Takut Mencintai

Kematian. Sesuatu yang seringkali membuat kita bergidik ngeri. Mengapa? Karena kematian datang seperti maling di malam hari. Tanpa permisi. Tanpa basa-basi. Namun sadarkah kita bahwa kematian itu adalah sesuatu yang alami?

Saya teringat pernyataan seorang bhante, Bhante Uttamo Mahathera, yang bercerita mengenai kematian. Saat itu saya tengah berada di sebuah acara
talk show yang mengundang beliau sebagai pembicara waktu itu. Beliau dengan sangat cerdas menanggapi kematian dan tanggapannya kurang lebih begini:

‘Begitu banyak orang takut menghadapi kematian. Padahal kematian adalah sesuatu yang wajar. Seperti juga kehidupan. Yang membuat kita takut sebenarnya adalah cara menghadapi kematian dan apa saja yang harus kita tinggalkan ketika menghadapi kematian. Berangkat dari cara tentunya kita menginginkan mati yang wajar kalau perlu sambil tidur dan tidak merasakan apapun. Kepinginnya kan begitu. Dan kalau kita berbicara mengenai apa saja yang harus kita tinggalkan, kita berpikir mengenai kekasih hati, keluarga yang kita cintai, harta yang sudah kita tumpuk bertahun-tahun, karier yang menanjak serta popularitas yang tak perlu diragukan lagi. Hal-hal inilah sebenarnya yang lebih membuat kita takut untuk menghadapi kematian dan bukan kematian itu sendiri. Karena kematian tidak bisa tidak harus kita alami. Sekali lagi, kematian adalah hal yang wajar. Seperti matahari yang terbit tentu ada saat dimana dia tenggelam. Semua berubah tidak ada yang kekal. Semua yang ada awal akan berakhir.
Alpha dan Omega’.

Kemudian beliau menambahkan lagi:

‘Pernahkah anda menyadari bahwa jantung kita, yang merupakan salah satu tolok ukur penting dalam tubuh kita, yang menunjukkan bahwa seseorang itu hidup atau mati, sebenarnya membentuk sebuah mekanisme sinergis antara kehidupan dan kematian? Ketika jantung berdetak kita tahu ada momen dimana jantung tersebut memompa dan mengembang kemudian diam dan mengempis secara bergantian. Ketika jantung memompa dan mengembang itulah saat dimana dia ‘hidup’ dan ketika diam dan mengempis itulah saat dimana dia ‘mati’. Jadi sekali lagi, bahkan kehidupan kitapun adalah merupakan hasil kerjasama sinergis antara kehidupan dan kematian. Jadi, sekali lagi, kematian adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu ditakutkan.’

Sayapun jadi teringat, setiap kali saya bersin, Melati selalu spontan berkata:
‘Bless You!’. Ya, karena ketika saya bersin sebenarnya jantung saya berhenti satu detik. Mati satu detik kemudian hidup lagi. Terberkatilah saya ketika saya ternyata masih hidup setelah bersin.

Lebih lanjut saya berpikir: kalau begitu apa sebenarnya yang membuat kita semua pada takut mati? Kalau merujuk pada pernyataan Bhante Uttamo tadi saya lebih fokus kepada alasan yang kedua yaitu mengenai apa saja yang harus kita tinggalkan dibanding mengenai cara kita mati. Karena menurut saya kalau melihat dari cara kita mati jelas sangat
unpredictable. Kebanyakan orang berpikir mending pasrah menjalani saja. Yaah, mau diapain lagi kalau memang matinya harus sakit parah, mengalami kecelakaan atau di-fillet oleh kekasih yang cemburu dan diletakkan didalam kantong plastik di kebun singkong misalnya. Malas ngebahasnya. Tidak akan pernah ada habisnya dan makin sering dibahas yang ada kita makin takut mau ngapa-ngapain. Mungkin keluar kamar aja takut. Hehehe! :)

Kekasih hati, keluarga yang dicintai, karier yang menanjak, harta yang berlimpah serta popularitas setinggi langit menurut hemat manusiawi saya lebih ‘mengerikan’ untuk ditinggalkan. Ditambah lagi dengan adanya bayang-bayang mengenai keluarga yang telantar karena ditinggal mati, anak-anak yang harus berkelahi memperebutkan harta warisan kita serta perusahaan yang bangkrut karena tidak bisa mandiri saat kita tinggalkan. Ngeri.

