<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796</id><updated>2012-01-28T11:20:51.422+07:00</updated><title type='text'>The Tao of Marcell</title><subtitle type='html'>Love Thyself, Watch Thyself</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-3804878672850565067</id><published>2011-07-12T15:52:00.002+07:00</published><updated>2011-07-12T15:57:06.372+07:00</updated><title type='text'>And The Story Continues...</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Pn_BmI3J0OM/ThwMFf_0wyI/AAAAAAAAAFA/1fi5Z8o-Blw/s1600/IMG_0445.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 314px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Pn_BmI3J0OM/ThwMFf_0wyI/AAAAAAAAAFA/1fi5Z8o-Blw/s320/IMG_0445.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628386922934354722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--StartFragment--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;mso-pagination:none;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;mso-bidi-font-family:Arial;font-size:13.0pt;"&gt;Nama yang sudah tidak asing lagi bagi pecinta musik Indonesia. Marcell Siahaan atau lebih dikenal sebagai Marcell memulai karirnya di industri musik Indonesia ditahun 2002 lewat lagu 'Hanya Memuji' ciptaan Melly Goeslaw, duetnya bersama Shanty didalam kompilasi “Duet Cinta” produksi Warner Music Indonesia. Banyak lagu hits yang telah dihasilkan oleh vokalis yang sudah mengenal banyak referensi musik sejak kecil ini. Dan selain musik, solis yang juga menggemari olah raga beladiri Tai-Chi, Wing Chun, Jeet Kune Do dan Pencak Silat ini juga mendalami dunia seni peran. Tiga buah film sudah dibintanginya yaitu “Andai Ia Tahu” (2003), “Laskar Pemimpi” (2010) dan “Madame X” (2010).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;mso-pagination:none;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;mso-bidi-font-family:Arial;font-size:13.0pt;"&gt;Bersama Warner Music Indonesia, Marcell sudah menghasilkan tiga buah lagu yaitu ‘Hanya Memuji’, duetnya bersama Shanty dalam kompilasi “Duet Cinta”, ‘Ketika Kau Menyapa’ dan ‘Heaven Is Not’ yang&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;  &lt;/span&gt;ada didalam album soundtrack film “Andai Ia Tahu” yang dibintanginya bersama Rachel Maryam, dan tiga buah album yaitu “Marcell” (2003) dan “Marcell: Repackaged (2004) dengan tambahan dua lagu baru ciptaan Tengku Shafick yaitu ‘Ku Tak Mendua’ dan ‘Mendendam’, “Marcell: Denganmu” (2006) dan “Marcell: Hidup” (2008). Setelah Marcell menyelesaikan kontrak rekamannya bersama Warner Music Indonesia untuk kemudian bergabung dengan E-Motion Entertainment ditahun 2010, Marcell mengeluarkan dua buah lagu yaitu ‘Takkan Terganti’ ciptaan Yovie Widianto dan diaransemen oleh Tohpati diawal tahun 2010 dan ‘Peri Cintaku’, masih ciptaan Yovie Widianto namun diaransemen oleh Andi Rianto dipertengahan tahun 2010. Dan  ‘Sisa Semalam’, lagu ketiga yang pada akhir April 2011 lalu baru saja dirilis,  mendapat respon yang sangat baik dari pecinta musik Indonesia. Lagu ini merupakan cover version dari lagu yang diciptakan dan dipopulerkan oleh grup asal Bandung, Java Jive sekitar awal tahun 90-an dan Marcell-pun mampu membawakannya dengan sangat apik, unik dan berbeda dari versi aslinya.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="  ;font-family:Helvetica;font-size:17px;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;mso-pagination:none;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;mso-bidi-font-family:Arial;font-size:13.0pt;"&gt;Album ini keseluruhan berisi sebelas lagu. Selain 'Takkan Terganti', 'Peri Cintaku', dan 'Sisa Semalam', dialbum ini ada beberapa materi baru seperti 'Cinta Untukmu' (ditulis oleh Toma Pratama), 'Melati' (ditulis oleh Mhala Numata), 'Dia Yang Kucinta' (ditulis oleh Tengku Shafick), 'Nusantaraku' (bertemakan kecintaan Marcell pada Bhinneka Tunggal Ika). Yang membuat menarik, Marcell juga berduet dengan salah satu solis wanita terbaik di negeri ini yaitu Dewi Sandra pada lagu berjudul 'Tanpa kata ciptaan Andi Rianto dan sutradara serta &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;lyricist&lt;/i&gt; handal Monty Tiwa.. Tidak Hanya Dewi Sandra, Marcell juga berkolaborasi dengan Rayi Putra, anggota dari  grup RAN di lagu 'Permainan Cinta'. Selain itu ada dua lagu lain yang juga merupakan 'cover version' yaitu lagu 'Mau Dibawa Kemana' yang diciptakan dan dipopulerkan oleh Armada, dibawakan kembali dengan aransemen yang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;jazzy&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;broadway-ish&lt;/i&gt;, sangat berbeda dari versi aslinya. Dan lagu lainnya adalah 'I Knew I Loved You' yg diakhir tahun 90-an dipopulerkan oleh grup Savage Garden dari Australia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;mso-pagination:none;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;mso-bidi-font-family:Arial;font-size:13.0pt;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;mso-pagination:none;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;mso-bidi-font-family:Arial;font-size:13.0pt;"&gt;Album yang sangat ditunggu kemunculannya ini setelah tiga tahun dalam penantian, "And The Story Continues..." merupakan “cerita cinta” Marcell yang masih dan akan terus berlanjut. 'Indonesia masih membutuhkan cinta, bohong kalau bilang tidak', katanya mengutip pernyataan Yovie Widianto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;mso-pagination:none;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;mso-bidi-font-family:Arial;font-size:13.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;mso-pagination:none;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;mso-bidi-font-family:Arial;font-size:13.0pt;"&gt;Album ini juga menjadi sangat spesial karena dibantu oleh penata musik Indonesia bertaraf Internasional yaitu Andi Rianto, yang ikut menggarap kesepuluh lagu dalam album ini. Selain kejeniusannya mengaransemen, Andi Rianto dipilih karena kepiawaiannya menciptakan 'efek visual' disetiap aransemennya, yang mampu membuat pendengarnya membayangkan sendiri jalan ceritanya di kepala masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;mso-pagination:none;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;mso-bidi-font-family:Arial;font-size:13.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;mso-pagination:none;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;mso-bidi-font-family:Arial;font-size:13.0pt;"&gt;Selamat menikmati lanjutan cerita Marcell ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--EndFragment--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-3804878672850565067?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/3804878672850565067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=3804878672850565067&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/3804878672850565067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/3804878672850565067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2011/07/nama-yang-sudah-tidak-asing-lagi-bagi.html' title='And The Story Continues...'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Pn_BmI3J0OM/ThwMFf_0wyI/AAAAAAAAAFA/1fi5Z8o-Blw/s72-c/IMG_0445.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-6504046112405469555</id><published>2011-07-11T16:53:00.007+07:00</published><updated>2011-07-11T17:22:23.823+07:00</updated><title type='text'>Saya (Akhirnya) Menulis (Lagi)</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-tOji-uG4daY/ThrI6NWlN5I/AAAAAAAAAE4/LkrJmfuqODI/s1600/IMG_0354.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 239px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-tOji-uG4daY/ThrI6NWlN5I/AAAAAAAAAE4/LkrJmfuqODI/s320/IMG_0354.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628031586695198610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--StartFragment--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Helvetica;"&gt;Apa kabar semuanya, sahabat-sahabat? Saya yakin kita semua dalam keadaan baik dan tak kurang suatu apapun saat ini. Sebelumnya, saya minta maaf sekali saya baru kali ini punya kesempatan untuk meng-&lt;i&gt;update&lt;/i&gt; blog setelah dalam waktu cukup lama tidak terjadi perubahan yang sangat signifikan. Maapken daku, teman-teman. Karena banyak hal harus dikerjakan dan diperbaiki sehingga menyita waktu dan konsentrasi saya untuk kembali menulis lagi. Jujur sudah banyak hal terjadi dalam beberapa waktu belakangan ini. Semuanya berlangsung begitu cepat namun padat secara konten. Dan karena begitu banyak dan padatnya inilah saya akan coba ceritakan nanti dalam &lt;i&gt;posting-posting&lt;/i&gt; berikutnya. Selain biar tidak kepanjangan di-&lt;i&gt;posting&lt;/i&gt; ini, juga supaya lebih fokus ceritanya. Semoga bisa mengobati kekangenan-kekangenan yang bergelora pada mahluk yang fana ini. :))&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:Helvetica;"&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--EndFragment--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-6504046112405469555?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/6504046112405469555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=6504046112405469555&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/6504046112405469555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/6504046112405469555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2011/07/saya-akhirnya-menulis-lagi.html' title='Saya (Akhirnya) Menulis (Lagi)'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-tOji-uG4daY/ThrI6NWlN5I/AAAAAAAAAE4/LkrJmfuqODI/s72-c/IMG_0354.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-4176473174002727768</id><published>2009-09-12T15:16:00.010+07:00</published><updated>2009-09-13T19:10:44.737+07:00</updated><title type='text'>Nasionalisme?</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Saya bahagia sekali. Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 7 September 2009, saya telah menyelesaikan rekaman duet pertama saya dengan penyanyi solo wanita berbakat asal Malaysia, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Dayang Nurfaizah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; di Kuala Lumpur, Malaysia. Proyek rekaman duet ini adalah proyek yang tertunda selama hampir 4 tahun dikarenakan masalah (basi) ‘birokrasi’ label. Kami menyanyikan sebuah lagu berjudul ‘Sayang’ yang diciptakan oleh seorang gitaris dan produser muda berbakat asal Malaysia, Omar Khan serta lirik yang ditulis oleh adiknya sendiri, Nuur Iman. Ditemani &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;road manager&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; saya dari &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Millionaires Club Management&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, Iraz Siregar serta dua sahabat saya Shaliza ‘Liza’ Kader Sultan (manajer Dayang Nurfaizah) dan Sharina Ahmad, dan dibantu Zain Almohdsar sang operator studio, kami berhasil menyelesaikan proses rekaman lagu itu dengan baik sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih sekali lagi dari hati yang paling dalam untuk Dayang, Liza, Sharina, Omar dan Zain atas kerendahan hati, keramah-tamahan, profesionalisme serta persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Selamat Hari Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis memang. Disaat dimana segelintir masyarakat (saya beranikan diri untuk mengatakan segelintir karena memang tidak semuanya) di negara saya tengah 'kebakaran jenggot' karena 'merasa' banyak ‘budaya’-nya dicuri, saya justru berkolaborasi. Banyak juga yang berkomentar atas keputusan saya karena merasa takut kerjasama kami suatu saat akan menjadi kontroversi. Saya tidak takut. Saya tidak terpengaruh. Peduli setan. Saya hanya melakukan suatu pekerjaan yang saya cintai dengan orang-orang yang juga saya cintai. Dan ini bukan sebuah bentuk tindakan yang kontra-nasionalis hanya karena saya melakukannya dengan orang Malaysia. Karena sekali lagi, tidak semua orang Malaysia berpikiran sempit. Dan tidak semua orang Indonesia kebakaran jenggot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, apa sih sebenarnya nasionalisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dengan sok-sokan melakukan aksi '&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;sweeping&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;' warga negara Malaysia yang dilakukan di daerah Menteng, Jakarta Pusat yang (memalukannya) ternyata hasilnya nihil karena tidak ada satupun orang Malaysia yang lewat? Apakah dengan berorasi sambil menyebarkan spanduk dan pamflet bertuliskan 'Malaysia=Malingsia'? Apakah dengan sok-sokan bakar-bakar bendera Malaysia (sedangkan di Malaysia tidak ada satupun yang melakukan hal yang sama) tanpa pernah memikirkan efeknya pada hubungan bilateral yang sudah terjalin baik sejak dulu? Apakah preman-preman (ya, PREMAN, karena mereka bukan aparat berwenang serta tidak punya dasar hukum yang kuat dan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;valid &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;untuk melakukan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;sweeping&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; sehingga lebih mirip tukang palak di terminal bis) kampungan yang melakukan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;sweeping&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; ini memikirkan bahwa ada jutaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia dan tentunya ini akan berakibat buruk pada para pekerja Indonesia ini jika mereka dipulangkan? Karena saya yakin, preman-preman kampungan dan pahlawan-pahlawan pembela 'kebetulan' ini tentunya tidak akan pernah sanggup memberi makan (apalagi memberikan lapangan pekerjaan) kepada para TKI ini jika mereka dipulangkan. Ya, merekalah justru 'teroris-teroris' yang merusak citra bangsanya sendiri, yang membuat orang luar malas dan takut untuk datang ke Indonesia, yang membuat konser-konser musik mancanegara batal karena &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Travel Warning&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, yang membuat rupiah kita melemah, yang menyengsarakan rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih sedihnya lagi, banyak aksi seperti ini dilakukan dan dimotori oleh 'mahasiswa' yang 'katanya' merupakan generasi intelek, generasi terdidik. Teman-teman mahasiswa, saya mohon dengan sangat: tolong jangan sampai kebablasan. Jangan keblinger. Jangan hanya berbekal pengalaman karena banyaknya revolusi fisik didalam sejarah negara kita yang terjadi karena dimotori mahasiswa, lalu kemudian menganggap bahwa segala-galanya harus diselesaikan dengan demonstrasi, dengan protes-protes fisik sampai konflik dengan aparat keamanan dan berakhir dengan tindakan-tindakan vandalis. Apapun itu, tindakan demonstrasi, protes-protes fisik dan (apalagi) tindakan-tindakan vandalis tetaplah menganggu stabilitas. Setiap manusia punya hak untuk hidup aman, tenteram dan tenang, teman-teman. Pikirkan mereka-mereka yang juga punya kepentingan yang lain diluar kalian, karena demonstrasi-demonstrasi ini juga seringkali menimbulkan kemacetan lalu lintas dan keresahan sehingga mengganggu banyak sekali kepentingan. Lakukanlah dengan sadar dan bijak, prosedural dan tertata. Semua ada jalurnya, aturannya. Jangan hanya rusuh dan emosional saja. Jangan sampai kata 'intelek' yang menjadi label mahasiswa kehilangan 'in' menjadi tinggal 'telek'-nya. Ingat, tindakan-tindakan seperti ini TIDAK SELAMANYA efektif. Kalau kemarin-kemarin mungkin dirasa efektif, belum tentu hari ini. Jadi &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;please&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, hati-hatilah, teman-teman mahasiswa. Karena reformasi yang keblinger, sesuci apapun tujuannya, akan tetap menyengsarakan banyak orang. Jangan perburuk lagi keadaan ini. Kasihan rakyat kita. Saya mohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang punya cara pandang. Berbeda-beda memang. Tapi bukanlah cara pandang sempit dan terbelakang yang hanya berujung pada penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan reaktif. Pikir baik-baik sebelum bertindak. Jangan seperti anak kecil yang merengek dan langsung marah-marah, banting-banting barang ketika mainannya diambil. Padahal kalau mainannya tidak disentuh, anak itu juga lupa kalau dia pernah punya mainan. Jangankan diurus, diingatpun tidak. Saya merasa banyak dari kita yang bersikap seperti itu saat ini. Berlebihan dalam menanggapi apapun termasuk problematika budaya ini. Santai saja, tapi tetap waspada, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;aware&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;. Sikap emosional malah seringkali membuat kita kehilangan kewaspadaan kita, keajegan kita. Tetap terima kenyataan bahwa kita ini masih serumpun dan sama akar budayanya, suka atau nggak suka, enak nggak enak. Apresiatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin saya mendapat kesempatan berbicara dengan seorang musisi dan pencipta lagu senior yang juga seorang pakar Hak Cipta (&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Intelectual Property Right&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;) yang bernama &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;James F. Sundah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;. Beliaulah pencipta lagu legendaris 'Lilin-lilin Kecil' yang pernah dinyanyikan oleh almarhum Chrisye dulu. Beliau berkata pada saya bahwa sekarang ini tengah terjadi perdebatan apakah &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Folklore&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; atau &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Budaya Asli &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;akan tetap dimasukkan kedalam kriteria Hak Cipta atau tidak. Selama ini &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Folklore&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; sudah termasuk dalam perlindungan Hak Cipta dan kenyataan ini sebenarnya menyulitkan dalam pembuktian. Mengapa? Karena cukup sulit ternyata untuk menentukan originalitas budaya asli disebabkan banyaknya percampuran budaya. Banyak sekali kemiripan budaya kita bukan hanya dengan budaya bangsa serumpun saja tapi juga dengan bangsa-bangsa lain. Pulau-pulau yang tadinya bersatu, namun karena peristiwa alam, terpecah-pecah menjadi 13.000 lebih pulau. Ditambah lagi dengan proses fusi ataupun asimilasi budaya sebagai konsekuensi perdagangan dan persinggahan antar bangsa. Indonesia, karena memang sejak dulu sudah menjadi tempat persinggahan dan perdagangan antar bangsa, akhirnya memiliki 'budaya asli' yang kaya akan percampuran dengan berbagai macam budaya luar. Ada percampuran dengan budaya Cina, Arab, Portugis, dan banyak lagi. Dan percampuran itu bisa terlihat jelas dalam berbagai produk seni musik, tari, beladiri, bahasa dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin sulit akhirnya menemukan dan mengklaim mana budaya asli kita dan mana yang bukan. Perbedaannya semakin tipis. Dan, arsip sejarah yang kita milikipun ternyata masih kalah lengkap dibandingkan arsip sejarah Indonesia yang tersimpan di Negeri Belanda, mantan 'penjajah' kita. Kita hanya punya data sekitar 40 persen dari data asli yang kesemuanya justru dimiliki dan tersimpan di negara lain. Sedih. Ternyata kita masih banyak belum tahu tentang diri kita. Lebih banyak tahu orang lain dibanding kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliaupun mengingatkan bahwa negara kita adalah negara hukum. Oleh karena itu kasus Tari Pendet (yang orang Indonesia sendiri kebanyakan tahunya Tari Bali, bukan Tari Pendet), kasus Batik, kasus Reog, semuanya adalah masalah hukum Hak Cipta karena kesemuanya termasuk &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Folklore&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;. Jadi, kasih