikiran mereka sendiri = perasaan yang akan dia rasakan.

Yang ingin saya sampaikan disini adalah meskipun Marcell / siapapun bisa saja lebih berhati-hati untuk memilih kata-kata yang paling baik untuk mengungkapkan dirinya, ketika kata-kata tersebut bertemu dengan orang-orang yang punya subjektivitas negatif terhadap kata tersebut, maka tetap saja dia akan merasa resah, tersinggung, kecewa.

Saya berdoa, subjektivitas hati ini bisa disembuhkan sesuai porsi masing-masing pihak.

Saya berdoa, kita berhenti berasumsi bahwa kita BISA membahagiakan atau menyakiti orang lain, karena dalam kenyataannya, kita hanya bisa memilah-milah kata, sebaik mungkin sesuai subjektivitas kita sendiri. Apa yang orang lain rasakan, juga sama kuat terpengaruhnya dengan PR hati mereka masing-masing.

Saya memberanikan diri untuk menyampaikan ini, karena sempat bertemu dengan banyak orangtua yang merasa anaknya bermasalah (tidak hanya autis). Dan salah satu hal yang hampir selalu lalai, adalah banyak orangtua sibuk menyalahkan dokter, anaknya, pasangan hidupnya, Tuhan, bahkan dirinya sendiri, sehingga akhirnya lupa untuk menyembuhkan hatinya, dan akhirnya kehilangan kemampuan untuk merawat anaknya dengan jernih.

Banyak terapis anak autis (speech therapy, sensory integration, allergy, psikolog anak) yang saya temui, juga menyampaikan pengamatan ini:

Orangtua anak (autis maupun tidak autis) perlu ingat untuk merawat diri dan hatinya sendiri juga, ketimbang terjebak obsesi untuk merawat anaknya secara berlebihan.

Dalam postingmu ini, Marcell telah mengapungkan sebuah masalah yang besar dan tersembunyi selama ini, sehingga lebih mudah kita sadari dan sikapi.

I apologize for the long comment. Thank you again for sharing your journey, dear brother.

Reza Gunawan
www.rezagunawan.com

Anonymous said...

Reza
Saya, Wulan, yang mengirim email ke Marcell, adalah ibu yang pernah menegur kamu di PIM 2 suatu sore,dekat tangga eskalator dan pernah bertanya tentang terapi crania sacral di Jakarta. Pada waktu itu saya mengeluh betapa sulitnya menghubungi kantor Reza di Darmwangsa. It happenned about 3 months ago.Terima kasih telah mengingatkan untuk merawat diri juga. I will try though its very hard.

Andri Journal said...

Halo mas...minta ijin mencantumkan nama blog sampeyan di postingan ku yang terbaru. :D

Untuk menggantikan kata 'AUTIS' aku menemukan kata penggantinya. Kata pengganti itu adalah 'NGETHEKUL'. Silakan mampir ke blogku menawi wonten wekdal.

Matur nuwun. :)

Wiseguy said...

Lidah lebih tajam dari pedang... itulah ungkapan yg kebanyakan orang sudah memahaminya.

Tuhan menghukum kita selain dari perbuatan kita juga dari perkataan kita. Tuhan Maha Adil Hukuman Pasti datang sama seperti Pahala pasti datang dari setiap kebaikan.

Sengaja atau tidak yang terhina tetap terhina, sama seperti kita memegang Api sengaja atau tidak kita mendapatkan akibatnya yaitu Panas.

Tuhan Maha Sempurna maka manusia tercipta dengan Telinga DUA dan Mulut SATU... Banyak Mendengar baru berbicara.

Manusia Wajar Melakukan Kesalahan, Namum Akibat atau Hukuman dari kesalahan itu TETAP Berjalan. Hukuman Tuhan Pasti akan berjalan, tapi seperti apa...? tidak ada seorangpun yang Tahu, yang jelas pasti setimpal dengan sakit yang dialami oleh orang-orang yg terhina.

