Buah Proses

Saya berpisah dengan Dewi. Banyak pihak menyayangkan perpisahan ini. Perpisahan yang menjadi perpisahan paling aneh karena tanpa konflik. Perpisahan yang mengharukan sekaligus membahagiakan. Mengharukan? Sudah jelas karena tidak ada perpisahan yang tidak mengharukan. Membahagiakan? Jelas karena perpisahan saya dengan Dewi membuahkan begitu banyak pelajaran berharga. Pelajaran yang menjadikan diri saya semakin yakin bahwa apapun itu tidak ada satupun yang luput dari proses. Perpisahan inipun hanyalah bagian kecil dari sebuah proses besar perjalanan hidup saya. Saat kami sama-sama jatuh cinta di tahun 2002, menjalani hubungan pacaran selama sembilan bulan hingga akhirnya memutuskan menikah di bulan September 2003 adalah merupakan proses. Dilanjutkan dengan menjalani pernikahan yang tentunya tidak luput dari ups and downs, lahirnya malaikat semata wayang kami, Keenan Avalokita Kirana, hingga akhirnya selama dua-tiga tahun terakhir berdua menyadari dan menerima bahwa kami berdua sudah tidak bisa saling mengisi dan memenuhi. Masing-masing kami bergerak dan bertumbuh menuju arah yang berlainan. Dan semuanya adalah hasil proses. Hasil proses yang aneh seperti banyak orang bilang. Apalagi ketika banyak pihak harus ‘dipaksa’ menerima kenyataan bahwa kami berdua masih saling menyayangi bahkan (tanpa malu-malu) mengatakan masih saling mencintai namun dalam bentuk yang sudah sama sekali berbeda. Kenapa cerai kalau memang saling mencintai? Yah, itulah kami. Hanya kami. Saya dan Dewi. Cinta kami bertransformasi. Dan kami menerima kenyataan itu. Kami telah berproses mengenal satu sama lain dan inilah hasilnya. Hasil dari berproses secara dewasa. Menerima dan akhirnya melepaskan. Kami masing-masing telah berani untuk jujur pada diri sendiri dan itu berharga. Jujur dan legowo bahwa masing-masing kami sudah tidak bisa saling mengisi dan memenuhi. Kami berdua tidak malu mengakui kekurangan kami. Tanpa harus sengaja menciptakan konflik dan saling menyalahkan. Tanpa harus berdrama-drama. Tanpa harus mencari sensasi di infotainment dan akhirnya kehilangan integritas dan jati diri. Yup, aneh memang. Tapi nyata. ‘Believe it, or not!’ kalau kata almarhum Jack Palance. Bukan rekayasa, nggak dibuat-buat. Saya dan Dewi nggak butuh sensasi. Nggak perlu. Kerjaan kami sedikit banyak selalu berhubungan dengan sensasi dan itu sudah cukup buat kami. Nggak kepikir. Boro-boro mau rekayasa-rekayasa. Nggak ada waktu, joo! :)

Satu hal lain yang juga berharga yang saya dapatkan dari proses dua-tiga tahun belakangan ini adalah SADAR dan SABAR. Orang sabar seringkali dihina, direndahkan, dianggap nggak punya pendirian, pengecut. Dan orang sadar seringkali dianggap sok suci, sok tahu dan sok benar. Saya hanya tersenyum. Kenapa? Karena kesadaranlah yang membawa saya akhirnya memilih untuk sabar menjalani proses saya. Ketika masalah berat mendera saya, saya memilih untuk tetap berada dalam keadaan yang stabil, yang
sober walaupun, jujur, sama sekali tidak mudah. Karena saya yakin hanya orang yang stabil dan sober yang bisa menyelesaikan masalah dengan lebih baik. Saya tidak akan merusak kesadaran saya karena kesadaran adalah modal utama saya menjalani proses hidup ini. Saya menjadi tahu betul apa yang saya lakukan dengan segala akibat dan resikonya. Saya tidak takut dan tidak lari karena saya sadar.