kesempatan  hukum yang menyelesaikannya. Kasih kesempatan untuk dilakukannya perundingan antar negara dengan jalan damai. Jangan kebanyakan protes dan bilang bahwa kondisi hukum kita sudah lemah dan rusak kalau pada kenyataannya saja kita sendiri masih meremehkan bahkan melanggar hukum, tidak menghormati. Masalah hukum adalah masalah kita bersama, bukan melulu masalah pemerintah. Beri kesempatan bagi hukum untuk bisa efektif ditegakkan. Bantu negara ini memperbaiki citra sebagai negara hukum yang bermartabat. Kalau memang pemerintah dinilai lamban dalam menyelesaikan masalah ini, tolong, pakailah cara-cara yang terhormat. Tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang berbudaya dan intelek. Jangan hanya sekedar bangga bahwa kita punya banyak sekali budaya tanpa pernah mengerti dan mengakar. Sayapun setuju dan mengakui, walaupun nasionalisme hanyalah sebuah konsep, kita tetap memerlukannya. Penting untuk jati diri kita, supaya kita tidak dianggap remeh dan diinjak-injak. Tapi bukanlah jenis nasionalisme yang terbelakang, nasionalisme kosong yang kerap terjadi seperti sekarang ini. Bukan dengan melakukan tindakan-tindakan yang justru mempermalukan diri kita, bangsa kita sendiri. Kalau kita tidak ingin diremehkan dan diinjak-injak, jangan melakukan tindakan-tindakan yang justru meremehkan dan merendahkan kita, merusak jati diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi: JANGAN MUDAH terpengaruh begitu saja pada media jurnalisme. Saya mampu katakan bahwa tidak semua media jurnalisme mampu dengan bijak dan seimbang dalam pemberitaan. Kitalah yang harus sadar dan cermat. Mana yang benar-benar berita, mana yang sekedar provokasi, ngompor-ngomporin, manas-manasin. Banyak media jurnalisme yang seharusnya memberikan informasi yang edukatif,  yang seharusnya melaksanakan sistem &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;check and balance&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, malah menjadi menurun kualitas pemberitaannya karena terpengaruh oleh 'mental' media jurnalisme hiburan (baca: infotainmen) yang kini lebih sarat unsur-unsur komersil dan hiburan ketimbang edukasinya. Hati-hati, banyak menonton infotainmen bukan berarti mengubah mental kita menjadi berlebihan, dramatis dan 'lebay', kaan? Tetap gunakan nalar dan hati. Kesadaran tetap nomor satu agar kita tidak mudah terprovokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat para pengguna laman f&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;acebook&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, bijaksanalah! &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Please&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, nggak usah buat grup-grup provokator di &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;f&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=""&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;acebook&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; atau nyebar-nyebarin &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;thread&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; yang isinya provokasi untuk melakukan 'ganyang-ganyangan'. Nggak usah nyebar-nyebarin kebencian. Kalo lo benci itu masalah lo sendiri, nggak usah ngajak-ngajak. Nggak semua orang harus ikut-ikutan benci. Gua nggak tertarik, prén. Sumpah. Jijay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, satu lagi bahan introspeksi: selain pembajakan yang memang menjadi tren di negeri ini, banyak iklan produk di TV yang menggunakan lagu-lagu tema yang mirip bahkan cenderung 'mencuri' dari lagu-lagu yang beredar diluar negeri. Bahkan ada satu produk makanan instan yang terang-terangan mengambil lagu dari sebuah grup musik dalam negeri kita (hiks!) tanpa pernah meminta ijin (apalagi membayar royalti) kepada grup musik penciptanya. Ya, saya tahu kalau mendapatkan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;proper licensing &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;dari sebuah lagu tentunya akan membuat biaya produksi membengkak karena harus bayar royalti. Tapi tolong dipikirkan: royalti adalah HAK, boss. Hak atas jerih payah dan kerja keras kita, para musisi. Sama-sama cari makan kita, boss. Masih pada kurang puas juga? Ingat, menjiplak, ya tetap menjiplak. Mencuri ya tetap mencuri. Tidak hanya dihitung berdasarkan berapa not yang kita ambil, berapa nada yang kita jiplak, tapi juga substansi lagunya. Dengan adanya unsur kemiripan yang menimbulkan kesan atau mengingatkan seseorang akan lagu tertentu, sebenarnya sudah mampu dijadikan dasar untuk menggugat pelanggaran hukum ini.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Well&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, sebenernya nggak perlu marah-marah berlebihan ketika budaya kita, karya kita dicuri orang lain karena kitapun ternyata masih belum mampu menghargai hak intelektual orang lain bahkan hak intelektual bangsa sendiri. Kita masih menjiplak, membajak, mencuri karya bangsa sendiri, mengeruk keuntungan finansial daripadanya. Kita menikmati hasil jiplakan, bajakan dan curian beserta turunan-turunannya. Jangan berbicara nasionalisme secara berlebihan dulu, deh. Nggak perlu menjadi manusia-manusia yang ultra-nasionalis kalo ternyata yang kita bela mati-matian adalah bangsa yang kebanyakan orang-orangnya masih berprofesi sebagai pembajak-pembajak profesional. &lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;PERBAIKI DIRI LEBIH DULU, nggak usah 'lebay' :)&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Introspeksilah, mungkin ini buah dari karma yang kita semua lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta atas perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, oom James! :)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;"Nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan." - &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;koil&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; -&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-4176473174002727768?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/4176473174002727768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=4176473174002727768&amp;isPopup=true' title='25 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4176473174002727768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4176473174002727768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2009/09/nasionalisme.html' title='Nasionalisme?'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>25</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-9025143137207804243</id><published>2009-08-25T12:20:00.008+07:00</published><updated>2009-09-01T22:04:41.696+07:00</updated><title type='text'>Puasa</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Bulan puasa. Toko-toko yang mendadak menjadi cepat sekali tutup. Pengemis dan pengamen (baca: orang-orang yang tidak terlalu ingin untuk bekerja keras) makin banyak berkeliaran dijalan-jalan. Pengendara kendaraan bermotor yang mendadak jauh lebih beringas dan agak sedikit lupa aturan ketika waktu mendekati pukul 6 sore. Kemacetan lalu lintas yang lebih kompleks. Konsentrasi kerja yang menurun. Mobilitas yang melambat. Emosional dan sensitif. Banyak &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;excuses &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;yang tidak perlu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari segala fenomena diatas tetaplah bulan puasa adalah bulan penuh berkah. Mengapa penuh berkah? Karena dibulan ini kita diberi kesempatan ‘lebih’ untuk introspeksi. Ada yang komentar: 'Lho, bukannya introspeksi itu harusnya setiap hari? Nggak usah nunggu bulan puasa kaliii?' Saya jawab: Iyaa, makanya saya bilang ‘lebih’ karena dibulan ini kita (ceritanya) difokuskan, diniatkan lebih serius lagi :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pendapat saya bulan puasa adalah bulan dimana kita semua (saya tekankan: SEMUA) belajar untuk introspeksi, belajar untuk apresiatif yang akhirnya menjadikan kita bijaksana dan seimbang. Momen ini penting bukan hanya untuk saudara-saudara saya yang muslim tapi juga saya beserta saudara-saudara saya yang non-muslim. Kita latihan bersama-sama sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpuasa atau tidak berpuasa kedua-duanya adalah sama-sama pilihan bebas yang harus dihormati dan dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berpuasa menyadari bahwa yang dikuatkan dalam menjalankan ibadah puasa adalah iman terhadap godaan serta keteguhan hati untuk menerima kenyataan bahwa banyak juga orang lain yang tidak berpuasa. Keteguhan hati untuk memberikan keleluasaan kepada orang lain untuk memilih jalannya masing-masing, apakah mau berpuasa atau tidak berpuasa. Agak menjadi lucu memang ketika orang yang tidak berpuasa harus menerima ‘teguran’ dari orang-orang yang berpuasa ketika kedapatan sedang makan dibulan puasa. ‘Hargain dong orang puasa! Jangan makan depan orang puasa!’ begitu protesnya. Lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak berpuasa juga menyadari bahwa banyak yang memilih untuk berpuasa. Apresiatif. Bukan toleransi saja. Mengertilah lebih. Bahwa pada kenyataannya akan banyak orang menjadi tidak terlalu kreatif, menjadi emosional dan sensitif karena menahan lapar dan lelah ketika berpuasa. Kata-kata seperti: ‘Lo yang puasa ya masalah lo! Siapa juga yang nyuruh? Kalo nggak kuat ya jangan puasa!’ tidak perlu hadir dalam kenyataan. Inilah momen melatih kesabaran. Jangan mengharap lebih. Harapan berlebihan hanya akan menimbulkan penderitaan dan konflik-konflik yang tidak perlu.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Introspeksi, sesuai namanya, adalah proses kedalam dan bukan keluar. Jadi tidak pada tempatnya kalau kita menyalahkan segala sesuatu yang berada diluar diri kita. Kontra indikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau iman mau dikuatkan, SEBENARNYA bukan restoran atau diskotiknya yang ditutup, bukan alkohol yang dimusnahkan, bukan pelacuran atau perjudian yang dibubarkan, tapi IMAN (baca: kesadarannya, mentalitasnya) yang harus dilatih. Contoh paling ekstrim: kenapa pelacuran dan perjudian masih ada? Jawabannya sederhana: Hukum Ekonomi. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Supply and Demand&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Pelacuran dan perjudian masih ada karena masih ada &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;demand&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, masih ada permintaan, masih banyak &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;fans-&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;nya. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Supply&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; akan berhenti dengan sendirinya kalau &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;demand&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; makin sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara mengurangi atau bahkan ‘mematikan’ &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;demand-demand&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; ‘ajaib’ ini? Yang paling efektif adalah latihan kesadaran. Keteguhan iman-nya yang dikuatkan, mentalitasnya yang dikokohkan, pola pikirnya yang dibersihkan.  Bukan godaannya yang dihancurkan dan dihilangkan. Kalau setiap kali kita ingin meneguhkan iman dengan cara menghancurkan segala godaan lalu apa guna dan manfaat latihan meneguhkan iman? Dimana makna latihannya? Nggak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang protes: ‘Tapi dengan menutup pelacuran dan perjudian kan juga salah satu upaya menutup kemungkinan suatu ‘dosa’ dibuat? Jadi nggak salah dong kalo kita nutup pelacuran dan perjudian?’ atau pernyataan ‘Melacur itu bukan pekerjaan!’ (dengan mengenyampingkan fakta dan menyangkal bahwa melacur sebagai mata pencaharian sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, lepas dari halal atau tidaknya). Iya bener kok. Nggak salah. Tapi tetaplah berhati-hati dan jangan merasa sudah menang. Bukan hanya dengan membangun tempat-tempat ibadah di sekitar pelacuran dan berharap semua pelacur kemudian bertobat. Atau dengan memberikan mereka keterampilan bekerja dan berharap mereka akan meninggalkan pelacuran dan memulai kerja yang lebih halal. Tidak semudah itu, kawan. Karena dengan menutup pelacuran dan perjudian tentunya juga menimbulkan konsekuensi lain yang tidak kalah mengerikannya bahkan lebih mengerikan dari pelacuran dan perjudian itu sendiri. Faktanya justru pelacuran dan perjudian malahan menjadi makin liar tidak terkendali, penyakit karena hubungan seksual merajalela dan semakin sulit dikontrol, banyak orang yang hidupnya dan keluarganya hancur berantakan karena pelacuran dan perjudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah-masalah ini sekali lagi erat hubungannya dengan keteguhan iman kita, mentalitas kita. Kasarnya, kalau memang mentalnya suka melacur, apapun pasti akan dilacurkan, bahkan anak sendiripun kalau perlu dijual dan diperkosa. Kalau mentalnya memang sudah doyan judi, apapun bisa dijudikan. Kalau mentalnya memang doyan mabuk, alkohol dari apotek dicampur dengan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;soft drinks&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;-pun pasti akan memuaskan keinginan untuk mabuk. Jadi kembali lagi: ini masalah MENTAL. Tidak lain dan tidak bukan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Introspeksi dan latihan kesadaran sama-sama yuk. Jangan kebanyakan nyalahin orang atau nyalahin keadaan diluar diri kita. Kuatkan mental kita, iman kita, kesadaran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, bulan puasa adalah bulan penuh berkah. Puasalah dengan tulus. Tanpa pamrih. Anggaplah pahala itu tidak pernah ada, jadi kita bisa mengerti arti ketulusan. Puasa yang bukan hanya mengharapkan pahala saja. Tidak mengharapkan kembali. Jangan takut melewati kegagalan karena masih ada sebelas bulan yang lain untuk terus berlatih menjadi lebih baik. Selamat menunaikan ibadah puasa, saudara-saudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" "&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;P.S. Saya pernah mendengar pengakuan polos seorang tukang cukur ketika saya sedang bercukur. Dia bilang kalau dia sengaja tidak tidur malam dan langsung menyambung dengan sahur. Setelahnya dia bisa tidur dan bangun sekitar jam 3 siang sambil menunggu buka puasa. Enak banget puasanya. Menurut anda gimana? :)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-9025143137207804243?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/9025143137207804243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=9025143137207804243&amp;isPopup=true' title='25 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/9025143137207804243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/9025143137207804243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2009/08/puasa.html' title='Puasa'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>25</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-8024789197631727359</id><published>2009-04-27T11:45:00.002+07:00</published><updated>2009-04-27T11:50:22.755+07:00</updated><title type='text'>Mohon Maaf</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 18px; "&gt;Pagi ini, saya menerima sebuah e-mail dari seorang ibu yang merasa keberatan dengan pernyataan saya di sebuah advertorial pengguna &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;BlackBerry&lt;/span&gt; yang disponsori sebuah &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;provider&lt;/span&gt; telekomunikasi. Dia keberatan karena saya menggunakan kata ‘autis’ didalam pernyataan saya, yang menurutnya akan menimbulkan konotasi 'kurang positif' terhadap kondisi autis dan akan menyinggung perasaan para penyandangnya. Ibu ini adalah ibu dari seorang putri penyandang autis berumur 3 tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Terima kasih. Saya sadar betul apa yang saya buat dan nyatakan didalam advertorial itu. Saya tidak akan berkelit. Saya telah keliru dan saya menerima kekeliruan itu sebagai pelajaran berharga. Saya tidak akan melakukan pembelaan apapun, walau di satu sisi saya juga sadar betul bahwa motivasi saya saat membuat pernyataan itu bukan untuk menghina atau memojokkan siapapun. Sama sekali bukan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh karena itu, saya atas nama pribadi MOHON MAAF yang sedalam-dalamnya atas kekeliruan ini kepada siapapun pihak yang merasa tersinggung dengan pernyataan saya, khususnya para penyandang gejala autis, Yayasan Autisme Indonesia dan Organisasi Putera Kembara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Saya akan berusaha mensosialisasikan dan mengingatkan hal ini kepada siapapun agar tidak terulang kembali hal yang sama karena bagaimanapun juga hal menggunakan kata ‘autis’ dikalangan pengguna &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;BlackBerry &lt;/span&gt;(bahkan juga sudah mulai digunakan oleh kalangan pengguna non-&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;BlackBerry&lt;/span&gt;) sudah menjadi semacam ‘trend’ yang tentunya sudah merebak kemana-mana dan sulit untuk dikontrol. Saya akan usahakan yang terbaik. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sekali lagi, ini sebuah pelajaran berharga buat saya pribadi dan tentunya buat anda semua yang membaca blog saya, untuk kemudian tidak mengulangi hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Terima kasih atas e-mail-nya, Mbak Wulan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-8024789197631727359?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/8024789197631727359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=8024789197631727359&amp;isPopup=true' title='26 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/8024789197631727359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/8024789197631727359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2009/04/mohon-maaf.html' title='Mohon Maaf'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-1872619167569033347</id><published>2009-04-08T23:03:00.014+07:00</published><updated>2009-09-14T14:36:10.826+07:00</updated><title type='text'>Yuk, Mareeee!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Saya sempat dibuat kesal oleh seseorang yang mengirimkan pesan singkat (SMS) lewat sebuah nomor tak dikenal yang isinya adalah sebuah ayat yang diambil dari sebuah kitab suci, yang saya tahu sekali bahwa ayat ini selalu dijadikan 'senjata pamungkas' bagi penganut agama yang bersangkutan untuk menghina agama lain, menganggap agama lain tidak benar, tidak suci dan tidak mampu untuk menyelamatkan. Ya, sebuah ayat yang mengatakan bahwa kalau kita tidak mempercayai atau tidak melalui nabi ini, juru selamat itu, tuhan ini, tuhan itu, kita tidak akan pernah selamat. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Yeah, roiiight!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Entah mengapa, biasanya saya tahan dan santai-santai saja terhadap orang-orang kurang kerjaan yang sok suci ini. Kali itu, entah mengapa, saya tersinggung berat. Mungkin karena lagi lelah seharian. Dan saya rasa itu wajar. Namanya juga warga, kaaan? :) Dari banyak SMS yang selalunya saya diamkan, pasti ada satu atau dua SMS yang akhirnya menyinggung saya. Entah imbalan apa yang dia dapatkan dari orang tuanya, pemuka agamanya, dari nabinya, bahkan dari tuhannya kalau dia berhasil membawa saya kembali ke jalan yang ‘benar’ (menurutnya). Tak pernah berhenti dan lelah untuk 'menjaring' umat sebanyak-banyaknya, bahkan kalau perlu menyakiti orang lain, ‘menipu’ orang lain supaya berpindah keyakinan dan masuk ke agamanya. Kalau perlu sampai bunuh-bunuhan. Perang suci. Entah surga jenis apa yang mau dia kejar. Entah pahala yang bagaimana yang mau dia reguk. Dan entah di neraka mana dia ingin menceburkan saya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Let me say this straightly and strictly to whoever you are that had sent me those unimportant SMSes: GET A LIFE, man!