Ryan said...

The ability to apologize humbly is one of the traits of great men/women. Salut Marcell!
Semoga ini bisa jadi pelajaran bagi saya & kita semua, karena seringkali kata yg terucap tanpa kita sadari melukai perasaan orang lain...

Anonymous said...

: wiseguy

komentar kamu seram sekali. kalau tuhan memang seperti itu, saya tidak ingin mengenal tuhan kamu. no offense.

oya, tadi siang saya jalan ke toko buku. ada satu judul yang menarik: i'm fine with god, it's ***taruh nama sebuah agama*** i can't stand. :)

Wiseguy said...

To Anonymous...

Begitulah... semua itu seperti Coin mempunyai dua sisi...

Orang akan seram karena yg ada dipikirannya adalah Hukuman...

Orang akan Senang karena yg ada dipikirannya adalah Pahala...

Jadi manusia bebas memilih ingin jadi orang yg seperti apa... tergantung apa yg telah dia lakukan selama ini.

Manusia selayaknya berani berbuat, berani bertanggung jawab...

Setiap hari kita mendapat pahala dari perbuatan baik dan mendapat hukuman dari perbuatan buruk tanpa kita sadari... bahkan tersandung kerikil pun merupakan hukuman dari apa yg telah kita perbuat demikian juga sebaliknya.. ditraktir temanpun merupakan pahala dari perbuatan baik kita...

Seram atau Indah... tergantung dari mana orang memandangnya...

Jenny Jusuf said...

Dear Wiseguy,

Saya tertarik menanggapi komentar Anda. Saya setuju kehidupan memang terdiri dari dua sisi layaknya mata uang. Namun selain hukuman dan pahala, menurut saya ada banyak aspek lain yang juga bersandingan, dan terkadang untuk mencapai kebebasan sejati kita perlu menilik melampaui batasan 'benar-salah', 'dosa-suci', 'hukuman-pahala', dan sebagainya.

Saya pribadi tidak menolak keyakinan tentang karma, adanya hukum tabur-tuai, dan sebagainya. Namun bagi saya (lagi-lagi berdasarkan opini pribadi yang belum tentu sah untuk semua orang), saya lebih suka melihat sesuatu apa adanya. Tersandung kerikil sebagai tersandung kerikil. Ditraktir teman sebagai ditraktir teman, dan seterusnya. Bukan sebagai hukuman, bukan sebagai pahala. Apa adanya.

*Kalau kata Joker mah, "Why so serious?" :-)*

However, menurut saya comment box orang sebenarnya bukan wadah diskusi (baca: ajang adu pendapat tanpa seizin yang punya), jadi mudah-mudahan saya nggak dianggap nyampah di sini. Hehehe.

Salam,


Jenny Jusuf

Ryan said...

To Wiseguy:

Tolong bedakan antara kesalahan yg kita lakukan dgn sengaja (kita tau itu salah namun tetap kita lakukan) & kesalahan yg kita lakukan tanpa sengaja (kita tidak tau bahwa itu salah).

Komentarmu yg menyamakan kedua hal tsb bisa menimbulkan kesalahpahaman.

Sepanjang pengetahuan saya, konsep Tuhan dalam agama mencakup aspek kelembutan ("Yin" dalam Tao) & kekerasan ("Yang"), namun yang saya pelajari dalam agama saya, aspek kelembutanNYA lebih mayoritas daripada aspek kekerasanNYA. Istilahnya: "Kasih sayangNYA mengalahkan kemurkaanNYA"

Wiseguy said...

To Ryan

Saya pribadi tidak terlalu sreg dengan membedakan Kesalahan yg sengaja dan kesalahan yg tidak disengaja. karena hal tersebut rentan di manipulasi, rentan dengan pembelaan diri.
Yg Jelas saat kita sadar kita Membuat kesalahan yg tidak disengaja maka kita akan melakukan perbuatan untuk menkoreksinya contohnya adalah Marcell yg telah melakukan permintaan maaf dan mungkin ada action2 lain yg dia lakukan untuk membantu 'korban'nya, Perbuatan mulia tersebut tentu akan memdapatkan Apresiasi yang sangat besar dari Yang Maha Kuasa karena telah menyejukan hati banyak orang. Bisa jadi Kegembiraan atas Apresiasi Yg Maha Kuasa itu seolah-olah menutup hukuman yg sedang dialami.