Kesimpulannya kenapa kita takut mati?
Because we are attached on so many things in life. Kita melekat. Kita belum mampu untuk melepaskan. Sulit untuk detached. Berharap semuanya abadi. Dibawa mati. Dan motivasi yang mendasari kita untuk tetap melekat sebenarnya hanya satu: EGO. Dan ini sebenarnya bertolak belakang dengan konsep cinta yang sering kita gembar-gemborkan dimana-mana. Cinta itu seharusnya membebaskan segala sesuatu. Cinta itu tidak egois. To love is to detach. Mencintai tidak harus selalu memiliki. Karena kalau kita sedang berbicara mengenai kepemilikan berarti kita sedang berbicara mengenai ego. Bukan cinta lagi. Beda cerita. Mencintai berarti bersedia melepaskan kemelekatan termasuk kemelekatan pada ego kita. Dan kita juga sadar bahwa belajar mencintai itu ternyata tidak mudah karena konsekuensinya adalah harus belajar melepaskan. Dan itu adalah cinta yang sebenar-benarnya. Sejatinya cinta.

Jadi, kita sebenarnya takut mati atau takut mencintai? Menurut situ?

Semoga semua mahluk berbahagia

Terima kasih Semesta untuk perjalanan hari ini.

Terima kasih untuk hari Jumat di jalanan Jakarta yang selalu macet parah dan akan selalu menjadi teman setia untuk berlatih kesabaran.

29 comments:

u.n.e.e said...

Death is a certain ending towards a new - and different,beginning.
Love is simpler.But yet much more complicated.
According to my point of view,at least.
At times,I'd rather choose death over love.But then again,to die without love, that would be just....sad.
Not sure if that'll answer the question or even makes any sense at all,but I've recently managed to lose fear upon death.So,just feel like saying something.

*maap untuk ke'tidak-nyambung'annya.Hehe*

Anonymous said...

kematian, simple. what's make death complicated is doing life in too simple way. ketika mati, ga ada lg yang dipikirin kita hanya terima apa yang kita perbuat.
diakui atau tidak kita sebagai makhluk dimata Tuhan.

Death is way of God showing love, He took us back and give us a rest. He took us back so we could only love Him back.

tuh kaan, manusia itu makhluk paling egois yang tercipta di alam raya ini..

piyek said...

Kematian pula yang membuat hidup ini jadi bermakna.

Priscilla said...

love is to detach, cinta tak harus memiliki.. teori menyebalkan tapi kenyataan yang sering kita alami.

jangan pernah mulai mencintai kl blm siap untuk melepaskannya, nda ada yg pernah tau cerita akhirnya seperti apa.

kematian, pulang balik padaNya.. supposed to be we feel happy n comfort to come back home..home sweet home..

Andri said...

Amrozi tidak takut mati soalnya punya keyakinan,bahwa dirinya akan masuk surga.Seperti halnya anak TK yg tidak takut masuk SD,karena sudah mahir berhitung,membaca dan menulis. :D

Hendri said...

Iya, sumber dari segala penderitaan adalah kemelekatan. Karena kita melekat pada sesuatu yg tidak kekal maka penderitaan muncul. Melekat kepada kebahagiaan juga penderitaan, mengapa ?, karena begitu kebahagiaan lenyap maka timbul penderitaan. Yach jadi intinya tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang pantas kita Lekati. Belajarlah dari sekarang mulai melepas apa yang kita miliki mulai dari "Berdana" apapun bentuknya dan berapapun besarnya , sedikit demi sedikit kita akan mengurangi EGO kita. Tq Marcell buat kisahnya.

Be HappY :-)

Ben said...

ya ya ya... kuatir soal kematian bisa karena melekat terhadap yang kita sukai, bisa juga karena kuatir membuat sedih / menderita orang yang kita tinggalkan.

Sue Himawan said...
This comment has been removed by the author.
Anonymous said...

Kematian itu sewajar kehidupan itu sendiri, bahwa kehidupan ini meluncur ke arah yang pasti yaitu kematian adalah benar adanya, cuma waktu nya kapan kita sebagai manusia tidak akan pernah tau...

jadi untuk apa kita takut mati, kalau kematian itu sewajar kehidupan itu sendiri..