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; Kalau kamu merasa kamu yakin dengan ayat itu atau apapun yang kamu yakini tentang kebenaran (yang sayangnya kebenaranmu sendiri), berhentilah memaksa orang lain untuk mengikuti apapun yang kamu yakini. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Because for me, it’s your choice. Not mine. And unfortunately (again, it's for you), I HAVE already my own choice. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Saya bukan orang yang suka diberi perhatian oleh orang yang tidak tahu dan tidak mengenal siapa saya sebenarnya. Dan, mengirimi saya ayat-ayat supaya saya pindah agama bukanlah bentuk  perhatian. Sok tahu lebih tepatnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Anda salah orang. Anda salah korban. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Semakin kamu mengajak-ngajak, memaksa-maksa orang lain untuk ikut serta, terlihat jelas bahwa kamu TIDAK YAKIN dengan apa yang kamu yakini. Kenapa kamu harus takut kalau saya tidak percaya dengan apa yang kamu yakini? Sebegitu pentingnyakah saya buat kamu sampai kamu harus membuang-buang waktu, membuang-buang pulsa sekaligus juga sesudahnya harus kena saya maki? Sebegitu takutnyakah kamu kehilangan saya, satu dari sekian miliar umat yang sama denganmu yang kemudian berpindah ‘aliran’ hanya karena lebih bisa menentukan sikapnya sendiri? Bukankah agama dan keyakinan itu sifatnya pribadi? Atau, kamu takut merasa sendirian kalau ternyata apa yang kamu yakini itu ternyata tidak sepenuhnya benar? &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;So if let’s say:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; kalau ternyata surga atau neraka, atau apapun kebenaran-kebenaran yang kamu yakini itu ternyata (misalnya) tidak ada, dan akhirnya kamu merasa tertipu dan merasa tolol karena terjebak, terus kamu mau mengajak saya ikut serta dalam ketertipuan dan keterjebakan yang kamu alami, begitu? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Giliran ketipu aja ngajak-ngajak. Coba kalo nggak ketipu, boro-boro inget. Dasar lo! Hehe! &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Peace, yo! :)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Tapi jujur, kadang saya kagum sama orang seperti kamu karena pasti minimal kamu pernah mati (atau mati suri) karena bisa dengan begitu percaya dirinya berbicara tentang sesuatu yang hanya bisa dialami dan dirasakan ketika kita sudah mati. Surga dan neraka, sekali lagi menurut yang kamu yakini, ada setelah kita mati, bukan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Udahlaah. Masih banyak hal penting lain yang harus lo pikirin. Hari gini lo masih aja mikirin gimana caranya nyari umat. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;For human's sake, wake up!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Mendingan lo pikirin tentang PEMANASAN GLOBAL dan gimana caranya supaya kita bisa kembali lagi bersahabat ama bumi kita, rumah kita yang selama ini hanya selalu jadi tempat sampah kita. Iklim sekarang udah bener-bener ‘aneh’ karena pemanasan global. Dan itu nyata, jooo. Lebih nyata daripada surga atau neraka yang lo gembar-gemborin itu. Dan pemanasan global jelas-jelas bukan hanya disebabkan oleh emisi gas buang tapi lebih karena terlalu banyaknya peternakan di bumi ini (jumlah sapi di dunia sekarang lebih dari 1,3 miliar ekor dan itu baru sapi doang) karena kita-kita yang masih nggak sadar-sadar ngebunuhin binatang hanya karena nggak bisa nahan mata dan lidah. Satu sapi doang setiap harinya ngehasilin sekitar 12 liter gas Metana atau Metanol (&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Methane Gas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;) sebagai hasil dari proses ekskresinya yang terlepaskan ke udara bebas. Dan gas Metana atau Metanol ini panasnya 25 kali lebih panas dari Karbonmonoksida (CO) yang udah jelas-jelas bikin lapisan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Ozone&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; kita bocor. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Mendingan lo pikirin gimana caranya untuk lo bisa jadi VEGETARIAN atau minimal ngurangin konsumsi daging seperti yang udah jadi peringatan super keras oleh IPCC (&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;nternational Panel for Climate Change&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;). &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Mendingan lo pikirin gimana caranya buat bikin taman untuk PENGHIJAUAN atau minimal nanem pohon aja deh nggak usah jauh-jauh. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Mendingan lo pikirin gimana caranya buat HEMAT ENERGI. Salut gua buat mereka-mereka yang madamin listrik selama 60 menit dari pukul 20.30 sampai 21.30 pada momen &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Earth Hour&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; di hari Sabtu, 28 Maret 2009 yang lalu, diseluruh jagad ini. Moga-moga kita bisa terus menjaga bumi kita, rumah kita, seperti ini ya, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=""&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;guys&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Let's continue this holy journey! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=""&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Love you all!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Mendingan lo pikirin gimana caranya supaya jangan sampai bencana sekelas Tragedi Situ Gintung terjadi lagi karena itu JELAS-JELAS disebabkan oleh kelalaian manusia, bukan alam. Nyalahin alam mulu aaah, basi. Nggak usah jauh-jauh mikirin konflik Israel-Palestina deeeh kalo konflik-konflik disekeliling kita (atau lebih parah: konflik internal lo sendiri, ketakutan lo sendiri) yang jelas-jelas ada didepan mata aja lo masih belon bisa &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;handle&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;. Kejauhan, jooo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Mendingan lo pikirin gimana caranya kalo lo ngerokok, JANGAN ngerokok diruangan ber-AC (&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;ir Conditioned Room&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;). Pikirin orang laen yang nggak ngerokok jugalaaah. Lagian orang &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;gemblung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; juga tau kalo diruangan ber-AC, apalagi ada ANAK-ANAK KECIL, udah pasti nggak boleh ngerokok. Tinggal masalah lo pake otak ama hati lo aja. Nggak perlu sampe Pemda yang harus turun tangan. Nggak perlu sampe tempel-tempel pengumuman dimana-mana. Nahan diri dikit nggak ada salahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Atau yang paling gampang: JANGAN BUANG SAMPAH SEENAKNYA. Jangan cuman untuk sok-sokan, keren-kerenan bikin acara-acara panggung musik buat kampanye anti pemanasan global tapi tetep aja disekeliling panggung banyak sampah betebaran dimana-mana. Gua pernah manggung di acara kayak ginian dan langsung gua sindir panitianya dari atas panggung. Malu-maluin, nggak ada keren-kerennya. Sumpah. Pertanyaan bodoh gua: lo sebenernya ngerti nggak sih lo kampanye-kampanye itu buat apa? Huh? Bukan cuman rame-ramean dan seru-seruan aja, lho. Tanggung jawabnya gede.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Nah, kembali lagi, kalo lo udah bisa kayak gitu, udah bisa nahan diri untuk hal-hal yang seringkali lo anggap remeh dan sepele, atau latihan nggak makan daging dulu setaun aja, bolehlah lo ajak-ajak gua, pengaruh-pengaruhin gua. Ok, beybeeh? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Yuk, mareeee!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-1872619167569033347?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/1872619167569033347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=1872619167569033347&amp;isPopup=true' title='58 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/1872619167569033347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/1872619167569033347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2009/04/yuk-mareeee.html' title='Yuk, Mareeee!'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>58</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-6159051469567902648</id><published>2009-03-18T19:04:00.005+07:00</published><updated>2009-04-08T23:38:11.908+07:00</updated><title type='text'>Limit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Menikmati hidup tanpa pertanyaan adalah hadiah yang paling membahagiakan. Seperti menikmati terbitnya matahari di ufuk timur dan terbenamnya di ufuk barat. Seperti ketika orang-orang sudah tidak perlu lagi mempertanyakan banyak hal yang tidak penting. Yang tertinggal hanyalah kesadaran untuk saling menerima dan menghargai. Kesadaran untuk menerima bahwa apa yang diyakininya sebagai kebenaran adalah sesuatu yang hanya bisa dinikmatinya sendiri. Kesadaran bahwa kebenaran yang diyakininya bukan untuk dipaksakan kepada yang lain karena merasa (sekali lagi: merasa)  ‘kebenaran’ yang lain adalah palsu. Ketika kebenaran dipaksakan, tidak ada lagi yang namanya pilihan termasuk kebebasan untuk memilih. Manusia yang tidak mampu memilih bukanlah manusia. Seperti kata pepatah kerbau yang selalu siap dicocok hidungnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Ketika ada pihak yang mengkritik bahkan mencerca keputusan apapun yang saya ambil, saya hanya diam. Mengapa? Karena saya tahu, para pengkritik ini sebenarnya membutuhkan jawaban saya. Dengan membuat saya gerah, mereka berharap adanya reaksi. Harapan bahwa akan keluar jawaban dari mulut saya. Ketika saya diam, justru mereka semua yang merasa kegerahan. Kritikan semakin pedas, semakin meyakitkan dan (sayangnya) semakin ngawur. Ngawurnya kritikan mereka ini bahkan mampu mengaburkan kenyataan siapa yang seharusnya mendapatkan kritikan. Saya yang telah dianggap berbuat dosa oleh mereka yang juga telah tanpa sadar berbuat dosa dengan menyakiti hati saya. Asumsi-asumsi yang perlahan membunuh saya. Saya, yang seringkali mereka anggap sebagai setan, sedang dibombardir dengan kritikan menyakitkan oleh sekawanan ‘setan berpengalaman’ yang selalu melakukan dosa langganan: merasa suci. Inilah bentuk perhatian sesama setan. Sesama setan harus saling menasehati. Saya sadar saya adalah setan yang kurang pengalaman. Butuh wejangan dari setan yang ‘lebih berpengalaman’ untuk merasa suci.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Jujur, semua ini menjadi tidak ada bedanya dengan perang yang didalamnya sudah pasti terdapat unsur pembunuhan keji namun dilakukan atas nama ‘kebenaran’. Ya, ini adalah perang suci kata para pelakunya dengan penuh percaya diri. Suci karena dianggap membela kebenaran dan memerangi kebathilan. Yang membuat saya tertawa adalah: kalau perang saja sudah dianggap suci maka bayangkan yang tidak sucinya. Mengerikan. Tidak ada yang lebih primitif daripada menganggap perang, pembunuhan keji sebagai sesuatu yang suci.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Kebenaran, apalagi Cinta,  tidak memerlukan pembelaan. Makanya saya diam. Dan sekali lagi inipun kebenaran yang saya anut. Jangan ambil pusing dengan kebenaran saya. Nikmati kebenaran anda sendiri karena saya juga tidak ambil pusing dengan kebenaran anda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Oh, ya. Hampir lupa. Mau curhat sedikit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Masih ingat kolom ShoutBox yang pernah bertengger dengan gagah beraninya disebelah kanan blog saya? Kolom yang awalnya sengaja saya biarkan terbuka bagi siapapun yang ingin  berekspresi, berkomentar, berteriak, mengkritik? Sekarang sudah tidak ada lagi. Demikian juga kolom ShoutBox yang ada di blog istri saya. Ya, saya telah memutuskan untuk menutupnya. Bahkan saya dengan tegas memerintahkan istri saya untuk menutup kolom ShoutBox di blog-nya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Mohon maaf atas keputusan ini, saudara-saudara.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Awalnya saya merasa bahwa membiarkan orang untuk berekspresi adalah suatu keputusan yang bijak. Memang nggak ada salahnya sebenernya, kan? Tapi ya itu tadi: saya hanya manusia, saya ternyata punya limit. Dan saatnya memberikan sedikit kesempatan untuk diri saya menghormati limit itu. Karena kalau bukan saya yang menghormati limit itu lantas siapa lagi, saudara-saudara? Bukan begitu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Kenapa saya tutup? Karena sudah terlalu banyak didominasi oleh komentar yang keterlaluan, kelewatan, kebablasan, keblinger. Sok benar, sok tahu, sok keren, sok suci. Saya sampai geleng-geleng kepala sendiri: kok ada orang-orang yang seperti ini kualitasnya, yang bertindak hanya berdasarkan naluri untuk menang,  naluri bertahan atas kebenarannya sendiri, tanpa logika dan hati nurani. Merasa paling benar sehingga TIDAK PERLU menghormati orang lain, menghormati PROSES orang lain. Memuakkan sekali, saudara-saudara. Membuat saya ingin muntah. Mohon maaf. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Tapi, ya sudahlah. Toh kolom di blog saya itu sudah saya tutup. Saya tidak perlu merasa mual lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Terima kasih semesta atas perjalanan hari ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;P.S. Saya mengutip komentar Dana, salah seorang yang memberikan komentarnya di posting saya sebelumnya. Lucu juga untuk direnungkan bersama. Dia tulis sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;"Why God create differences when he has the power to make everything the same ?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Iya, benar. Kenapa, yaaa? :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-6159051469567902648?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/6159051469567902648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=6159051469567902648&amp;isPopup=true' title='38 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/6159051469567902648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/6159051469567902648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2009/03/limit.html' title='Limit'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>38</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-6336246077714144695</id><published>2009-02-21T21:39:00.010+07:00</published><updated>2009-02-22T13:41:07.296+07:00</updated><title type='text'>Untukmu, Istriku</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Istriku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya begitu banyak hal-hal berat yang kita hadapi akhir-akhir ini. Begitu sering kesadaran, kesabaran dan cinta kita diuji. Begitu banyak pihak yang mengkritik dan menghujat perjalanan kita, memporak-porandakan kesetiaan kita. Berat sekali. Saya tahu. Tapi saya bangga, sayang. Bangga sekali. Karena ketika hal berat dan duka mendera, ketika kita yang sewajarnya sebagai manusia merasa takut dan pergi menjauhi rasa sakit, kita justru malah berpelukan erat dan tidak mau lepas. Tak ada kata menjauh, tak ada kata jarak. Ya, kita sama-sama menyadari bahwa rasa sakit karena duka hanya akan menjadi lebih perih jika kita justru berlari menjauh meninggalkan satu sama lain. Alih-alih mampu menyelesaikannya sendiri, kita malah gagal dan semakin terpuruk. Masalah tidak akan pernah selesai bahkan tetap ada dan semakin berat.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Yakin dan saling percaya, sayang. Ya, hanya itu. Tak aneh jika pintu untuk saling menerima dan memaafkan selalu terbuka untuk kita berdua. Karena cinta itu menerima dan memaafkan. Dan itulah cinta yang kita imani. Cinta yang tulus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah berhenti mengagumimu, sayang. Tidak pernah berhenti untuk selalu membanggakan dirimu. Dimanapun, kapanpun, kepada siapapun. Kamu adalah sosok wanita, perempuan dan ibu yang selalu saya hormati. Karena memang pantas dihormati. Yang selalu menjadi tempat berpegang, berkeluh kesah, menangis, tertawa bagi saya dan kedua cahaya mata kita, Keenan dan Edga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih hatiku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bahagia, sayang. Bahagia sekali. Sumpah. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;I've never been on this state of contentment before.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana gelombang rasa ini terus bertumbuh dan bergulung di dalam diri saya. Rasa bahagia yang belum pernah ada sebelumnya. Rasa bahagia yang membuat saya ingin terus-menerus belajar menjadi manusia yang lebih baik hari ke hari dan selalu mampu untuk kamu banggakan. Lelaki, suami, ayah yang selalu bisa menjadi panutanmu dan anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas rasa percayamu sejak saat pertama kali kita berpegangan tangan dalam perjalanan empat jam menuju airport tanggal 2 Februari 2008 yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Terima kasih atas rasa hormat dan penghargaan yang selalu saya rasakan setiap kali kamu mencium lembut tangan saya saat akan memulai hari-harimu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Terima kasih atas kesabaran dan penerimaanmu yang rasa-rasanya tak pernah ada habisnya kepada raga tak sempurna ini.&lt;br /&gt;Terima kasih saya ucapkan kepadamu, atas nama bulan dan bintang, atas nama matahari dan segenap isi tata surya serta segala entitas yang hadir di semesta ini. Hormat saya kepada jiwamu, ragamu, pikiranmu dan segenap kondisi yang membuatmu hadir di kehidupan ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah takut, cintaku. Yang kita jalani adalah sebuah perjalanan yang suci. Kita mengawali dan menjalaninya dengan penuh kesadaran dan kesabaran, karena cinta. Banyak orang tidak mampu melihat dan menerima perjalanan kita dan ini adalah urusan dan masalah mereka, bukan kita.  &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Don't ever worry, sweetheart&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Sekalipun neraka itu ada dan kamu ditakdirkan untuk kesana, kamu tidak akan sendirian, sayangku. Saya akan ada bersamamu, menggandeng tanganmu, memeluk erat tubuhmu, mencium keningmu. Kita dinginkan neraka dengan cinta dan kasih sayang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya bahagia karena diberi kesempatan oleh semesta untuk mencintai kamu di masa kehidupan sekarang ini. Kesempatan untuk memberikan yang terbaik dan terindah untukmu, untuk anak-anak kita.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;I love you, Melatiku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;- Suamimu -&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-6336246077714144695?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/6336246077714144695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=6336246077714144695&amp;isPopup=true' title='38 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/6336246077714144695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/6336246077714144695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2009/02/untukmu-istriku.html' title='Untukmu, Istriku'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>38</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-1328523530326651586</id><published>2009-01-15T09:00:00.012+07:00</published><updated>2009-01-25T09:54:45.011+07:00</updated><title type='text'>Saya Batak</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Saya orang Batak. Setidaknya terlahir sebagai orang Batak. Muka sayapun terlihat Batak. Marga saya Siahaan. Dan pernah menikah dengan seorang &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;boru &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;dari marga&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Simangunsong dan mempunyai seorang  anak yang (pastinya) juga Batak. Tetapi saya dilahirkan dan dibesarkan di Bandung, Tanah Parahyangan, oleh sebuah keluarga besar yang sangat ‘Jawa’. Ayah saya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Paian Siahaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, adalah orang Batak asli dan lahir di Pematang Siantar. Ibu saya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Veronica Indrasari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, adalah peranakan Surakarta, Ambon, Belanda dan Cina yang lahir di Bandung dan sudah ‘ditahbiskan’ menjadi orang Batak dan memperoleh marga Manurung. Kakek saya, alm. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;R.M. Soebroto Hardjowahono&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, adalah orang Surakarta asli yang banyak menghabiskan waktu masa mudanya di negeri Belanda. Ayah beliau (saya menyebutnya ‘&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;yang resi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;’), alm. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;R.M. Soetarto Hardjowahono&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; adalah salah satu pendiri &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Taman Sriwedari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, Surakarta. Nenek saya, alm. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;oortje Francine Suzanne Noya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, adalah orang Ambon dengan sedikit darah Belanda dan Cina yang besar di Surabaya dan Belanda. Kakek saya pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Psikologi Angkatan  Darat (Dispsiad) sekitar tahun 50-an sepulang dari negeri Belanda sehingga mengharuskan beliau menetap di Bandung karena saat itu kantor pusatnya di jalan Sangkuriang, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kecil saya lebih banyak berinteraksi dengan adat Sunda dan Jawa. Saya bahkan bersekolah di Santo Aloysius, Bandung sejak TK hingga lulus SMU yang mana mayoritas sahabat-sahabat saya adalah keturunan Cina dan semuanya fasih berbahasa Sunda. Akibatnya saya menjadi lebih fasih berbicara bahasa Sunda dan sedikit bahasa Jawa. Saya tidak bisa berbicara dan berbahasa Batak sedikitpun. Dan Papa bukan orang Batak yang &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;‘strict’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; terhadap adat istiadat Batak. Dia tidak pernah memaksa saya ‘menjadi’ orang Batak karena Papa sangat realistis. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;‘Darah Batak sudah mengalir dalam darahmu’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, begitu katanya. Hasilnya saya selalu menjadi bahan celaan dan permainan saudara-saudara dari pihak Papa karena tidak bisa berbahasa Batak. Mereka menganggap saya Batak palsu, Batak KTP, Batak jadi-jadian. Saya selalu diejek ‘lembek’ seperti orang Jawa, ditertawakan dan dikomentari dengan bahasa Batak dan mereka selalu merasa saya tidak mengerti padahal saya juga tidak bodoh. Saya sempat suatu hari bercerita kepada Papa mengenai ini. Dan mengomentari masalah bahasa beliau berkata: &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;‘Lebih penting bahasa Inggris kau pelajari daripada bahasa Batak. Persentase untuk kau nanti pakai bahasa Inggris akan jauh lebih banyak kurasa. Sudahlah, tak akan mati kau tak bisa bahasa Batak.’ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Saya tersenyum. Benar juga. Untuk menjawab celaan-celaan  dalam bahasa Batak yang ditujukan kepada saya akhirnya saya menjawabnya dengan bahasa Sunda. Nyambung atau nggak, peduli setan. Yang penting 'nyela' balik. Akhirnya celaan-celaan tersebut berhenti sendiri karena sama-sama bingung, sama-sama frustrasi.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kembali lagi, walapun Papa tidak secara spesifik mengajarkan adat istiadat dan berbicara bahasa Batak, beliau mengajarkan saya untuk menjadi orang Batak yang baik dan terhormat. Dan hal yang selalu beliau ajarkan kepada saya adalah bahwa orang Batak itu berkarakter kuat, berani mengambil sikap tegas dan bertanggung jawab, apa adanya dan sangat menghormati orang tuanya. Saya selalu ingat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bangga menjadi orang Batak. Karena saya telah dibesarkan oleh orang Batak yang bertanggung jawab. Papa, walaupun beliau sudah berpisah dengan Mama sepuluh tahun lebih, adalah figur lelaki Batak yang selalu menjadi panutan saya. Dengan segala  kelebihan dan kekurangannya, dia adalah lelaki yang sangat cerdas, kritis, pekerja keras, bertanggung jawab dan sangat peka terhadap lingkungannya. Dia sangat keras mendidik saya karena diapun dididik sangat keras (bahkan terlalu keras) oleh ayahnya, '&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;ompung doli' Leman Siahaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, terutama terhadap apapun yang ada hubungannya dengan rasa bersyukur. Dia mengajarkan saya untuk selalu bersyukur atas apapun yang kita miliki karena dalam hidup masih banyak orang yang tidak seberuntung saya. Tidak boleh menyia-nyiakan jerih payah orang lain. Tidak boleh menyisakan dan membuang makanan. Tidak boleh menghina dan melecehkan orang kecil. Jangan lupa untuk selalu membantu siapapun yang membutuhkan bantuan. Seburuk apapun orang tuamu tetaplah hormati. Mengkritik orang tua bukan hal yang tabu namun haruslah dengan cara yang sopan dan terpelajar karena bagaimanapun tetaplah orang tua. Sebagai penutup beliau berkata: ‘&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Aku keras sama kau. Kau pasti tidak terima aku keras sama kau. Tapi suatu saat nanti kau akan berterima kasih sama aku.’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; Ya, beliau benar. Akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa bukanlah orang Batak kebanyakan. Beliau berbeda, setidaknya menurut pengalaman saya dan pendapat saya. Sangat realistis.&lt;br /&gt;Bukan orang Batak yang usil yang suka ikut campur masalah orang lain atas nama persaudaraan.&lt;br /&gt;Bukan orang Batak yang merasa dirinya, adatnya, keyakinannya, agamanya adalah yang paling benar sehingga ‘seakan-akan’ memberikan kekuatan bagi dirinya untuk menghakimi, mengkhotbahi dan menzalimi orang lain terlebih saudaranya sendiri.&lt;br /&gt;Bukan orang tua Batak yang dengan mudahnya mengancam anaknya dengan ancaman ‘anak durhaka’ ketika anaknya berpacaran ataupun menikah dengan orang yang bukan Batak ataupun yang berbeda keyakinan.&lt;br /&gt;Bukan orang tua Batak yang suka menjodoh-jodohkan anaknya dengan sesama orang Batak.&lt;br /&gt;Bukan orang tua Batak yang menjebak anaknya dalam perasaan bersalah hanya karena anaknya ternyata punya pendapat sendiri.&lt;br /&gt;Bukan orang tua Batak yang suka membanding-bandingkan anaknya dengan anak keluarga Batak lainnya yang dianggap ‘lebih sukses’.&lt;br /&gt;Bukan orang tua Batak yang dengan mudah menyebut ‘saudara’ ketika meminta bantuan untuk kepentingan anaknya sehingga seringkali membuat anaknya malu.&lt;br /&gt;Bukan orang tua Batak yang sedikit-sedikit mengutip ayat kitab suci dan berkhotbah ketika dirinya merasa benar dan kebenarannya tidak dipatuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya tidak ada kata durhaka. Malin Kundang hanyalah legenda. Dalam hemat saya orang tua tetap orang tua. Orang tua hanya manusia biasa yang juga harus diingatkan, ditegur. Namun cara mengingatkan dan menegurnya MUTLAK harus dengan sopan. Karena mereka, bagaimanapun juga adalah orang tua kita, darah daging kita, yang membesarkan kita. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya orang Batak bukan berarti dimana-mana saya harus ‘Batak’ ataupun kelihatan ‘Batak’. Saya menghormati tanah kelahiran saya, Tanah Parahyangan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya lahir disana, besar, makan dan minum, bersekolah, menikah dan mempunyai anak disana. Saya sudah menjadi bagian dari masyarakatnya. Saya tidak ingin ‘menguasai’ hanya karena asumsi bahwa orang Batak harus selalu eksis dimanapun, kapanpun, dengan siapapun dan jadinya malah menginjak-nginjak adat istiadat orang lain, menganggap orang lain ‘lembek’, menganggap orang lain 'culas' dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; Saya menunjukkan bahwa saya orang Batak bukan hanya dengan mencantumkan marga. Bukan hanya dengan menghafal siapa saja anggota keluarga dan kerabat saya dan bagaimana memanggil mereka. Bukan hanya dengan mengingat ketujuh klan Siahaan dan generasi keberapa saya saat ini. Saya menunjukkan itu dengan sikap dan karakter sebagai orang Batak seperti yang Papa sudah ajarkan. Orang Batak juga manusia. HANYA manusia. Dan karakter manusia tercermin dari perbuatannya bukan dari siapa dan darimana dia  berasal. Buat saya itu cukup. Lebih dari cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi saya bangga sebagai orang Batak. Terserah orang mau bilang apa.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Sabbe Sankhara Anicca saya ucapkan dari hati yang terdalam kepada sahabat saya, abang saya,  Robin 'NOXA' Hutagaol, yang telah meninggal dunia karena kecelakaan lalu-lintas dan sempat mengalami koma selama beberapa hari. Pertemuan yang singkat namun begitu berarti, bang. Terima kasih atas kesempatan mengenali abang lebih dekat dan memaknai persahabatan diantara kita walaupun singkat. Have a peaceful journey, my brother!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-1328523530326651586?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/1328523530326651586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=1328523530326651586&amp;isPopup=true' title='38 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/1328523530326651586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/1328523530326651586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2009/01/saya-batak.html' title='Saya Batak'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>38</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-4751155751242729230</id><published>2009-01-10T19:39:00.007+07:00</published><updated>2009-01-11T15:43:08.436+07:00</updated><title type='text'>Janji Tinggal Janji</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Janji memang harus ditepati. Seperti sebuah dogma. Tak terbantahkan. Ketika ada seseorang berjanji kepada kita dia harus menepatinya apapun yang terjadi dan bagaimanapun caranya. Seperti pepatah: ‘&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak akan dipercaya.’ &lt;/span&gt;Kalau tidak menepati janji kita dianggap tidak punya pendirian, tidak jantan (ayam kaleee jantan! &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;*déjavu*&lt;/span&gt;), tidak '&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;gentleman' &lt;/span&gt;(kalau laki-laki, kalau wanita mungkin &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;‘gentlewoman’&lt;/span&gt; *huh*). Tapi pernahkah kita merenung sejenak dan menyadari bahwa janji itu, seberat apapun dia, hanya bisa ditepati sesuai dengan kemampuan dan keadaan? Dan ketika kita meminta seseorang untuk berjanji sadarkah kita bahwa kita sebenarnya sama sekali tidak berhak untuk memaksa seseorang menepati janjinya karena semuanya tergantung pada kemampuan dan keadaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjanji sebenarnya adalah salah satu tindakan ataupun upaya kita untuk menciptakan kepastian didalam keadaan hidup yang serba tidak pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita terkadang lupa bahwa kita berjanji untuk sesuatu hal dimasa depan tanpa pernah bisa tahu dan yakin bahwa janji tersebut bisa kita tepati atau tidak. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Insya Allah&lt;/span&gt;, kalau kata saudara-saudara saya yang Muslim. Ya, karena kita sebenarnya berjanji dengan menggunakan sudut pandang masa kini untuk mencoba memberikan kepastian di masa depan (yang tentunya kita belum tahu karena belum terjadi) yang sudah pasti keadaannya akan berbeda nantinya jika dibandingkan dengan saat (ini) dimana kita mencetuskan janji kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap saat berubah, tidak ada yang sama. &lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Janji menjemput, janji menemani, janji makan malam, janji jalan-jalan, janji memenuhi klausul kontrak, janji membayar utang, janji memberi piutang, janji kawin bahkan janji sehidup-sematipun (apalagi yang terakhir ini) semuanya hanya janji. Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana untuk memenuhinya nanti. Semuanya hanya upaya untuk menyuntikkan semacam obat bius lokal pada tubuh yang kesakitan akibat 'tergores' oleh ketidakpastian agar tidak terlalu terasa sakitnya, perihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing, apakah yang berjanji maupun yang dijanjikan, harus mulai untuk sama-sama menyadari dan belajar. Belajar apa? Ya, belajar untuk tidak mudah berjanji kalau tidak realistis atau kalau dirasa kurang mampu memenuhinya. Demikian juga sebaliknya yang dijanjikan juga jangan mudah percaya (saya tekankan ‘jangan mudah’ percaya, bukan ‘jangan’ percaya) pada janji-janji kurang realistis. Jangan terlalu 'ngarep'. Dan, jangan memaksa seseorang untuk berjanji, karena sesungguhnya berjanji itu tidak mudah. Sangatlah tidak mudah. Jangan membebani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berbicara ini bukan untuk mempengaruhi anda semua untuk bersikap antipati terhadap janji dan seluruh handai taulannya. Orang menjadi mudah dan lantang bilang janji, mudah melanggar perjanjian yang sudah disepakati, meremehkan janji, menyakiti perasaan bahkan merusak hidup orang lain karena sudah terlanjur antipati terhadap janji. Atau menjadi membebani orang lain karena secara langsung maupun tidak telah memaksanya berjanji sampai melewati batas kewajaran padahal jelas-jelas berjanji itu tidak mudah. Kenapa begitu ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya: karena takut. Ya, takut. T-A-K-U-T.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena takut menyebabkan orang kehilangan kepercayaan bahkan terhadap dirinya sendiri. Karena takut menyebabkan orang mudah berjanji dan mudah percaya pada janji. Karena takut orang menjadi memaksa seseorang lain untuk berjanji. Tak sadar bahwa ketika seseorang dipaksa untuk berjanji justru semakin membuka segala kemungkinan untuk janji tersebut tidak ditepati. Karena janji yang diucapkan tadi tidaklah tulus. Didorong, dipaksa, dijebak. Dan ketidaktulusan itupun sekali lagi terjadi karena: Takut. Masalahnya cuma itu dan hanya selalu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu apakah inti pembicaraan ‘ngalor-ngidul’ ini? Musti ngapain dong kita kalau begitu? Yang pasti bukan kayang atau senam ritmik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-4751155751242729230?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/4751155751242729230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=4751155751242729230&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4751155751242729230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4751155751242729230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2009/01/janji-tinggal-janji.html' title='Janji Tinggal Janji'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-863969867454054841</id><published>2009-01-08T15:57:00.014+07:00</published><updated>2009-01-10T20:21:27.915+07:00</updated><title type='text'>Keenan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SWhoVY7AB_I/AAAAAAAAACI/pv2cjHh5ftw/s1600-h/IMG_1720.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SWhoVY7AB_I/AAAAAAAAACI/pv2cjHh5ftw/s320/IMG_1720.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289592479023106034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Keenan Avalokita Kirana. Keenan diambil dari kata bahasa Irlandia artinya 'Penjaga', Avalokita diambil dari kata bahasa Sansekerta &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Avalokiteshvara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; artinya 'Kasih Sayang', dan Kirana artinya 'Cahaya'. Penjaga Cahaya Kasih Sayang. Tapi cukup panggil saja dia Keenan. Atau Nang-nang. Atau Kintjeu. Atau Kinanto Sungkono. &lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Dilahirkan melalui proses persalinan secara &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Caesarian &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;karena terbelit tali pusat pada hari Jumat, tanggal 5 Agustus 2004, pukul 13.45 siang dengan berat 2,78 kg dan panjang 51 cm, di Rumah Sakit Bersalin &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Santo Borromeus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, Bandung. Ya, Keenan berzodiak &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Leo &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;dan lahir tepat di Tahun Monyet Emas pada jam Kambing. Seorang yang disinyalir oleh para ahli &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Feng Shui&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sebagai pribadi yang sangat cerdas dan cerdik, tidak bisa diam, memiliki sifat memimpin alami, pelawak dan penghibur serta &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;attention seeker&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sejati.  Memilih menjadi seorang vegetarian sejati sejak umur 1 tahun, yang mana kenyataan ini selalu dianggap bohong dan hanya isapan jempol dan rekayasa kedua orang tuanya. Mampu membaca di usia 2 tahun sehingga dia dinobatkan sebagai satu dari seribu anak pemegang rekor anak &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Batita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; (Bawah Tiga Tahun) yang sudah mampu untuk membaca versi &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Museum Rekor Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; (MURI). Kata-kata pertama yang diucapkannya adalah: ‘Nggu!’