Terima Kasih, 'Anonymous'

Saya sedang malas meng-update blog saya akhir-akhir ini. Ya, malas sekali. Dan saya tahu sekali penyebabnya. Selain karena saya juga tengah berkonsentrasi dengan kegiatan-kegiatan saya yang non-maya (baca: nyata) sambil menikmati quality time saya di Kuala Lumpur bersama kekasih tercinta, saya juga ingin mengamati lebih banyak kejadian dan sedang tidak ingin terlalu banyak berpendapat dan (apalagi) menghakimi. Saya sedang ingin mengoptimalkan kedua mata dan kedua telinga saya untuk melihat dan mendengar lebih lagi serta membiarkan mulut saya beristirahat sejenak dari berkomentar.

Lucu kadang-kadang kalau saya mengamati komentar-komentar terhadap apa yang saya tulis di blog saya ini. Kalau anda tidak percaya, silahkan anda juga amati kolom
ShoutBox saya. Begitu banyak orang yang mendukung, mendoakan dengan tulus (karena ada juga yang mendoakan kurang tulus karena sambil menyindir), protes tak tentu arah bahkan ada yang berusaha menciptakan ‘forum gosip’ sendiri yang tujuan sebenarnya adalah complaining terhadap kekurangan-kekurangan dan ketakutan-ketakutannya sendiri dan akhirnya karena tidak punya teman curhat, mereka ‘tumpahkan’ semuanya di blog saya, di ShoutBox saya. Saya jadi kena getahnya. Lengket.

Saya sempat terpikir untuk menutup saja kolom
ShoutBox itu. Karena jujur, beberapa dari isinya sangat sensitif bahkan mengandung unsur yang provokatif dan potensial menciptakan konflik dan perang yang bukan hanya terhadap diri saya tapi juga pihak lain. Menyinggung dan melukai. Namun akhirnya saya memutuskan untuk tidak menutupnya. Saya membiarkan kolom ShoutBox seperti tembok kosong di pinggiran jalan yang menjadi sasaran corat-coret iseng. Vandalisme yang lebih bermartabat.  Saya membiarkan siapapun berekspresi. Buat saya memberikan sedikit space kepada siapapun (terutama yang kurang mampu) untuk berekspresi dengan layak adalah perbuatan yang baik. Ya, biarkan saja. Lagipula saya sangat-sangat menikmatinya sebagai hiburan dan seringkali (maaf) tertawa terpingkal-pingkal sambil salto jumpalitan dibuatnya. Sekali lagi maaf. Saya hanya menikmati hidup saya.

Ya, benar. Mereka tidak punya sarana berekspresi. Mereka butuh ditanggap dan dianggap. Banyak orang yang masih perlu untuk belajar mengenali, menemukan, memahami dan menerima diri sendiri. Mereka ketakutan. Mereka marah-marah, mencerca dan menghakimi karena (sebenarnya) ingin mendapatkan jawaban atas apapun yang menjadi penyebab ketakutan mereka sendiri. Dan kali ini mereka meminta jawaban dari saya. Jawaban apa? Seperti apa? Buat apa? Untuk bahan perbandingankah? Bahan diskusikah? Atau karena sebenarnya masih belum yakin dengan pilihannya sendiri?

Kasihan.

Saya terus-menerus belajar untuk mendengar, menerima dan menghargai pendapat dan ekspresi siapapun sebagai sarana latihan untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari. Saya tidak ingin menutup diri saya dari apapun komentar, pendapat, cercaan ataupun penghakiman orang lain. Dengan saya membuka diri ini nyata-nyata telah membuat saya justru semakin yakin dengan apapun pilihan yang saya telah, sedang maupun akan ambil. Dan apapun itu adalah pilihan saya. Bukan pilihan orang lain. Kebenaran saya belum tentu menjadi kebenaran bagi orang lain. Kebahagiaan saya belum tentu juga menjadi kebahagiaan bagi orang lain. Relatif.
Take it or leave it.