Little Miss Dainty said...

Hi Marcell..hope u don't mind me leaving comment/s on ur blog..
Death is something that one can never run from..(unless ur a cat then ur eligible 2 have 9 lives)..ngee.. u will never know when its coming.. that is why we need to prepare ourself 4 d worst..but meantime, while we are still living on the earth..enjoy every seconds of it..

Si Toing said...

Pernah baca "Dipanggil untuk mencinta" - Anthony de Mello ? Bukunya jelek, physically, tapi isinya bagus banget.

To love is to detach.

cyber dreamer said...

nice post...

cinta...

ada yang bilang...

deritanya tiada akhirnya...

tp hidup tanpa cinta....

apa kata dunia!! hehehe ^_^

yoanitya said...

a very warm writing. But I vote for semua orang supaya lebih banyak bahagianya daripada sedihnya.

because we do need to feel sappy and blue once in a while..

cliche sih alasannya; to recognize happiness when it hits your eye =)

Happy blogging!

nikenike said...

bagus sekali tulisannya
berhasil membuat saya berpikir dan merenung.
tulisan ini berhasil membuat kalimat 'cinta tdk harus memiliki' yg selama ini saya cibir menjadi jauh lebih bermakna
gracias

super nyazz said...

hmmm,,
so, apa yang anda takutkan?
takut mati atau takut mencintai..?

in my opinion, kematian memang wajar uk tditakuti. but kita harus siap dgn smwa yg ada. oleh karna itulah boy, berusaha untuk jadi yang terbaik bagi yang lain, tak menabung dosa di pundi kita,,

but marcell, takut mencintai dan takut kematian itu 2 hal yang berbeda jauh batas ketakutannya ^^

saLam.

ordinaryangle said...

yg saya takuti itu di tinggal mati
ketika kita tidak lagi bisa membedakan antara letting go & forgetting everything about the one who left us

qoe2hhh said...

wah bang...jd hrs smakin niat n raji ibdah ne,,mang kematian g bs diterka,tak dpt disangkal,tak dpt dihindar,,
smw yg ud qt dpt bakal sia2 tak guna diakhirnya...
luv uR said bang..

andrew said...

wah tulisanya makin bijak nih

ini ada kata-kata tentang cinta,

dari Tenzin Palmo



"We mistake love and attachment. We think they are the same thing, but actually, they are opposites. Love is 'I want you to be happy.' Attachment is 'I want you to make me happy." ~Tenzin Palmo~"

tinker bell said...

that's right marcell...setuju cinta tak harus memiliki.

gw suka kata-kata lo: "Cinta itu seharusnya membebaskan segala sesuatu. Cinta itu tidak egois. To love is to detach. Mencintai tidak harus selalu memiliki. Karena kalau kita sedang berbicara mengenai kepemilikan berarti kita sedang berbicara mengenai ego. Bukan cinta lagi. Beda cerita. Mencintai berarti bersedia melepaskan kemelekatan termasuk kemelekatan pada ego kita. Dan kita juga sadar bahwa belajar mencintai itu ternyata tidak mudah karena konsekuensinya adalah harus belajar melepaskan. Dan itu adalah cinta yang sebenar-benarnya. Sejatinya cinta".

great article.. gw suka!

Jesus bless u ^-^

manares said...

Kematian adalah hal yang ditunggu dengan kekhawatiran dan tidak mungkin untuk ditolak.
karena itu jangan sekalipun melakukan hal yang mengecewakan diri sendiri dan orang lain.

Success and Wisdom, said...

Salam Kenal,
Namo Buddhaya....,

Artikel yang menarik dan penuh nilai kebijaksanaan. Disaat diri sudah bisa mengendalikan ego, dan ego tidak lagi mengikat diri kita, kebijaksanaan akan dengan sendirinya menyelimuti diri kita, menjadi seorang insan yang dewasa.

Tetap bijaksana dalam perbuatan dan sikap.