. Entah apa maksudnya. Memiliki &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;sense of rhythm&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;sense of tone&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yang tinggi karena sejak didalam kandungan selalu diperdengarkan musik klasik dan ketika berumur kurang dari satu tahun selalu dinina-bobokan dengan permainan drum ayahnya sampai jatuh tertidur serta diperdengarkan musik dari berbagai aliran. Sempat menjadi murid &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;playgroup Gymboree&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; di Bandung, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Montessori &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Bandung dan menjalani terapi untuk meningkatkan fokus di &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Our Dream&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, Bandung. Pakar psikologi anak di sekolahnya sempat menganggap Keenan punya kecenderungan autis dan hiperaktif karena susah sekali untuk diam tenang. Namun setelah diteliti itu semua dikarenakan tingkat kecerdasannya yang diatas rata-rata anak seusianya (IQ Keenan disinyalir sekitar 150-160) sehingga dia mudah sekali bosan. Ketika di &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Montessori &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Bandung-pun dilaporkan bahwa dia sudah sangat bosan untuk membaca karena buku bacaan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Level Advance&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; di sekolahnya setara dengan buku bacaan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Level &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;4 miliknya dirumah. Sedangkan Keenan sudah membaca sampai dengan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Level&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; 9. Dimanapun dia bersekolah dia selalu menjadi murid favorit yang selalu dinantikan kedatangannya karena dia terkenal sangat ramah terhadap semua gurunya sampai saat ini. Keenan juga terkenal dengan sifatnya yang menyukai kebersihan. Dia tidak bisa melihat sampah, kotoran maupun barang-barang yang berserakan. Selalu akan dia ambil dan dibuang ke tempat sampah ataupun dikembalikan ke tempatnya semula. Dia juga sempat mendapat gelar murid dengan gigi terbaik disekolahnya sekarang, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Amanda Montessori&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; di Bintaro,  karena sejak kecil sampai sekarang tidak pernah makan permen dan setiap selesai makan apapun selalu disiplin untuk sikat gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itulah Keenan. Membanggakan. Menakjubkan untuk sebagian orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi buat saya Keenan tetap Keenan. Keenan yang sekarang sudah berusia 4 tahun lebih. Keenan yang rambutnya mirip almarhum &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Heath Ledger&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Keenan yang selalu mengganggu saya dengan memanggil &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘Ayah Marcell Hidup’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sambil tersenyum nakal. Keenan yang setiap malam selalu minta dipijat dengan minyak kayu putih merek &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Sidola&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; ataupun dengan minyak &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Yu-Yee&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; Cap Limau. Keenan yang selalu ingin menonton potongan film duet drum antara &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Phil Collins&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Chester Thompson&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yang saya &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;rip&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dari &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;DVD Genesis: Live At Wembley 1986&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sambil bermain stik drum diatas &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;drumpad&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Keenan yang selalu takut mandi air dingin. Keenan yang selalu tidur jumpalitan sampai-sampai secara tak sadar menendang muka saya. Keenan yang selalu minta dibuatkan roti bakar dengan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;muisjes &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;(baca: meses) &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Ceres&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; menggunakan &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;bread toaster &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;berbentuk sapi imut bermerek &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Fagor &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;(yang selalu dia katakan dengan: ‘Mau bikin Fajor!’). Keenan yang tergila-gila dengan lagu &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘Hide You’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dari &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Kosheen&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, ‘&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Straight Line’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dari &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Silverchair&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘Eye in the Sky’ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;dari &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Alan Parsons Project&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘On the Way Home’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dari &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Dewa Budjana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; serta kompilasi lagu-lagu &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;The Beatles &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;yang dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi kanak-kanak berjudul &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;The Starbugs: Kids Singing Beatles&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Keenan yang selalu kentut sembarangan dan sesudahnya bilang: &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘P&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;ermisi, mau kentuuut!’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; walaupun rasanya sudah sangat terlambat untuk permisi. Keenan yang selalu menemani saya berlatih Taichi di Senayan dengan sepedanya. Keenan yang doyan makan tahu dan tempe di restoran sunda &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Sambara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Keenan yang selalu bilang &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘Mau pundung aja! Mau pulang kampung aja!’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; (Pundung adalah bahasa Sunda. Artinya kesal, marah) kalau ditegur ketika dia dianggap nakal dan membantah.  Keenan yang super cerewet dan bawel. Keenan yang selalu mengingatkan saya dengan bilang: ‘&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Pakai seatbelt, Ayaaah. Nanti ditangkep polisi.’ &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Ada seseorang yang tengah merindukan dia. Kangen berat. Mau mati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Orang itu adalah saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-863969867454054841?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/863969867454054841/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=863969867454054841&amp;isPopup=true' title='23 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/863969867454054841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/863969867454054841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2009/01/keenan.html' title='Keenan'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SWhoVY7AB_I/AAAAAAAAACI/pv2cjHh5ftw/s72-c/IMG_1720.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-6298858991700152217</id><published>2009-01-08T10:56:00.009+07:00</published><updated>2009-01-08T20:05:46.600+07:00</updated><title type='text'>Selamat Tahun Baru 2009</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Telah genap seminggu saya menghabiskan waktu saya di Kuala Lumpur. Berangkat dari Jakarta tanggal 31 Desember 2008, langsung menuju ke tempat dimana Melati tengah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;shooting &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;untuk sebuah drama 26 episode berjudul ‘Noktah Pilu’ di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Allson Klana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, Nilai, dibantu dua orang aktor Malaysia yang cukup dikenal saat ini yaitu Tony Eusoff dan Jehan Miskin. Saat itu sebenarnya saya sedang berada dalam keadaan hati yang tidak cukup ‘enak’ karena banyak hal mengganggu saya dari semenjak saya memutuskan untuk berangkat. Ya, saya dengan begitu banyak hal di kepala yang rasanya tidak pernah berhenti berpikir sebentar saja. Dan hal yang bisa membuat kepala saya berhenti untuk berpikir sejenak adalah dengan bertemu dan memeluk Melati. Hanya itu.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Begitu banyak yang ingin diwujudkan di tahun yang baru ini termasuk salah satunya adalah memulai hidup berumah tangga lagi. Dan hal terakhir ini adalah hal yang (justru) paling bisa membuat saya tersenyum diantara hal-hal yang ‘ngeselin’ lainnya yang ada di kepala saya. Saya tersenyum bahagia karena saya sadar saya telah memilih orang yang tepat. Dan saya mencintai dan menghormati pilihan saya bukan hanya sekedar karena pilihan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu? Apa yang membuat kesal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terlalu perfeksionis. Walaupun sudah jauh membaik dari sebelum-sebelumnya. Dan semesta ini rasanya seperti tidak pernah berhenti mengingatkan saya akan hal bahwa tidak ada sesuatupun yang sempurna. Ini adalah pelajaran tersulit saya selama saya hidup di alam kehidupan yang sekarang ini. Ya, saya menerima itu. Karena ternyata menjadi orang yang perfeksionis itu seperti orang yang tidak menyadari bahwa hidup adalah proses. Berkembang, bergulir dan berubah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;The only constant is change. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Menuju kepada apa yang disebut sebagai ‘sempurna’. Kesempurnaan yang bukan hanya sekedar hasil akhir tapi lebih kepada bagaimana kita menjalani proses dengan penuh kesadaran dan keberserahan diri. Karena proses harus dilewati dan tidak bisa dihindari. Ya, saya masih belajar dan belajar dan belajar. Belum selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya hanya kurang bisa menerima ketika orang lain terlalu memaksakan ekspektasinya, pandangannya terhadap saya tanpa pernah tahu apa sebenarnya yang menjadi ekspektasi dan pandangan saya. Sok tahu tepatnya. Memang, tidak menutup kemungkinan seseorang diluar saya lebih mengetahui tentang apa saya inginkan ketimbang diri saya sendiri. Kemungkinan itu ada. Ya, ngerti saya. Tetapi itupun tidak pasti, kan? Apapun yang terjadi atas diri kita jelas kita yang jauh lebih tahu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;I just feel that sometimes they were just gone too far with their own expectations.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; Dan ketika ekspektasi mereka tidak sesuai (dan seringnya memang tidak sesuai) mereka kecewa dan menyalahkan kita. Saking inginnya menanamkan ekspektasinya pada orang lain sampai seringkali lupa kalau mereka juga punya kehidupan sendiri yang sepatutnya lebih penting untuk dipikirkan ketimbang memikirkan hidup orang lain. Sampai lupa untuk menaruh hormat pada jalan hidup orang lain, jati diri orang lain. Dan itu memang menyebalkan. Sumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimalah kenyataan bahwa masing-masing dari kita berbeda. Berbeda fisik, psikis, mental, spiritual. Dunia tidak akan menjadi seindah dunia yang sekarang ini kalau semuanya sama dan seragam. Mengerikan. Bencana. Keteraturan dan keseragaman akan bergulir dan bertransformasi menjadi ketidakberaturan dan ketidakseragaman. Demikian sebaliknya, ketidakberaturan dan ketidakseragaman akan bergulir dan bertransformasi menjadi keteraturan dan keseragaman. Begitu seterusnya roda kehidupan berputar. Dan kita sepatutnya berada di titik keseimbangan. Masyarakat yang damai adalah masyarakat yang seimbang, yaitu masyarakat yang dengan lapang dada mampu menerima dan menghargai perbedaan dan disaat yang bersamaan tidak mengesampingkan dan meremehkan aturan dan norma yang berlaku. Dan motivasi dari kesemua tindakan ini tiada lain adalah rasa cinta dan kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun yang baru ini saya sangat berharap semoga lebih banyak orang yang sadar bahwa masing-masing dari kita punya jalan hidup sendiri-sendiri. Jangan pernah berpikir apalagi mencoba untuk menyeragamkan pola pikir orang lain dengan memaksakan pola pikir kita yang kita anggap benar. Menyamaratakan, menggeneralisir. Jangan sok paling benar karena jelas-jelas belum tentu benar untuk kemudian menggurui orang lain, menzalimi orang lain. Saya belum tentu benar sekaligus juga belum tentu salah. Demikian juga anda bagi saya atau anda untuk diri anda sendiri. Siapapun yang berada di titik keseimbangan tidak akan pernah sok tahu dan merasa dirinya yang paling benar. Tempatkan diri kita pada titik kesimbangan. Berdamailah dengan diri anda sendiri sebelum berdamai dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya kita sadar bahwa tidak ada yang salah ataupun benar. Relatif. Dan itulah hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Sabbe Sankhara Anicca&lt;/span&gt; saya ucapkan kepada teman saya almarhum Clifford Rikoemahoe yang meninggal dua hari yang lalu di Jakarta. Ucapan belasungkawa saya tujukan secara khusus kepada istri tercinta almarhum, Anne Janet yang kini tengah mengandung anak almarhum berusia dua bulan. Selamat jalan, Cliff. Sampai ketemu lagi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Have a safe journey&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada sahabat saya tercinta Marcella Zalianty yang kini tengah berproses melewati sebuah ujian hidup yang cukup berat: jangan menyerah namun tetaplah berserah. Semua ini hanyalah proses untuk kita menjadi lebih baik. Dan sekali lagi proses inilah yang menjadi harta karun hidup yang sebenarnya. Saya selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Tahun Baru 2009.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-6298858991700152217?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/6298858991700152217/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=6298858991700152217&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/6298858991700152217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/6298858991700152217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2009/01/selamat-tahun-baru-2009.html' title='Selamat Tahun Baru 2009'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-4367449300553769147</id><published>2008-12-10T18:46:00.004+07:00</published><updated>2008-12-11T00:17:56.681+07:00</updated><title type='text'>Present</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;“..Yesterday is a history, tomorrow is a mystery. But today is a gift, that is why they call it present..”      - Master Oogway -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Kung Fu Panda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Pernah nonton? &lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Saya jatuh cinta setengah mati dengan filem animasi ini dan karena rasa cinta ini pula saya yakin jikalau keping DVD-nya mampu berbicara, dia tentu sudah berteriak minta ampun karena sering diputar. Cerita yang sangat mudah dicerna, tokoh-tokoh yang memiliki karakter sangat kuat dan yang terpenting: sarat akan makna positif. Ya, diantara begitu banyak tayangan (terutama tayangan lokal) yang bisa dibilang ‘kurang’ bermakna positif (malah banyak negatifnya. &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Sorry to say!&lt;/span&gt;) akhir-akhir ini, &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Kung Fu Panda&lt;/span&gt; adalah salah satu rekomendasi terbaik yang selalu saya tawarkan kepada siapapun terutama kepada anak saya, Keenan Avalokita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan diawal tulisansaya kali ini adalah kutipan dari dialog yang terjadi antara &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Po&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, si panda dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Master Oogway&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, sang guru utama yang secara ‘tidak sengaja’ memilih Po sebagai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘The Dragon Warrior’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; (Ksatria Naga) dalam sebuah kompetisi bela diri yang diadakan di sebuah desa bernama &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;The Valley of Peace&lt;/span&gt;. Dan kata-kata dalam dialog ini selalu menjadi ‘mantra emas’ yang selalu saya ucapkan dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Karena saya sangat setuju dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Master Oogway&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Saya sepatutnya berkonsentrasi pada masa sekarang. Masa lalu adalah pelajaran berharga. Yang telah terjadi, terjadilah. Petik maknanya. Saya telah menjadikan semua pengalaman saya di masa lalu sebagai bekal saya untuk secara sadar dan sabar menjalani kehidupan saya di masa sekarang. Jangan TAKUT menghadapi masa yang akan datang karena apapun itu, belum terjadi. Masa depan akan selalu penuh dengan tanda tanya. Dan terjadi atau tidaknya sesuatu itu (termasuk apapun yang saya takutkan akan terjadi di masa depan) adalah tergantung dari apa yang saya buat dan kerjakan di masa sekarang. Cerahnya masa depan saya tergantung seberapa ‘cerah’-nya saya di masa sekarang ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;That's it. There are no secret ingredients. The Dragon Scroll has been opened already.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Setuju dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Master Oogway&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;? :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-4367449300553769147?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/4367449300553769147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=4367449300553769147&amp;isPopup=true' title='21 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4367449300553769147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4367449300553769147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/12/present.html' title='Present'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>21</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-1716821170941497820</id><published>2008-12-09T12:57:00.011+07:00</published><updated>2008-12-10T14:38:15.793+07:00</updated><title type='text'>Terima Kasih, 'Anonymous'</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Saya sedang malas meng-&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;update blog &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;saya akhir-akhir ini. Ya, malas sekali. Dan saya tahu sekali penyebabnya. Selain karena saya juga tengah berkonsentrasi dengan kegiatan-kegiatan saya yang non-maya (baca: nyata) sambil menikmati &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;quality time&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; saya di Kuala Lumpur bersama kekasih tercinta, saya juga ingin mengamati lebih banyak kejadian dan sedang tidak ingin terlalu banyak berpendapat dan (apalagi) menghakimi. Saya sedang ingin mengoptimalkan kedua mata dan kedua telinga saya untuk melihat dan mendengar lebih lagi serta membiarkan mulut saya beristirahat sejenak dari berkomentar.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Lucu kadang-kadang kalau saya mengamati komentar-komentar terhadap apa yang saya tulis di &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;blog &lt;/span&gt;saya ini. Kalau anda tidak percaya, silahkan anda juga amati kolom &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;ShoutBox&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; saya. Begitu banyak orang yang mendukung, mendoakan dengan tulus (karena ada juga yang mendoakan kurang tulus karena sambil menyindir), protes tak tentu arah bahkan ada yang berusaha menciptakan ‘forum gosip’ sendiri yang tujuan sebenarnya adalah &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;complaining&lt;/span&gt; terhadap kekurangan-kekurangan dan ketakutan-ketakutannya sendiri dan akhirnya karena tidak punya teman curhat, mereka ‘tumpahkan’ semuanya di &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;blog &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;saya, di &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;ShoutBox&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; saya. Saya jadi kena getahnya. Lengket.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat terpikir untuk menutup saja kolom &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;ShoutBox&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; itu. Karena jujur, beberapa dari isinya sangat sensitif bahkan mengandung unsur yang provokatif dan potensial menciptakan konflik dan perang yang bukan hanya terhadap diri saya tapi juga pihak lain. Menyinggung dan melukai. Namun akhirnya saya memutuskan untuk tidak menutupnya. Saya membiarkan kolom &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;ShoutBox&lt;/span&gt; seperti tembok kosong di pinggiran jalan yang menjadi sasaran corat-coret iseng. Vandalisme yang lebih bermartabat.  