Oh,yaa. Hampir lupa. Pagi ini saya mendapatkan tiga komentar dari seseorang yang (beraninya) mengaku bernama ‘
Anonymous’ yang dengan berapi-api menyatakan kritiknya mengenai isi blog saya yang berjudul ‘Surat Untuk Reza dan Dewi’. Saya ingin anda semua membacanya. Saya tidak mengubah sedikitpun apa yang ditulis oleh 'Anonymous' ini. Teknologi Cut and Paste sangat membantu saya. 

Saya bukan orang yang anti terhadap kritik yang pedas. Saya bukan memprovokasi anda semua untuk berperang melawan kritik apalagi pengkritiknya. Saya hanya ingin kita semua belajar untuk menjadi lebih baik. Sekali lagi: saya tidak ingin memberikan jawaban dan tanggapan  sedikitpun atas kritik-kritik ini. Silahkan anda baca dan nikmati sendiri. Dan, kalau memungkinkan, bantu dia untuk menemukan jawaban dari ketakutan-ketakutannya. Karena dibalik semua kritiknya sebenarnya dia sedang bertanya dan memohon pertolongan. Kasihan dia. ;)

Komentar pertama:

Bravo buat Marcell dan Dewi!! cinta sejati tidak akan berakhir dengan perceraian jika kalian memahaminya. hanya satu kata " ada jalan yang disangka orang lurus namun ujungnya adalah maut. sorry untuk mengatakan KEBENARAN ini.

December 9, 2008 9:17 AM

Komentar kedua:

Kata-katamu sangat manis tapi maaf aku tidak salut dengan kata-kata itu lho, maaf omong ya gak yaaa? kalo menghargai CINTA gak begitu dong!!!! Dan bukan orang lain yang salah, kalian semua yang teramat sangat salah, gak layak jadi contoh publik!!!

December 9, 2008 10:20 AM

Komentar ketiga:

saya merasa bingung dengan konsep cinta kalian, disaat ingin menyatu kalian bilang indah dan konflik terjadi lalu kalian bilang berpisah lebih baik, dan kalian bilang itu bukan kesalahan .....????

lalu konsep cinta seperti apa yang akan ditransformasikan pada anak2 nantinya, .........

bahwa ada seseorang yang dulu pernah anda cintai dan sekarangpun masih hanya saja dalam kadar atau bentuk yang berbeda?????

guys love or cinta bukan suatu bentuk pengharapan akan mendapatkan bahagia.... namun pengorbanan untuk saling mengerti bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan kepuasan dihidup ini hanya memberi saja dengan sukacita 

soooo.....berpikir dulu sebelum memulai suatu ikatan karena........Apa yang sudah dipersatukan YAHWEH tidak dapat diceraikan manusia....AMIN

December 9, 2008 10:36 AM

Ciecieciecieeeeehhhhhh! Sedap!
Cang-cing (canggih cing) nii 'Anonymous'! :) Untuk ‘Anonymous’, siapapun anda, komentar-komentar anda MANTAP ! Ya, mantap, karena anda sudah membantu memberikan bahan untuk saya menulis lagi disaat krisis kemalasan menimpa diri yang fana ini :) Oh, ya, boss, laen kali jangan pake ‘Anonymous’ doong. Kan nggak bisa dibales jadinya sama kita-kita. Atau emang nggak ngarepin balesan yaa? Tapi seneng kan situ bisa ekspresif, marah-marah, complaining tentang kebingungan sendiri di blog orang lain? Hehehehe! Anyway, thanks! Glad to help, 'Anonymous'! Semoga lekas sembuh, jangan lupa obatnya dimakan (Ayo, Marceeell! Katanya nggak mau komentaar?? ;))

Naaah, bagaimana dengan anda? Komentar terbaik akan mendapatkan hadiah langsung berupa pelajaran untuk hidup lebih berbahagia dengan lebih menghargai diri sendiri dan menghargai hidup orang lain.

Semoga semua mahluk berbahagia

Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.

Terima kasih untuk kekasih saya Melati Adams yang telah membuatkan saya
Okonomiyaki (Japanese Pizza?) untuk makan malam. Enaaak, B! Sumpaaah! :) Svetlana aja? Love you! :)

Avalokita,
I miss you so much my boy! Ayah sayang kamu sampai mati :)

22 comments:

Jenny Jusuf said...

Pundung saja!!!

Pulang kampung ke Makassar naik Garuda!