Kesimpulan saya justru orang pengecut adalah orang yang tidak berani berproses. Orang seperti ini punya kecenderungan untuk mempercepat proses, bahkan kalau mungkin (
which is not possible) tidak perlu melewati proses karena yang bersangkutan tidak berani melewatinya dengan sadar, sabar dan tawakal. Orang yang pengecut adalah orang yang tidak sabar. Dan kecenderungan orang yang tidak sabar adalah menyalahkan orang yang sabar dengan mengatakan bahwa sabar adalah bentuk dari sikap pengecut, tidak jantan. Lucu. Sekali lagi saya hanya tersenyum, tertawa dan kadang terpingkal-pingkal sambil garuk-garuk aspal. Sabar nggak ada hubungannya ama kejantanan. Kejantanan itu manifestasi ego. Kejantanan itu problematika ranjang. Ayaaaam kali jantaaan, mas Booy!:)

Saya juga sadar bahwa akhirnya dalam menjalani hidup tidak ada yang namanya benar atau salah. Yang ada hanyalah motivasi baik dan motivasi keliru. Perbuatan baik kalau didasari oleh motivasi keliru hasilnya tidak membahagiakan. Perbuatan tidak baik juga akan berkurang efek buruknya kalau dimotivasi oleh sesuatu yang baik walaupun tetap perbuatan itu tidak baik.

Kalau kita sadar bahwa segala sesuatu harus melalui proses, kita tidak perlu mempercepatnya hanya karena ingin segera bertemu dengan hasil akhir. Hasil akhir pasti datang kook. Nggak usah dipaksa dipercepat. Segala sesuatu sudah ‘tertulis’. Nggak perlu dipertanyakan lagi. Kuncinya adalah yakin dan sadar kemudian jalani proses sebaik-baiknya dengan tetap konsentrasi pada
present time, dan.. SABAR. Sabar bukan berarti menunggu. Bego kalo cuman nunggu doang. Sabar disini artinya bijaksana, tidak rusuh, tidak tabrak sana-sini kayak ayam rabun senja, kayak lalat terbang pas udah maghrib. Kaleeeum tapi pasti. Itu saja yang saya yakini. Percaya atau tidak kesabaran telah membentuk saya menjadi manusia yang lebih kuat dan tahan banting. Berani keluar dari comfort zone. Kesabaran juga telah menuntun saya kepada kebahagiaan yang tengah saya jalani sekarang ini. Amen to that. Hidup sabar! :)

Yah, apa mau dikata, itulah proses yang saya hadapi. Itulah hidup saya. Mohon maaf kepada mereka yang mencerca saya tapi tidak pernah saya gubris. Mohon maaf kepada mereka yang merasa lebih tahu tentang hidup saya padahal tidak sama sekali. Mohon maaf kepada mereka yang sempat turut serta dalam proses hidup saya dan akhirnya memilih untuk mundur teratur karena tidak sabar, tidak tawakal, tidak percaya.
That’s your choice, not mine. Wong sini berproses sama kayak situ kok. Muassalahmu dewe kalau situ nggak sabar! Hehehehe! :)

Buah dari kesadaran dan kesabaran itu selalu manis. Prosesnya yang tidak selalu mulus dan manis. Kita semua tahu itu. Orang
gemblung juga tahu :)

Semoga semua berbahagia. 

Terima kasih kepada yang tersayang Dewi Lestari,
The Writer, ibu dari malaikat kecil saya, Keenan Avalokita Kirana, untuk perjalanan hidup yang tak tergantikan ini. Atjeu, kita sudah sama-sama gila sekarang taoook! Dewa Tapir siap menginisiasi kita, tjeuu. Hapunten Gusti nu Aguuuuung! :)

Terima kasih kepada sahabat saya Reza Gunawan,
The Healer, atas kesabaran, pengertian dan cintanya pada Dewi dan Keenan. Appreciate it a lot, brother Manilow! :)

Terima kasih paling besar kepada kekasih saya, Melati Adams,
The Mother, yang telah menunjukkan kesabarannya mengikuti saya menjalani proses ini. Kesabaran kamu adalah kekuatan sekaligus pelajaran berharga untuk saya. Patience is a virtue. Love you, B! :-*

Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.

PS. Mau martabak keju ama juice strawberry?
Anyone? :)

9 comments:

Luscious Cupcakes said...

As much as ur dear love needs to crack a lil bit more harder than usual to understand but I do feel every inch of what you have just laid on this post. Not only is being patient is to wait, but to surrender and believe that at the end, the grass is always greener on the other side.

Bottom line: Ki, I am very proud of you and will always be by your side. You have posted the one post that touched me deeply of how u truly have felt. You have just won an award from me: SYABAS KEPADA ANDA!!

Loving you always,
Melati

Jenny Jusuf said...