Saya membiarkan siapapun berekspresi. Buat saya memberikan sedikit &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;space&lt;/span&gt; kepada siapapun (terutama yang kurang mampu) untuk berekspresi dengan layak adalah perbuatan yang baik. Ya, biarkan saja. Lagipula saya sangat-sangat menikmatinya sebagai hiburan dan seringkali (maaf) tertawa terpingkal-pingkal sambil salto jumpalitan dibuatnya. Sekali lagi maaf. Saya hanya menikmati hidup saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Ya, benar. Mereka tidak punya sarana berekspresi. Mereka butuh ditanggap dan dianggap. Banyak orang yang masih perlu untuk belajar mengenali, menemukan, memahami dan menerima diri sendiri. Mereka ketakutan. Mereka marah-marah, mencerca dan menghakimi karena (sebenarnya) ingin mendapatkan jawaban atas apapun yang menjadi penyebab ketakutan mereka sendiri. Dan kali ini mereka meminta jawaban dari saya. Jawaban apa? Seperti apa? Buat apa? Untuk bahan perbandingankah? Bahan diskusikah? Atau karena sebenarnya masih belum yakin dengan pilihannya sendiri? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Kasihan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Saya terus-menerus belajar untuk mendengar, menerima dan menghargai pendapat dan ekspresi siapapun sebagai sarana latihan untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari. Saya tidak ingin menutup diri saya dari apapun komentar, pendapat, cercaan ataupun penghakiman orang lain. Dengan saya membuka diri ini nyata-nyata telah membuat saya justru semakin yakin dengan apapun pilihan yang saya telah, sedang maupun akan ambil. Dan apapun itu adalah pilihan saya. Bukan pilihan orang lain. Kebenaran saya belum tentu menjadi kebenaran bagi orang lain. Kebahagiaan saya belum tentu juga menjadi kebahagiaan bagi orang lain. Relatif. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Take it or leave it.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Oh,yaa. Hampir lupa. Pagi ini saya mendapatkan tiga komentar dari seseorang yang (beraninya) mengaku bernama ‘&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Anonymous’ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;yang dengan berapi-api menyatakan kritiknya mengenai isi &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;blog &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;saya yang berjudul &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;‘Surat Untuk Reza dan Dewi’.&lt;/span&gt; Saya ingin anda semua membacanya. Saya tidak mengubah sedikitpun apa yang ditulis oleh 'Anonymous' ini. Teknologi &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Cut and Paste&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sangat membantu saya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Saya bukan orang yang anti terhadap kritik yang pedas. Saya bukan memprovokasi anda semua untuk berperang melawan kritik apalagi pengkritiknya. Saya hanya ingin kita semua belajar untuk menjadi lebih baik. Sekali lagi: saya tidak ingin memberikan jawaban dan tanggapan  sedikitpun atas kritik-kritik ini. Silahkan anda baca dan nikmati sendiri. Dan, kalau memungkinkan, bantu dia untuk menemukan jawaban dari ketakutan-ketakutannya. Karena dibalik semua kritiknya sebenarnya dia sedang bertanya dan memohon pertolongan. Kasihan dia. ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Komentar pertama:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Bravo buat Marcell dan Dewi!! cinta sejati tidak akan berakhir dengan perceraian jika kalian memahaminya. hanya satu kata " ada jalan yang disangka orang lurus namun ujungnya adalah maut. sorry untuk mengatakan KEBENARAN ini.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;December 9, 2008 9:17 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Komentar kedua:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Kata-katamu sangat manis tapi maaf aku tidak salut dengan kata-kata itu lho, maaf omong ya gak yaaa? kalo menghargai CINTA gak begitu dong!!!! Dan bukan orang lain yang salah, kalian semua yang teramat sangat salah, gak layak jadi contoh publik!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;December 9, 2008 10:20 AM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Komentar ketiga:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;saya merasa bingung dengan konsep cinta kalian, disaat ingin menyatu kalian bilang indah dan konflik terjadi lalu kalian bilang berpisah lebih baik, dan kalian bilang itu bukan kesalahan .....????  lalu konsep cinta seperti apa yang akan ditransformasikan pada anak2 nantinya, .........  bahwa ada seseorang yang dulu pernah anda cintai dan sekarangpun masih hanya saja dalam kadar atau bentuk yang berbeda?????  guys love or cinta bukan suatu bentuk pengharapan akan mendapatkan bahagia.... namun pengorbanan untuk saling mengerti bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan kepuasan dihidup ini hanya memberi saja dengan sukacita   soooo.....berpikir dulu sebelum memulai suatu ikatan karena........Apa yang sudah dipersatukan YAHWEH tidak dapat diceraikan manusia....AMIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 9, 2008 10:36 AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciecieciecieeeeehhhhhh! Sedap! &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Cang-cing &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;(canggih cing) nii '&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Anonymous'&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;! :) Untuk &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘Anonymous’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, siapapun anda, komentar-komentar anda MANTAP ! Ya, mantap, karena anda sudah membantu memberikan bahan untuk saya menulis lagi disaat krisis kemalasan menimpa diri yang fana ini :) Oh, ya, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;boss&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, laen kali jangan pake&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; ‘Anonymous’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; doong. Kan nggak bisa dibales jadinya sama kita-kita. Atau emang nggak ngarepin balesan yaa? Tapi seneng kan situ bisa ekspresif, marah-marah, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;complaining&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; tentang kebingungan sendiri di &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;blog &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;orang lain?  Hehehehe! &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Anyway, thanks! Glad to help, 'Anonymous'!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; Semoga lekas sembuh, jangan lupa obatnya dimakan (Ayo, Marceeell! Katanya nggak mau komentaar?? ;))&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;Naaah, bagaimana dengan anda? Komentar terbaik akan mendapatkan hadiah langsung berupa pelajaran untuk hidup lebih berbahagia dengan lebih menghargai diri sendiri dan menghargai hidup orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk kekasih saya Melati Adams yang telah membuatkan saya &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Okonomiyaki&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;  (&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Japanese Pizza?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;) untuk makan malam. Enaaak, B! Sumpaaah! :) &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Svetlana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; aja? &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Love you!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avalokita, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;I miss you so much my boy!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; Ayah sayang kamu sampai mati :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-1716821170941497820?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/1716821170941497820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=1716821170941497820&amp;isPopup=true' title='22 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/1716821170941497820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/1716821170941497820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/12/terima-kasih-anonymous.html' title='Terima Kasih, &apos;Anonymous&apos;'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-4018012686632320210</id><published>2008-11-26T23:21:00.007+07:00</published><updated>2008-11-27T00:02:26.265+07:00</updated><title type='text'>Surat Untuk Reza dan Dewi</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Reza dan Dewi Lestari Gunawan, sahabatku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas kesempatan berbagi suka dan duka dalam perjalanan hidup kali ini bersama kalian. Perjalanan yang aneh sekaligus lucu. Perjalanan yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Yang kesemuanya hanya bisa terangkum dalam satu kata: ‘INDAH’. Keindahan yang telah mampu menyadarkan saya untuk mensyukuri hidup ini dengan berserah dan menerima. Mencintai diri apa adanya. Dan itulah kebahagiaan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk selalu bersama-sama menjaga, membesarkan dan mendidik Avalokita, bagian hidup saya, darah daging saya, sinar terang kehidupan yang paling saya cintai dan hargai sebagai bentuk nyata dari sebuah perjalanan hidup yang indah. Perjalanan kemarin bukanlah kegagalan seperti yang dikatakan orang-orang diluar sana. Mereka keliru. Sangat keliru. Avalokita adalah cinta. Dan cinta tak pernah salah. Tidak pernah gagal. Cinta melebihi apapun termasuk apa itu salah dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reza dan Dewi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata bahagia. Menetes dalam rasa bahagia. Untuk kalian berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menempuh perjalanan hidup yang baru buat kalian. Doa, dukungan dan cinta saya selalu mengikuti kalian berdua. Sampai akhir hayat.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:18px;"&gt;With Metta-Karuna, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:18px;"&gt; - medhakumara -&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-4018012686632320210?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/4018012686632320210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=4018012686632320210&amp;isPopup=true' title='39 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4018012686632320210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4018012686632320210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/11/surat-untuk-reza-dan-dewi.html' title='Surat Untuk Reza dan Dewi'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>39</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-4740215518861607018</id><published>2008-11-07T23:16:00.006+07:00</published><updated>2008-11-17T02:09:20.423+07:00</updated><title type='text'>Takut Mencintai</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kematian. Sesuatu yang seringkali membuat kita bergidik ngeri. Mengapa? Karena kematian datang seperti maling di malam hari. Tanpa permisi. Tanpa basa-basi. Namun sadarkah kita bahwa kematian itu adalah sesuatu yang alami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat pernyataan seorang bhante, Bhante Uttamo Mahathera, yang bercerita mengenai kematian. Saat itu saya tengah berada di sebuah acara &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;talk show &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;yang mengundang beliau sebagai pembicara waktu itu. Beliau dengan sangat cerdas menanggapi kematian dan tanggapannya kurang lebih begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Begitu banyak orang takut menghadapi kematian. Padahal kematian adalah sesuatu yang wajar. Seperti juga kehidupan. Yang membuat kita takut sebenarnya adalah cara menghadapi kematian dan apa saja yang harus kita tinggalkan ketika menghadapi kematian. Berangkat dari cara tentunya kita menginginkan mati yang wajar kalau perlu sambil tidur dan tidak merasakan apapun. Kepinginnya kan begitu. Dan kalau kita berbicara mengenai apa saja yang harus kita tinggalkan, kita berpikir mengenai kekasih hati, keluarga yang kita cintai, harta yang sudah kita tumpuk bertahun-tahun, karier yang menanjak serta popularitas yang tak perlu diragukan lagi. Hal-hal inilah sebenarnya yang lebih membuat kita takut untuk menghadapi kematian dan bukan kematian itu sendiri. Karena kematian tidak bisa tidak harus kita alami. Sekali lagi, kematian adalah hal yang wajar. Seperti matahari yang terbit tentu ada saat dimana dia tenggelam. Semua berubah tidak ada yang kekal. Semua yang ada awal akan berakhir. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Alpha&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Omega&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau menambahkan lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Pernahkah anda menyadari bahwa jantung kita, yang merupakan salah satu tolok ukur penting dalam tubuh kita, yang menunjukkan bahwa seseorang itu hidup atau mati, sebenarnya membentuk sebuah mekanisme sinergis antara kehidupan dan kematian? Ketika jantung berdetak kita tahu ada momen dimana jantung tersebut memompa dan mengembang kemudian diam dan mengempis secara bergantian. Ketika jantung memompa dan mengembang itulah saat dimana dia ‘hidup’ dan ketika diam dan mengempis itulah saat dimana dia ‘mati’. Jadi sekali lagi, bahkan kehidupan kitapun adalah merupakan hasil kerjasama sinergis antara kehidupan dan kematian. Jadi, sekali lagi, kematian adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu ditakutkan.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayapun jadi teringat, setiap kali saya bersin, Melati selalu spontan berkata: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;‘Bless You!’.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; Ya, karena ketika saya bersin sebenarnya jantung saya berhenti satu detik. Mati satu detik kemudian hidup lagi. Terberkatilah saya ketika saya ternyata masih hidup setelah bersin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut saya berpikir: kalau begitu apa sebenarnya yang membuat kita semua pada takut mati? Kalau merujuk pada pernyataan Bhante Uttamo tadi saya lebih fokus kepada alasan yang kedua yaitu mengenai apa saja yang harus kita tinggalkan dibanding mengenai cara kita mati. Karena menurut saya kalau melihat dari cara kita mati jelas sangat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;unpredictable.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; Kebanyakan orang berpikir mending pasrah menjalani saja.  Yaah, mau diapain lagi kalau memang matinya harus sakit parah, mengalami kecelakaan atau di-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;fillet&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; oleh kekasih yang cemburu dan diletakkan didalam kantong plastik di kebun singkong misalnya. Malas ngebahasnya. Tidak akan pernah ada habisnya dan makin sering dibahas yang ada kita makin takut mau ngapa-ngapain. Mungkin keluar kamar aja takut. Hehehe! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih hati, keluarga yang dicintai, karier yang menanjak, harta yang berlimpah serta popularitas setinggi langit menurut hemat manusiawi saya lebih ‘mengerikan’ untuk ditinggalkan. Ditambah lagi dengan adanya bayang-bayang mengenai keluarga yang telantar karena ditinggal mati, anak-anak yang harus berkelahi memperebutkan harta warisan kita serta perusahaan yang bangkrut karena tidak bisa mandiri saat kita tinggalkan. Ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya kenapa kita takut mati? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Because we are attached on so many things in life&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;. Kita melekat. Kita belum mampu untuk melepaskan. Sulit untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;detached&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;. Berharap semuanya abadi. Dibawa mati. Dan motivasi yang mendasari kita untuk tetap melekat sebenarnya hanya satu: EGO. Dan ini sebenarnya bertolak belakang dengan konsep cinta yang sering kita gembar-gemborkan dimana-mana. Cinta itu seharusnya membebaskan segala sesuatu. Cinta itu tidak egois. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;To love is to detach&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;. Mencintai tidak harus selalu memiliki. Karena kalau kita sedang berbicara mengenai kepemilikan berarti kita sedang berbicara mengenai ego. Bukan cinta lagi. Beda cerita. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Mencintai berarti bersedia melepaskan kemelekatan termasuk kemelekatan pada ego kita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;. Dan kita juga sadar bahwa belajar mencintai itu ternyata tidak mudah karena konsekuensinya adalah harus belajar melepaskan. Dan itu adalah cinta yang sebenar-benarnya. Sejatinya cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita sebenarnya takut mati atau takut mencintai? Menurut situ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk hari Jumat di jalanan Jakarta yang selalu macet parah dan akan selalu menjadi teman setia untuk berlatih kesabaran.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-4740215518861607018?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/4740215518861607018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=4740215518861607018&amp;isPopup=true' title='29 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4740215518861607018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4740215518861607018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/11/takut-mencintai.html' title='Takut Mencintai'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>29</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-6429395107439863490</id><published>2008-11-05T14:20:00.009+07:00</published><updated>2008-11-27T00:22:38.937+07:00</updated><title type='text'>Istirahat</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Setelah sebulan lebih saya menjalani terapi bersama Sinshe Willy Koo, CMD serta diharuskan untuk beristirahat sementara dari latihan bela diri, akhirnya saya memulai untuk pelan-pelan menggerakkan tubuh saya kembali. Kemarin, Selasa tanggal 4 November saya mulai berlatih kembali bersama pelatih Taichi saya, Alex Marentek. Terus terang masih ada sedikit keraguan tentang apakah saya mampu untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;survive &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;latihan hari itu dikarenakan cedera punggung dan leher yang saya alami. Dan keraguan ini sempat mempengaruhi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;mood &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;saya untuk berlatih disamping cuaca yang saat itu memang sudah mulai menunjukkan ketidak-bersahabatannya. Awan mulai gelap dan sudah mulai menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya bertemu Alex setelah hampir sebulan kami tidak bertemu, kata-kata pertama dia adalah: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘Wah, lo kurus, man. Kenapa? Karena persiapan mau nikah? Hehehehe!’