;-D

*maaf, ga tahan untuk ga nulis ini setelah baca entrinya, plus nama Avalokita. Hehehe...*

SukaSuka said...

Biarkan saja , apa kata Orang...
sprt yang kamu bilang, yang menjalani ada diri sendiri, stp orang py penafsiran beda, *kepala na juga beda, jadi ya ga sama....

Hidup itu Pilihan,
Jadi, mo pilih yang mana????
lebih baik maju selangkah biarpun sakit, daripada diam menahan sakit..

piss..
great for ur new life

DeeV@ said...

Saya juga suka Okonomiyaki.......

yammmi...!!

Boleh dibuatin juga.. hehehehe

salam kenal

Rayaa Riyadi said...

Hahahahahahaha.... Manusia... Manusia.... Bisa-bisanya ngomong "love or cinta bukan suatu bentuk pengharapan akan mendapatkan bahagia, namun pengorbanan untuk saling mengerti bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan kepuasan dihidup ini hanya memberi saja dengan sukacita"
Saya lebih memilih tidak mencintai namun bahagia daripada merana karena cinta... Cinta yang sengsara tuh cuma buat jadi inspirasi lagu dangduth!! ;p Plisss dehhh..... @=P

Anonymous said...

Org kan tidak tahu apa yg sebenarnya terjadi dlm hidup kamu. cuek aja lah. EGP. Jangan ditanggapain.

Andri said...

Lho..Komentarku kok gak dicopy paste mas? :D

vee said...

Hahaha...
Yahhh...pengalaman 'anonymous' itu mungkin banyak, tapi beliau tidak bisa memaknai pengalaman-pengalamannya dalam satu buah pikir yang bijak.

Kalaupun ia benar, ia tidak dapat mengungkapkannya dengan cara seharusnya orang yang 'mengerti cinta dan kasih sayang' berucap. :D

Dan sayangnya, cara ia mengungkapkan pikiran, membuat orang berpikir, ia tidak mengerti cinta dan kasih sayang sesunguhnya.

'Cinta tidak harus memiliki' memang mungkin terkesan dangkal dan hanya sebuah kalimat apkir. Tetapi, sesungguhnya, dalam perjalanan cinta, terkadang kita menyadari bahwa bentuk cinta yang kita miliki untuk seseorang atau pasangan, bukanlah bentuk cinta dengan hasrat duniawi/seksual. Tapi lebih manis dari itu, bentuk cinta yang dimiliki adalah cinta kepada saudara, adik atau kakak.
Mungkin cinta seperti itulah yang dimiliki Marcel dan Dewi, yang mereka sadari pada saat perjalanan kebersamaan mereka.

Saya bukan penggemar salah satunya,
saya menyukai pasangan ini dalam bentuk pemikiran utuh 'Marcel dan Dewi'. Walau demikian, saya yakin mereka telah berusaha untuk memaknai dan memahami bentuk cinta mereka satu sama lain. Jika tidak, tidak mungkin mereka bertahan selama beberapa tahun kebersamaan mereka.

Dalam cinta, tidak ada yang salah atau benar, tetapi menyadari 'bentuk cinta' seperti apa yang kita miliki.
Karena kita semua punya cinta dan harus memiliki cinta untuk siapapun di dunia ini, untuk kehidupan yang lebih indah. :)

poetra said...

Selamat datang di era 2.0, yang sayangnya masih banyak diisi orang-orang kurang dewasa yang cuma berani lempar batu sembunyi tangan.

Tapi, justru orang-orang seperti itu yang mengisi hidup kita kan? Yin dan yang? =)

Memang lebih pantas dijadikan candaan dalam hidup aja, om.. hehehe..

Salam kenal dari medan :)

Blog Cantik said...

Posting terapi, neh...?!
Atau cuma ingin mengembalikan komentar nggak penting?

Aruysa said...

Hi Marcell

Salam from Singapore :)

I guess in life, for us to get along, there must be some form of respect. And those who critise what you do or say, are only pretending to be self-righteous or just being plain conceited. Best thing to do is not to bother about such ppl. It just wastes our time.