Bodhitaruna

hanindyo said...

terimakasih sharingnya,

setelah dulu sering takut ketika mengalami OoBE akhirnya dapat menyadari bahwa kematian adalah proses putusnya kesadaran fisik dengan jiwa dan roh. Jadi kematian itu hanya perpindahan kesadaran saja..

soal perjalanan setelah kematian dstnya.. itu cerita lain.. :D

seringnya bagi jiwa yang masih memiliki banyak emosi dan ikatan, sulit untuk membiarkan Kasih dan Cahaya Tuhan menarik 'ketempat seharusnya'... jadi dibantu tapi 'malah bingung', 'sibuk sendiri'..

semoga bermanfaat
Salam Kasih,

Hanindyo

Anonymous said...

Setuju. Setuju. Setejooong! Tp gue TETEP, mungkin slh satu makhluk EGOIS sejagad, krn aku TAKUT BETTT keilangan my hubby & daughters.. Mungkin mrk adalah bbrp long-lost-soulmates gue dari my previous lives (?)
Sehingga gue tacyut stengah mati ngebayangin (terutama laki gue) mati? Hiiiy.. having the thought of it aja bikin gue bergidik.. Agh tidaak! hehe..
Yg lain2nya, mengenai Cinta Tdk Hrs Memilik & so on.. I REALLY BELIEVE THEM 100%..
Love your thoughts! You are one of those sincerest people I've known in this world!
Have fun & be happy..

Anonymous said...

Ego is responsible for who we are today. Tanpa ego kita tidak akan berusaha untuk menampilkan yang terbaik.
I agree, to love is to be set free. Trust it utmost important. With trust can u trully be free in love.
Death is just another stage of life everyone has to go thru. Bukan takut pada kematian, tapi apa yang akan diperhitungkan selepas mati. Bukan takut akan yang ditinggalkan selepas mati tapi takut akan apa yang ditinggalkan ketika hidup.

RP said...

why are we afraid to die?
Because we know that we have Not done enough. Because we question ourselves have i done the right thing? will i make people that i care about sad when i leave? i can't see their hearts breaking because of me.
Where will i go heaven or hell? Does those places really exist? if it does, have i chosen the right path to go there?
What if they don't exist? will my life just be over like that? just disappear. not present? or will i reincarnate? as what?
the unknown creates fears.
Why fears for the unknown? a waste of time. It's worthwhile to fulfilled our life for the LIFE.
Like what you've said. Love.
just fill your life with love to people around you till it's over flown. In the end on your death bed, there will be only a smile left in you because you know there was no regret..

by the way, nice post and pretty intriguing.
-RP-

Herli said...

Hi, nice writing ^_^

Sebenarnya baru mau nulis di blog sendiri, soal kematian ini, tapi ternyata uneg2 yang mau disampaikan sudah tertuang disini :)

Anyway, saya setuju kalau kematian itu bukan sesuatu yang harus ditakuti. Semuanya adalah proses, termasuk kelahiran dan kematian, perjumpaan dan perpisahan.

Teori yang amat sangat masuk akal, tapi saya tidak ingin munafik, pada prakteknya, saya masih takut pada perpisahan (& kematian).

Hahahahha..

Semoga dengan artikel ini saya "disentil" untuk tidak takut dengan perpisahan :)

Shanty Mahanani said...

Ada yang ditakutkan dari kematian, takut belum bisa maksimal "memainkan kehidupan"! Tanggung jawabnya itu, loh yang berat...!

Blog Cantik
http://pyramid-online.blogspot.com

Anonymous said...

death... atau kematian...
sudah seharusnya kita pergi menemui yang maha esa... kerana dia kita hidup dan pasti kerana dia kita mati...

yang hidup pasti akan mati....

kita semua sayang apa yang ada didunia ini.. our parents , friends .. love ones.. kita nak lihat hidup mereka macamana ...

like for me a single mum.. definitely want to c him grow well n be a superb human being... my son being a man.. a husband.. a father himself... insyallah...

but my real fear is what if i lose him.... that hurts...

Titi said...

kalau menurut Pak Ustadz gw menyitir salah satu ayat dalam kitab suci, semua yang hidup pasti akan mati.
kematian bukan untuk ditakuti tetapi sebagai pengingat agar menyiapkan bekal sebelum mati.

Kalau kita takut, kita tetep akan mati, kalau kita tidak takut, kita juga akan mati....jadi kenapa takut? toh takut gak takut tetep mati .. hehe