"Buah dari kesadaran dan kesabaran itu selalu manis. Prosesnya yang tidak selalu mulus dan manis."

Kalimat ini.. sungguh nendang ;-) Kalau buat saya, prosesnya kadang bikin pengen garukgaruk tanah, jilatjilat aspal. ;-D

NAo said...

hi mas..
lama ga ketemu yaa.. hope u're doing ok. well, from what i read, u're doing great ya mas.. :)
thx for sharing thru ur blog, mas.. it's good to learn from other people's process :)
hv a blessed day :)

- nana (bubu)

Dewi Lestari said...

Ikut dalam barisan Rima... I also think this is a very heartfelt post of yours. And I'm proud of you, proud of all of us. We've passed the storm and arrived at the other side safely, happier than ever.

Not enough words to cover all the lessons we've gone through, but I must say: it has been such an honor to travel with you in life.

Have a lovely, rich, and meaningful journey ahead. May we all find the diamond within.

~ D ~

PS. Diskon Toko Yogya sudah diperpanjang hingga Sept '09. Sebagai tanda persahabatan dan kekeluargaan di antara kita, owe izinkan yu orang untuk pake kartu diskon owe... lumayan cuan satu prosen :)

Rima's Historia said...

DEWI-Hahaha...Ok I can't stop myself from laughing hysterically abt the discount card.Reading what u just wrote cracked me up big time.

Mimi Malik said...

Life is a process, we are a process. How we pursue our happiness is the real definition, the final result is a lesson, experience and bonus. We learn from our mistake and failure, even the worst one. And maybe for you, this phase of you life, this decision.. if worth a lifetime process. I've never been there, i dont know how it feels, i dont even have any experience in big problems (yes, I'm a early 20. But read this blog, made me awake that life's hard, it's messy but happiness awaits for me, somewhere and somehow, i'll find the way to reach it.

I don't know why we put things off, but if I had to guess, I'd have to say it has a lot to do with fear. Fear of failure, fear of rejection, sometimes the fear is just of making a decision, because what if you're wrong? What if you're making a mistake you can't undo? Still sometimes we have to see for ourselves. We have to make our own mistakes. We have to learn our own lessons. We have to sweep today's possibility under tomorrow's rug until we can't anymore. Until we finally understand for ourselves what Benjamin Franklin really meant. That knowing is better than wondering, that waking is better than sleeping, and even the biggest failure, even the worst, beat the hell out of never trying.

jerry said...

Bang, ikutan komen dikit ya.. bukan sok basa-basi, i hope :D

garuk-garuk aspal tuh asli kurang kerjaan banget, tp jilat-jilat aspal tuh dah gak terkatakan lagi, gak ketolong lagi wakakkaka.. ROFL.

Belakangan juga selalu ada 2 kata yg jadi prinsip aku, Sadar dan Sabar, iMo, stelah aware, patience akan berkembang mengikuti. Sampai td nemu blognya bang Marcel dan mendapat afirmasi hehe..

oya, nanya mengenai nama keenan, yg benar mana sih? keenan avalokita atau sidharta ya?

uhm.. trus sedikit protes (anggap aja saran :P)
backgroundnya jangan item dong.. tulisannya yg putih jadi kontras banget.. jadinya seabis baca mata jd rada pusing, mana ada barisan putih berbayang dlm penglihatan.
mengikuti dualitas item-putihnya yin-yang ya? gimana kalo background putih tulisan item bang?

Ah sekian aja.. terima kasih dah dikasi kesempatan sekedar numpang lewat kasih opini.

P.S. tawaran martabak dan juice masih berlaku? slurp.. =P~

diandra said...

terlambat comment,tp gpp kan namanya juga baru baca.Sabar dan sadar,2 kata yang sederhana tapi sulit untuk dijalani.Apapun keputusan kalian,itu adalah jalan hidup kalian,tp bener nih bukan karena masing2 dah jln with someone else.hanya kalian dan Tuhan yang tau.

Mimi Hilzah said...

Wow...ibarat seks, membaca blog anda seperti sebuah klimaks yang terjadi berulang-ulang (Waaaa....)
Hari ini saya tercengang dengan 'isi' Marcell yang sy kagumi bentuk fisiknya doang sebelumnya...
two thumbs up, boleh four kalo diijinin untuk menyertakan jempol kaki saya, hehe....
Thanks 4 the inspiration...like reading a life book of the real Tao... My highest appreciation to u, Sir...