To quote you, " Kebenaran saya belum tentu menjadi kebenaran bagi orang lain. Kebahagiaan saya belum tentu juga menjadi kebahagiaan bagi orang lain. Relatif. Take it or leave it.” I can’t agree more with this. One man’s meat is another man’s poison. No one has a right to give condescending remarks on another, especially when they don’t even know us personally.

I’m glad to know you have a great sense of humour in facing all these ‘criticisms’. It was funny and interesting reading your so-called retorts. :D

I wish you all the best and nicest in life and love.

Peas :)

Anonymous said...

salam dari singapore ; )

well, rambut sama hitam tapi hati ya.. lain2x! hence, jgn diambil peduli apa org kata as you lead your life.. take things easy & enjoy life while it last.. *winks*

Haida said...

Dear Marcell, I don't read Indonesian all that well, but it seems like you have stirred up some strong emotions within some people.
We human beings are so quick to judge.
Seperti pepatah melayu 'Semut seberang laut dilihat. Gajah di depan mata tak nampak.'
Could it be that these people have never experienced true love themselves, that it is beyond their sorry little minds to believe that you could be telling the truth?

senthot prawiradirdjo said...

mungkin sudah cukup terlambat buat coment, tp gak tahan juga mo kasih coment, hehe..

aku denger juga sich, kabar tentang mas marcell n mbak dewi, lewat infotaiment, but gak begitu jelas coz emang aku bukan penikmat infotaiment..

karena pengen coba2 bikin blog, aku jd jalan2 dech di dunia maya, n ketemu blog-nya mbak dewi, mas reza, n mas marcell, truz coment dech.. lhoh kok malah curhat piye thoh.. hehe..

okay, now comentnya; saluuuuut buat mas marcell dan mbak dewi, sebuah bukti kalo cinta itu jujur, cm aku jd bertanya juga, kalo ganti pasangan lagi boleh dunks..? kalo itu jujur demi cinta kenapa nggak, bukan bgt mas marcell..?

bravo mas, semoga sukses selalu, mbak Melati Adams lebih cantik koq, wuekekeke...

Adhini Amaliafitri said...

yaaah, begitulah kalo orang dengan seenak pikirannya bisa berkomentar atas apa yang terjadi di kehidupan orang lain. mungkin mereka lupa klo mereka juga punya kehidupan sendiri dan bisa dikomentari seperti ketika mereka mengomentari kehidupanmu, hehehe

semoga mereka punya nyali lebih untuk cantumin nama asli dibandingkan harus pake nama 'anonymous'.

lebih terlihat pemberani bukan? daripada pake nama 'anonymous', kesannya ko' jadi maen petak umpet. takut ketauan yahh? ahahahahaha.. payah ahh!
hari genee klo kasih komen jangan ngumpet2 ateuh :D

*marcell, blogmu tak link ya! may i?

DonCorleone said...

OMG....kau baik sekali Marcell kerana aku bilang dalam blog aku bahawa Anon itu anjing sebenarnya, seperti anjing yang tidak punya Tuan dan menunggu saat mati kerana accidentally terminum racun ataupun ditembak oleh pembenci. :)

u.n.e.e said...

People that talks a lot of crap about others (life),usually got nothing but crap in their own lives.
Don't get upset,they need pity.Oh,and an awesome shrink.

Anonymous said...

Saya heran... knp kalo tulis secara Anonymous, lantas orangnya dibilang pengecut. Kalo saya berkomentar lantas saya tulis nama saya yg sebenernya, apa bedanya? Toh tetep nggak ada yg tau saya itu siapa. Lagipula, dgn berjuta2 nama yg ada di dunia ini, bakal gampang banget utk saya memilih 1 nama utk dicantumkan.
Apalah arti sebuah nama? Terlebih dlm forum blog semacam ini?

Salam,
Maya (bukan nama sebenernya :P)

The-Tao-of-Marcell said...