Dalam konsep saya pribadi kesalahan tetap kesalahan, hukuman tetap hukuman yg akan atau sedang kita terima. Dengan demikian kita bakal ekstra hati-hati, karena pada dasarnya kebanyakan Orang tidak ingin melakukan kesalahan secara sengaja, intinya adalah orang malas berpikir sehingga kesalahan tersebut terjadi... Sangat manusiawi...

Kesalahan yg kita buat bukan akhir dunia.. tapi tentu kita harus konsekwen menerima ganjarannya.

Sama seperti Orang belajar naik sepeda... dia tidak akan pernah sengaja Jatuh... tapi dengan jatuh itu dia mendapatkan hukuman rasa sakit... dari setiap rasa sakit yg dia alami dia dipaksa untuk banyak belajar yg akhirnya membuat dia ahli naik sepeda...
Bayangkan kalo yg baru belajar naik sepeda tidak pernah akan merasa sakit saat jatuh...


Mana yang lebih besar KASIH-NYA atau MURKA-NYA ? Biarkan TUHAN sendiri yang menentukan karena Beliau Maha Bijak, yg jelas kita Manusia berusaha sekeras-kerasnya untuk mendapatkan KASIH-nya dan menghindari sekala sesuatu yg membuat DIA MURKA dan menerima KEMURKAAN-NYA lapang dada.

de asmara said...

terimakasih Wiseguy utk peringatannya :) sungguh terimakasih. pasti dimaksudkan agar kita semua jauh lebih berhati2 lagi dlm bersikap. jauh lebih sensitif & berempati lagi....

tapi saya tetap yakin Tuhan maha pemaaf, dg catatan kita sebagai kekasih2Nya ini nggak ngelunjak. setelah mohon ampun dari kesalahan (sengaja/tidak) ya jangan diulangi lagi dan coba perbaiki akibat dari kesalahan kita tadi.

btw, thx Marcel, saya jg jadi inget betapa saya suka gampang mengeluarkan kata 'idiot', 'alzheimer', 'cacat', dll dalam becandaan sehari2. saat saya coba berempati berada di pihak mereka yg kondisinya spt itu, ternyata cara bercanda saya itu menyakitkan.

science said...

ksatria!
positif!
tapi itu juga pelajaran bagi kita. menjaga agar tidak ada yg merasa dirugikan!;D

SIP2..

Anonymous said...

It's because of love Marcel......kalau itu buat kamu marah dan gusar, itu juga hak kamu....pemanasan global etc itu menarik.....tapi ada yang lebih menarik dari itu, dan ada orang2 yang begitu amat sangat menyayangimu.....kalau kamu merasa temanmu tersesat, uhhh betapa kejamnya kalau kamu biarkan dia,...that's a blessing if somebody care....kalau kamu merasa diriku tersesat, kenapa tak kau ajak kami untuk satu jalur denganmu?...kita perlu care satu sama lain, cara agama tertentu menunjukkan carenya berbeda....one last question....do you believe in God?..if yes, jangan pernah lelah dalam pencarian, minta Ia datang dan tunjukkan diriNYA, the real God.....He will show you, kuncinya hanya mau meminta dan berserah, jangan pakai pikiran sendiri,....I believe someday you'll find perfect peace...the peace that is not the same as peace in this world.....melampaui segala akal dan pikiran.....itu adalah tingkat damai yang tertinggi

Lex dePraxis said...

Awalnya kritikan tentang penggunaan kata 'autis' memang bagus, tapi lama-kelamaan jadi norak dan terlalu berlebihan yah?