Hi Maya yang jelas-jelas bukan nama sebenar dan tetap 'Anonymous',

Kalau sudah memutuskan untuk mau berkomentar di blog orang lain ada baiknya juga berani mengambil resiko untuk dijawab ataupun dikomentari balik. Jangan sekedar 'buang sampah sembarangan'. Jangan seperti orang masuk ke sebuah club, minum sampai mabuk lalu pindah ke sebuah restoran dan kemudian numpang 'muntah' sambil memecahkan gelas dan piring karena mabuk. Mabuknya dimanaa, muntahnya dimanaa :) That's why makanya saya menganjurkan jangan sering-sering pakai 'Anonymous' apalagi kalau tujuannya bertanya (apalagi kalo pertanyaannya penting kan sayang kalau tidak terjawab) atau kritik (karena pasti tujuannya 'membangun', kaan?) supaya ada dialog dan berisi nggak cuman 'omong kosong buang sampah'. Jujur yang dikritik juga bingung karena kritikannya sebenarnya nggak masuk akal tapi nggak bisa dijawab (kan pasti gemes pengen jawab), rasanya seperti harus mengaku salah ataupun merasa benar padahal nggak ngelakuin apa-apa. Mungkin ini yang menyebabkan sebagian teman-teman merasa bahwa pengkritik 'Anonymous' ini seolah-olah jadi 'pengecut'.

But then again, terserahlah, Buat saya apapun itu selama memotivasi seseorang secara objektif dan mampu membuat orang untuk belajar menjadi lebih baik saya dukung. Karena saya juga masih belajar. Dan pelajarannya belum selesai.

Be happy, everyone!

Lexy Echi said...

Yaudahlah ya, dibawa santai aja. Katanya hidup masing-masing. Ya kalo udah milih gitu yaudah, kan emang pilihan gitu.Blog kan udah pasti terpublish. Jadi kalo ada comment2 kaya gitu, so.. what? haha. Kayaknya kak (manggil kak, biar lebih sopan aje, hhe) Marcell udah dewasa kan buat gak nanggepin
Anonymous itu? hihihi. Hargai aja. Anggep aja mereka menghargai cerita kakak. Cuman tanggepan seseorang kan emang bisa positif dan negatif. Tergantung diri kita, seberapa besar toleransi buat menerima pendapat.

Nice blog anyway. Happy for your life, cheers x)

Maya said...

Hi Marcell, ini Maya...
Bukankah saya masuk ke club bernama The Tao of Marcell, dan "muntah" di club yg sama. Rasanya saya nggak pindah tempat sama sekali. "Mabuk" di blog anda, "muntah" pun di blog anda. So, the last time I checked, I didn't "buang sampah sembarangan"

Saya taroh Anonymous, toh tetep Marcell bisa menanggapi tulisan saya. Again, nggak ada bedanya toh.

Eniwe, ini sekedar intermezzo aja. Jgn ditanggapin segitu seriusnya dong.

Salam,
Maya
PS: if it makes you any happier, I will no longer use Anonymous...

Meliana said...

Salam dari Sydney

I wasn't gonna leave a comment, but in the end, after reading all those comments, I couldn't help but leaving one.. Hahah!
Menarik sekali membaca satu diskusi yang membangunkan diskusi lain..
Anyway, those people who criticized you definitely have nothing better to do, living a boring bitter life. Plus, they don't know you well. Perhaps those who watched too much info-tainment.
They spoke like they are saints, hoping to 'enlighten' you with their 'pure' thoughts.

Manusia yang penasaran dengan apa yg sedang muter di kepala anda, yang penasaran dengan kehidupan pribadi anda..
Manusia 'lurus' yang mikir kalo anda 'bengkok' dan mencoba to lecture you with their norms..

Hahah! Lihat buah apa yg mereka dapat. They end up being a laughing stock. It's like a boomerang. The irony of it..
Kocak abish..!

Btw, I like your honesty in writing this blog yang nggak pake embel2.

Semoga semua makhluk berbahagia
Amin.

Terima kasih Pak Marcell karena sudah berbagi.

Titi said...

semua yang disatukan Tuhan tidak bisa dipisahkan manusia?

bagaimana kita tahu bahwa yg memisahkan itu bukan Tuhan?

buakannnya semua yg terjadi didunia ini adalah kehendak Tuhan, rencana Tuhan.

kalau Tuhan sudah berkehendak, maka kedua manusia itu tidak akan berpisah, tidak ada yang bisa melawan kehendak Tuhan.

jadi yang bersatu dan berpisah adalah atas ijin, kehendak dan rencana Tuhan