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; Saya tersenyum (agak kuning :D) dan saya mengatakan bahwa ini semua karena saya yang pasrah dan menuruti saran Sinshe Willy untuk beristirahat sementara. Biasanya saya sulit untuk percaya dan menuruti saran dengan mudah. Dan itu juga yang menghambat proses penyembuhan saya sejak dulu. Tidak pernah tuntas. Namun kali ini saya memutuskan untuk percaya dan menjalani terapi sampai tuntas karena benar-benar ingin sembuh. Kali ini saya memang benar-benar menghindari segala latihan fisik yang berat. Sebelumnya hampir setiap hari saya melakukan berbagai macam latihan fisik pribadi seperti &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;push-up &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;sit-up&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sampai beratus-ratus kali serta latihan-latihan yang bisa dibilang sedikit mendekati porsi latihan atlet. Sampai tiba-tiba disarankan untuk beristirahat dulu karena kondisi tulang punggung dan leher saya yang kurang memadai untuk melakukan aktifitas berat. Bahkan latihan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Brazilian Jiu-Jitsu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yang tengah berada di puncak paling menyenangkan buat sayapun harus diistirahatkan dulu. Karena memang ada beberapa teknik dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Brazilian Jiu-Jitsu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yang jika dihubungkan dengan cedera yang saya alami menjadi berakibat sedikit ‘berbahaya’. Sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Alex menyemangati saya dengan mengatakan bahwa dia benar-benar ingin saya turut serta dalam kejuaraan Taichi tahun depan dan dia menyarankan saya untuk benar-benar istirahat, meneruskan terapi sampai tuntas sambil pelan-pelan membangun fisik lewat Taichi serta latihan-latihan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; cardio &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;yang ringan. Sayapun mengiyakan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Mood&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; saya mulai membaik karena kata-kata Alex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamipun akhirnya memulai latihan kami. Setelah melakukan beberapa kali sesi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;sticking hands&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;pushing hands&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, Alex tiba-tiba berkomentar: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘Gua boleh jujur nggak ama lo? Lo sekarang jauh lebih relax. Justru ketika lo bener-bener (kasarnya) ‘divonis’ untuk beristirahat, lo menjadi ‘pasrah dan berserah’. Dan ini berpengaruh pada teknik sticking hands lo sekarang. Lo menjadi lebih &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;advanced&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; justru ketika lo &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;relax&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dan buat gua ini akan bagus banget ke depannya. Gua juga akan berkembang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Chi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; lo bergerak. Dulu sebelum lo diistirahatkan, lo selalu berusaha untuk menang, berusaha untuk bisa unggul dan itu membuat teknik lo menjadi ‘kabur’ dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Chi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; lo tidak mengalir. Emosional. Jujur, menurut gua momen istirahat lo ini &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;'blessing in disguise'&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; karena walaupun secara ketahanan fisik lo ada sedikit penurunan karena istirahat, tapi secara emosional lo jauh sangat membaik. Dan buat gua, kalo lo mendalami Taichi, keseimbangan emosional jauh lebih penting dari ketahanan fisik walaupun keduanya merupakan syarat yang penting. Semakin lo &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;relax&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; lo akan semakin fokus dan teknik akan mengalir dengan sendirinya. Sebaliknya, semakin lo emosional akan semakin tidak fokus dan akan mengaburkan teknik lo. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Relax, man&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Jangan melawan alam. Alam punya hukum dan aturannya sendiri. Ikutin flow-nya.’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; Kata-kata terakhir &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Jiao Lien&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; (pelatih muda) sangat menohok ulu hati saya. Jangan melawan alam. Ya, saya setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi inipun saya mengadu kepada tunangan saya, Melati Adams. Saya bilang padanya bahwa menurut orang-orang yang melihat saya, saya kini terlihat kurus. Maksudnya hanya bercerita biasa saja, namun ternyata komentar diapun sama. Dia bilang: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘Baby, I love you. Don’t put anything too strict on yourself. These days you’ve pushed yourself too hard on lot of things. I've known you and understand you already. You don’t have to prove anything to people, to me. That’s enough. I don’t want you to put so much burden by limiting yourself or being too strict. Chill a bit.’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hampir menangis. Melati benar. Saya sadar kalau saya selama ini terlalu memaksakan kehendak pada diri saya dan kali ini fisik saya yang menjadi korban. Saya sadar selama ini saya tidak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;balanced&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Selama ini saya selalu berusaha mencari titik ketenangan bahkan kalau perlu sampai harus ‘keluar’ dari ketenangan itu sendiri. Dan itu tidak pada tempatnya. Bukan begitu maksudnya. Saya tahu begitu banyak target yang ada di kepala. Begitu banyak program yang mau dijalankan. Tapi harus diingat bahwa semesta sudah punya jalurnya. Saya hanya tinggal berserah. Melakukan yang terbaik SESUAI kemampuan adalah salah satu aspek dari berserah. Yang pasti, saya tidak hanya diam dan menunggu. Saya bergerak terus. Namun saya terlalu terlena untuk terus bergerak. Saya lupa kalau saya juga harus istirahat. Dan beristirahat juga berarti berserah. Dengan beristirahat sejenak saya akan lebih siap untuk bergerak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali itu  saya tersenyum. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Ear to ear&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Dan bukan senyum kuning. Saya setuju. Satu lagi pelajaran mengenai berserah saya dapatkan dari Alex dan juga Melati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, Jiao Lien Alex Marentek! Ciayoooooo! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;and Melati, my baby, I love you too and I’m listening! :-*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-6429395107439863490?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/6429395107439863490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=6429395107439863490&amp;isPopup=true' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/6429395107439863490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/6429395107439863490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/11/istirahat.html' title='Istirahat'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-8764333814797977959</id><published>2008-11-03T01:20:00.011+07:00</published><updated>2008-12-27T13:18:55.269+07:00</updated><title type='text'>Pertemuan Yang Berkesan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Pada tanggal 31 Oktober 2008 yang lalu saya berkesempatan menyanyi pada sebuah acara yang diselenggarakan di salah satu sudut mall nan mewah dan terkemuka di Jakarta saat ini, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Pacific Place.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; Dibuka oleh MC Choky Sitohang, bersama puluhan penari super keren dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Eksotika Karmawibhangga Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; (EKI) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Dance&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yang diasuh oleh Aiko Senosoenoto, saya malam itu menyanyikan sekitar sepuluh lagu diiringi oleh sahabat-sahabat terkasih saya: Abbas Mirza (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;keyboards&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;), Duan Ferezka (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;bass&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;), Cesar Al-Kautsar (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;guitar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;), Hendro Gunawan (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;drums&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;) dan dua orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;backing vocals&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yaitu Jeffry Wattimena dan Dewi Andarini. Seru sekali acara yang diorganisir oleh sahabat-sahabat saya dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Studio One &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;malam itu, walaupun awalnya kami semua cukup dibuat was-was karena dikabarkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;event&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; ini berbenturan dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;event&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; lain yang tak kalah menariknya  yang diadakan ditempat yang sama. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;But the show went well. Thanks to all!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada satu hal tak terlupakan malam itu. Saat saya berjalan meninggalkan panggung menuju ruang ganti untuk berkemas, saya berpapasan dengan seorang wanita yang sangat menarik, berpakaian formal dan terlihat begitu elegan. Tiba-tiba wanita ini memberanikan diri untuk memanggil nama saya. Sayapun berhenti dan tanpa basa-basi wanita ini dengan sangat sopan mengatakan bahwa dia dan suaminya adalah penggemar berat saya. Mereka berdua hampir selalu mengejar kemanapun show saya diadakan, bahkan juga sempat mengingatkan saya kalau dia dan suaminya hadir dalam salah satu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;show &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;saya di Bali, waktu itu di Kamasutra. Iya, saya ingat show itu. Saya sangat tersanjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tiba-tiba raut wajahnya berubah. Matanya mendadak berkaca-kaca. Terharu. Berusaha terlihat tegar, dia mengatakan bahwa suaminya yang sangat menggemari saya itu telah meninggal dunia pada tanggal 15 September setahun yang lalu. Saat itu juga, giliran saya yang langsung terdiam. Saya memberanikan diri untuk mengatakan ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;so sorry&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;’ padanya. Suaminya meninggal karena kelainan darah yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih terdiam. Diapun berusaha untuk tidak terlihat sedih. Walaupun usahanya tidak cukup mampu menutupi kedua urat di dahinya yang terlihat menegang menahan rasa haru. Dengan mata yang masih berkaca-kaca, dia mengalihkannya dengan bersedia memberikan saya secarik kartu namanya. Sambil tetap berusaha menahan harunya, dia terus berusaha merogoh tasnya. Dia meminta maaf karena terpaksa harus meletakkan tasnya dahulu di lantai. Dan tanpa pikir panjang saya langsung menawarkan untuk memegangkan tasnya untuk mempermudahnya mencari kartu tanpa perlu meletakkannya di lantai. Sambil memberikan kartu namanya, dia mengatakan bahwa suaminya di alam sana  akan tersenyum bahagia melihat dia bertemu dengan saya malam itu. Bahkan besok dia akan menziarahi makam suaminya dan akan mengatakan bahwa dia telah bertemu saya, idola mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berpamitan pulang. Saya tertegun. Kepala saya tidak berhenti mengingat dan berpikir. Saya tersentuh oleh momen pertemuan malam itu. Dalam hati saya tidak berhenti berdoa. Saya bersyukur bahwa perjalanan hidup saya ternyata mampu memberikan makna bagi seseorang bahkan sampai pada akhir hidupnya. Saya bersyukur bahwa pertemuan saya dengan istri almarhum malam itu walaupun mengharukan namun mampu mengingatkan pada kenangan indah dari sebuah perjalanan cinta yang tak lekang oleh waktu dan kematian sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, buat saya momen-momen seperti ini semakin menyadarkan saya bahwa waktu saya tidak banyak. Saya tidak boleh terlena. Saya harus terus melakukan sesuatu. Dan sesuatu itu adalah berbuat baik serta bersyukur tanpa henti sebagai sebuah paket. Berbuat baik dan bersyukur bagi diri saya sendiri, orang-orang yang saya sayangi dan tentunya semua mahluk tanpa kecuali. Tidak bisa tidak. Karena saya percaya bahwa keberadaan saya di dunia ini punya makna. Tidak sekedar ‘ada’. Dan hanya perbuatan sayalah yang mampu memberikan definisi nyata sekaligus nilai lebih dari sekedar ‘ada’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta atas pejalanan hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada sahabat saya, Aida Nurmala dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Studio One&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; atas seluruh kepercayaan dan perhatiannya kepada saya. Jarang sekali ada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;event organizer&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yang bener-bener mikirin dan merhatiin makanan buat saya yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;vegetarian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; ini, karena biasanya berakhir dengan salad lagi, salad lagi. Kambiiing kaleee!!! Sukses dan bahagia selalu, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;sahabats&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada Aiko Senosoenoto dan EKI&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; Dance&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; atas perkenalannya di dunia nyata :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Sabbe sankhara anicca&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, saudaraku IRCP. Beristirahatlah dalam damai. Dan kepada istri tercintanya, MK, terima kasih atas pertemuan yang tak terlupakan. Pertemuan yang membuat saya semakin berusaha untuk memaknai hidup saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-8764333814797977959?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/8764333814797977959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=8764333814797977959&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/8764333814797977959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/8764333814797977959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/11/pertemuan-yang-berkesan.html' title='Pertemuan Yang Berkesan'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-7964292546817263294</id><published>2008-10-24T09:32:00.007+07:00</published><updated>2008-11-17T02:11:11.663+07:00</updated><title type='text'>Motivasi</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Saya pernah mendengar sebuah kisah perumpamaan tentang sebuah patung atau rupam (baca: rupang) Sang Buddha, yang ceritanya kurang lebih begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;"Sebuah patung Sang Buddha terletak pada sebuah tempat yang tidak terlalu strategis. Seringkali patung tersebut terkena debu, kotoran, panas dan hujan. Suatu hari saat hujan deras ada seseorang pejalan kaki yang melihat patung tersebut terkena hujan. Orang ini berpikir untuk menyelamatkan kondisi patung tersebut dari derasnya hujan hari itu. Namun yang dia miliki hanya baju, celana dan sepatu yang dia kenakan. Akhirnya dia memutuskan untuk menanggalkan sepatunya dan memakaikannya pada kepala patung agar tidak secara langsung terkena hujan. Dia lebih rela bertelanjang kaki karena dia tidak mungkin menanggalkan baju dan (apalagi) celananya untuk dipakai menutupi patung. Sepatunya saat itu adalah benda paling realistis dan yang terbaik yang bisa ia tinggalkan tanpa harus menderita kedinginan dan bertelanjang.&lt;br /&gt;Setelah orang pertama pergi, berapa lama kemudian datanglah seorang lain yang mengenakan jas hujan dan payung. Melihat sebuah patung Sang Buddha ditutupi oleh sepatu, marah dan tersinggunglah orang ini. Tanpa pernah bertanya mengapa, orang ini langsung membuang sepatu tersebut dan sambil marah- marah mengumpat dia mengganti sepatu tersebut dengan payungnya. Dia menganggap hanya orang yang tidak menaruh hormat pada Sang Buddhalah yang mampu meletakkan sepatunya diatas kepala patung tersebut. Dia tersinggung dengan sikap orang pertama tadi."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran apa sebenernya yang saya dapat dari cerita ini? Pertama yang saya lihat disini adalah tidak ada satupun pihak yang bisa disalahkan. Apakah itu orang yang pertama yang rela menanggalkan sepatunya, maupun orang kedua yang rela meninggalkan payungnya.  Karena apa? Karena masing-masing dari mereka tentunya memiliki motivasi kenapa mereka memutuskan untuk melakukan itu. Ya, motivasi mereka adalah melindungi patung Sang Buddha dan motivasi ini adalah motivasi benar. Jadi menurut saya keduanya benar hanya memiliki kekurangan-kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun motivasinya benar, kekurangan orang pertama adalah dia tidak pernah menyangka bahwa dengan meletakkan sepatunya diatas patung Sang Buddha itu akan menyebabkan penghinaan bagi pihak lain yang juga menghormati patung tersebut. Bahwa apa yang dia lakukan mungkin saja menjadi ‘menyakiti’ perasaan dan hati nurani orang lain bahkan bertentangan dengan '&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;common sense&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;'. Namun kita juga melihat bahwa orang pertama secara realistis mampu memberikan yang terbaik yang dia miliki untuk dipersembahkan melindungi patung Sang Buddha. Dan ini adalah menjadi kelebihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang kedua kekurangannya adalah dia langsung menuduh, men-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;stigma&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, men-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;judge&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; siapapun (yang dalam hal ini adalah orang pertama) yang melakukan tindakan tidak pantas terhadap patung sang Buddha. Seharusnya dia mampu untuk secara lebih objektif melihat bahwa apapun yang dilakukan walaupun itu tidak sesuai, apabila dilakukan atas dasar motivasi benar, bisa menjadi baik. Kelebihan orang kedua adalah dia mampu, dengan juga secara realistis memberikan yang terbaik dan lebih ‘pantas’ baik secara hati nurani maupun '&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;common sense&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;' untuk dipersembahkan melindungi patung Sang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini mengubah cara pandang saya dalam menyikapi banyak hal dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya seringkali bertemu dengan begitu banyak orang dengan berbagai latar belakang dan motivasi. Banyak dari mereka melakukan hal-hal yang seringkali tidak berkenan di hati saya. Lebih parah lagi  banyak juga yang melakukan hal yang juga secara ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;common sense&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;’ bertentangan. Namun saya berlatih keras bahwa saya harus objektif, holistik. Tidak boleh parsial. Saya tidak punya hak untuk memberikan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;judgement&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; yang mentah dan kasar hanya berdasarkan apa yang terlihat. Saya harus lebih mengakar. Dengan begitu saya akan mampu untuk lebih berpikir positif, menghargai usaha orang lain dan tidak dengan mudah melakukan penilaian terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pencuri yang rela dan siap untuk suatu saat digebuki massa hanya karena mencuri sebotol obat untuk menyelamatkan nyawa anaknya yang sakit tanpa adanya pilihan lain. Atau seorang koruptor yang mengharapkan dosa-dosanya terampuni dengan membangun rumah ibadah sebanyak-banyaknya namun tetap tidak membuat dirinya jera untuk terus berkorupsi. Atau sikap orang tua yang selalu memaksa anaknya untuk masuk ke sekolah yang mereka inginkan dengan harapan anaknya mampu meneruskan cita-cita mereka dan hidup lebih layak padahal itu bukan sesuatu yang diinginkan anaknya. Kesemuanya ini adalah fenomena-fenomena yang harus saya sikapi dengan seimbang. Ketika seseorang melakukan tindakan yang keliru terhadap saya, tidak serta-merta membuat saya langsung marah, menuduh dan langsung memberikan penilaian. Juga ketika seseorang berbuat baik atau bahkan kelewat baik, saya harus tetap sadar, waspada dan tidak terlena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasilah yang mampu membuat tindakan seseorang menjadi lebih bermakna. Motivasi membentuk karakter tindakan seseorang. Tanpa motivasi, apapun itu hanyalah tindakan kosong. Dengan menilai segala tindakan dari motivasinya akan membuat kita menjadi lebih bijak. Walaupun tindakan seseorang tidak berkenan dihati kita ataupun secara ‘&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;common sense&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;’ itu bertentangan, kita tidak langsung negatif. Menelaah terlebih dahulu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Observing&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;. Karena disetiap hal walaupun itu negatif, pasti ada positifnya demikian juga dalam hal-hal positif sudah  pasti ada negatifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun adikku, Filinno ‘Big-Ninz’ Siahaan! Kamu akan selalu buat abangmu ini bangga dengan apapun yang kamu raih, No. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Move forward!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt; Abadi selalu, bradeeeuur! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;I miss your ‘bawelness’ so much&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;, Keenan. Ayah sayang Keenan sampai mati :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Couldn’t stop thinking about you, Melatiku :) and miss Edga a lot! Love you both to the max! :)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-7964292546817263294?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/7964292546817263294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=7964292546817263294&amp;isPopup=true' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/7964292546817263294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/7964292546817263294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/10/motivasi.html' title='Motivasi'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-4190706357288510978</id><published>2008-10-19T22:21:00.007+07:00</published><updated>2008-11-30T16:00:02.037+07:00</updated><title type='text'>Ulang Tahun Saya yang ke-31</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Curhat kecil-kecilan saya kali ini diawali dengan cerita mengenai hari ulang tahun saya yang ke-31 pada 21 September 2008 kemarin. Entah kenapa ulang tahun saya kali ini membawa begitu banyak pesan yang semuanya sangat membahagiakan saya. Tidak seperti dua ulang tahun saya sebelumnya. Saya banyak tersenyum kali ini. Banyak dan lebar :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 12 malam tanggal 21 September 2008 saya terjebak dalam sebuah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;surprise party&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yang diorganisir oleh sahabat-sahabat dekat saya yang nyaris membuat saya menangis karena terkejut dan bahagia. Kemudian disambung dengan jebakan kedua kalinya dalam sebuah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;surprise party&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;The Curve&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, Kuala Lumpur yang diorganisir oleh sahabat-sahabat saya di Malaysia. Lalu keesokan harinya disambung dengan perjalanan menghabiskan waktu menikmati momen-momen panjang Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga besar kekasih hidup saya, Melati Adams di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya memang hanya ingin liburan, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘unplugged’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sebentar dari percaturan dunia, beristirahat sejenak dan melepas rasa rindu amat sangat karena saya dan kekasih saya tinggal berjauhan. Selain itu saya juga tengah menjalani terapi tulang punggung bersama terapis saya, Bapak Willy Koo, CMD. Beliau menganjurkan saya untuk beristirahat selama menjalani terapi demi proses kesembuhan, terutama beristirahatnya saya dari latihan bela diri dikarenakan saya pernah mengalami cedera punggung akibat kelainan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;scoliosis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yang saya miliki sejak kecil. Dan saya yakin kalau saya masih di Jakarta saya pasti akan bandel dan pergi latihan bela diri. Untuk itu juga akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke Kuala Lumpur, selama beberapa hari sambil tetap bekerja sedikit (tetap masih kerja, lhoo, nggak konsisten dengan niat liburan :D) membantu sebuah produksi tayangan lokal, foto untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;cover&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sebuah majalah lokal Malaysia bersama kekasih saya yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Singapura menggunakan sebuah bus &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Aeroline&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yang sangat-sangat nyaman (saya baru pertama kali jadi agak-agak kampungan memang :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua minggu itu saya telah diberikan begitu banyak petunjuk. Petunjuk yang jelas merupakan buah dari kesadaran dan kesabaran yang telah saya jalani selama ini. Saya terus-menerus diyakinkan. Diyakinkan bahwa saya telah dianugerahi seorang perempuan, seorang wanita, seorang ibu yang bukan saja cantik dan baik hati tapi juga tulus dan bahagia karena kepenuhan rasa cinta. Seorang perempuan yang tidak pernah lelah memberikan yang terbaik yang mampu dia lakukan untuk kebahagiaannya dan kebahagiaan saya. Hal-hal yang dengan begitu mudahnya membuat saya menengadah memandang langit sambil tersenyum dan berucap ‘Terima kasih, Semesta’. Saya hanya bisa membalas semua perbuatan baiknya dengan menjaganya sekuat tenaga serta menghabiskan sisa waktu hidup saya bersama dia. Sampai nanti. Sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga menyesal bahwa selama ini saya telah merasa dibutakan. Dibutakan oleh ketakutan akan kesendirian. Dan momen ulang tahun saya kali ini membuka mata saya lebar-lebar  bahwa saya tidak sendirian. Saya keliru. Saya sadar bahwa begitu banyak orang yang menyayangi dan  mencintai saya dengan tulus sesuai kapasitas mereka. Bukan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;surprise party&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, bukan hadiah melainkan cinta. Cinta yang tulus. Cinta adalah motivasi dari segala bentuk  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;surprise party&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dan hadiah. Dan itu membuat saya tidak pernah merasa sendirian. Tidak pernah lagi. Saya merasa penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sadar bahwa semesta tidak akan pernah meninggalkan saya sendirian. Semesta akan terus memperhatikan  dan memberikan yang terbaik untuk saya selama saya rela secara sadar dan sabar untuk mencintai dan dicintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, lagi-lagi saya hanya bisa berikhtiar untuk terus bersyukur dan memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan semua mahluk tanpa kecuali. Dan saya berbahagia. Sangat bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta untuk semua perjalanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk semua peserta &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;surprise party&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; kontingen Indonesia dan Malaysia. I love you guys a lot! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada penggemar fanatik saya, Miia (Namira Sarah Anastasya) dan keluarganya dan tentunya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;TV One&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; atas kesempatan bernyanyi bersama dalam sebuah acara &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;live on stage&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; pada tanggal 12 Oktober 2008  dan juga atas pemberian hadiah dan kue ulang tahunnya yang indah buat saya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; It means a lot&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, Miia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Dearest Melati Adams, just read this carefully: I’m gonna put the word ‘Siahaan’ on your name soon&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; :-*&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-4190706357288510978?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/4190706357288510978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=4190706357288510978&amp;isPopup=true' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4190706357288510978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/4190706357288510978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/10/ulang-tahun-saya-yang-ke-31.html' title='Ulang Tahun Saya yang ke-31'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-5789535022812323277</id><published>2008-09-14T00:43:00.009+07:00</published><updated>2008-11-17T14:41:09.810+07:00</updated><title type='text'>Logika Kesombongan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Berbicara tentang kesombongan, saya jadi teringat ucapan seorang kerabat dekat saya ketika pertama kali saya berduet dengan Shanty di tahun 2002 dulu. Dia bilang begini : “Ki (Kiki adalah nama kecil saya), kamu nanti kalau sudah terkenal jangan sombong yaa! Kamu tetap harus rendah hati! Orang kalau sudah sukses itu harus rendah hati!” Saya mengangguk tanda setuju. Saya menurut saja dan terus menanamkan dalam diri: ‘JANGAN SOMBONG, TETAP RENDAH HATI’. Saya ucapkan itu berulang-ulang dalam hati. Seperti mantra. Seperti doa. Ya, itu benar. Orang kalau sukses itu sudah seharusnya rendah hati. Itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; template&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akhirnya dibenak saya timbul pertanyaan: Apakah saat itu saya paham mengapa saya tidak boleh sombong? Pahamkah saya mengapa saya memang seharusnya bersikap rendah hati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya: BELUM. Saya belum paham. Saya belum sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpahaman ini adalah sebab mengapa begitu banyak orang terlihat palsu, kosmetis dan plastik. Sikapnya dibuat-buat supaya terlihat rendah hati. Berusaha tidak sombong. Jaga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;image&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Jaga wibawa. Ya, karena mereka belum paham. Belum paham mengapa kita seharusnya tidak boleh sombong. Termasuk juga diri saya saat itu. Saya menganggap bahwa kesombongan itu (hanya sekedar karena) tabu dan kerendah hatian adalah ‘keharusan’.  Rendah hati adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;template&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Seperti tertulis di semua kitab suci, terucap di setiap khotbah pemuka agama dan pesan-pesan orang tua kepada anaknya. Hanya pengetahuan dan bukan pemahaman. Hasilnya saya BERUSAHA mati-matian untuk rendah hati. Aneh,kan? Rendah hati kok berusaha. Ketika rendah hati dijadikan usaha malahan membuat kita terlihat palsu, kosmetis dan dibuat-buat. Tidak ada ketulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendah hati itu bukan usaha tapi karakter. Karakter yang terbentuk dari pemahaman. Bukan karena keharusan. Bukan karena kewajiban. Bukan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;template.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa begitu? Mari kita berbicara logika. Untuk seorang Marcell berproses menghasilkan album saja sudah bisa dibayangkan betapa banyak elemen pendukung dan kondisi yang membuatnya hadir. Marcell sendiri, penulis lagu, penata lagu, penata vokal, penata rekam, manajemen, perusahaan rekaman, kru, studio rekaman. Belum kita berbicara tentang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;microphone&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;headphone&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, kabel-kabel, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;mixer&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;monitor speaker &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;sampai peralatan-peralatan yang lebih teknis seperti efek vokal, komputer beserta &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;software-software&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;nya. Lalu ketika show ada klien, sponsor, penonton, penggembira, fotografer, MC, panggung, tata lampu, tata suara, gedung pertunjukan dan masih banyak lagi. Belum kita bicara mengenai hal paling paling signifikan dalam proses rekaman dan show yaitu: Listrik. Tanpa listrik, mati. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Manyun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat sendiri betapa seorang Marcell tidak dapat menghasilkan sesuatupun tanpa adanya bantuan, tanpa adanya kondisi-kondisi, tanpa adanya dukungan. Pantaskah seorang Marcell berkata bahwa albumnya adalah hasil jerih payahnya SENDIRI? Pantaskah seorang Marcell sombong dengan mengatakan bahwa dia hebat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Sangat tidak pantas. Ketidakpantasan yang disebabkan bukan karena Marcell seorang artis sehingga dia harus selalu terlihat rendah hati. Bukan karena Marcell seorang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;public figure &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;sehingga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; image &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;ini membuat dia tidak boleh terlihat sombong. Bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Karena TIDAK LOGIS! Tidak masuk akal. Pemahaman logikal inilah yang membuat saya sadar dan paham bahwa kita tidak sepantasnya sombong. Bukan karena dipaksa oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;image&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, bukan karena dipaksa oleh orang sekeliling kita yang mengatakan bahwa kita harus rendah hati. Bukan HANYA karena kita dikhotbahi pendeta atau dinasehati orang tua. Tapi juga karena kita menggunakan logika. Dengan menggunakan logika kita sadar akan kenyataan bahwa memang TIDAK MUNGKIN menyelesaikan apapun sendirian tanpa dukungan langsung maupun tidak langsung dari kondisi-kondisi yang ada. Apa yang kita hasilkan sebenarnya adalah hasil kolaborasi. Kolaborasi dengan kondisi-kondisi. Terimalah kenyataan ini. Tidak usah malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan ini bukan pembicaraan yang 'dalam' apalagi 'sok dalam'. Saya selalu dikritik orang sebagai pribadi yang sok filosofis, sok mengakar dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;complicated&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Padahal tidak. Kalaupun iya, saya tidak peduli. Saya berbicara apa adanya. Kenyataan yang ada. Standar. Masalah logika. Dan logika adalah kekuatan kita. Tinggal masalahnya kita masih mau pakai logika kita atau tidak. Silahkan memilih.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS. Terima kasih kepada keluarga Bapak Haji Naim yang telah membantu mengurangi rasa sakit pada jempol kaki kiri saya yang bengkak karena keseleo. Semoga amal kebaikannya diterima oleh Yang Maha Kuasa :)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-5789535022812323277?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/5789535022812323277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=5789535022812323277&amp;isPopup=true' title='23 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/5789535022812323277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/5789535022812323277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/09/logika-kesombongan.html' title='Logika Kesombongan'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-479677415263487688</id><published>2008-09-12T11:56:00.016+07:00</published><updated>2008-11-17T14:40:09.940+07:00</updated><title type='text'>Asumsi Negatif</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Hidup kita hampir selalu berhadapan dengan asumsi. Dapat dikatakan bahwa selama manusia masih ada dan masih berfikir maka asumsi akan terus ada. Asumsi ada yang positif, ada yang negatif. Asumsi positif mampu memotivasi kita untuk menjadi lebih baik dan memacu kita untuk lebih berani menjalani proses hidup. Berani mencoba, berani gagal, berani bangkit lagi dan berani bertanggung jawab. Asumsi positif muncul dari pikiran yang positif. Berbeda dengan asumsi negatif yang muncul dari pikiran negatif. Asumsi negatif mengakibatkan orang menjadi mudah dirasuki ketakutan. Takut untuk mencoba hal baru, nggak mau keluar dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;comfort zone&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, menjadi gampang menyerah padahal belum mencoba, segala sesuatu ingin serba &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;instant&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sampai  dengan melakukan kegiatan paling nggak penting yaitu ‘mengarang bebas’ (baca: gosip).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bekerja di dunia yang penuh asumsi. Dunia mimpi. Dunia yang ternyata cukup banyak dimimpikan orang karena sering disumsikan sebagai dunia yang menyenangkan dan membahagiakan. Ketenaran, uang, penggemar fanatik, kesempatan yang lebih dari orang lain, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;go international &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;adalah sebagian dari yang mampu saya raih. Namun disaat yang bersamaan saya juga menjalani ‘kutukan-kutukan’ yang harus saya pikul. Kehilangan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;privacy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, sulitnya menjadi diri sendiri karena ekspektasi orang lain, asumsi bahwa orang-orang seperti saya (baca: artis, selebriti kalau merujuk pada bahasa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;infotainment&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;) harus selalu tampil &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;glamour&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, hedonis, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;clubbing every night&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, makan hanya mau di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;mall&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; atau di restoran-restoran mahal termasuk sulitnya menggunakan dan menikmati sarana umum dengan tenang karena terganggu oleh orang yang meminta berfoto (*sigh* terima kasih yang paling dalam kepada semua produsen telepon seluler berkamera). Saya sadar semua itu bergerak dalam satu paket yang tidak mungkin tidak harus saya dapatkan. ‘Salah sendiri aja jadi artis, siapa suruh jadi selebritis!’ begitu celetukan ‘ajaib’ seorang ibu ketika dia seenaknya memaksa saya berfoto dengan dia sambil bersikeras ‘memaksa’ anak-anaknya berfoto dan berdalih anak-anaknya yang mengidolakan saya (padahal anak-anaknya sendiri terang-terangan bilang nggak tahu siapa saya).  Saat itu saya tengah makan malam bersama sahabat-sahabat saya. Dan buat saya pribadi, saat makan adalah saat ‘sakral’. Tidak ingin diganggu sebenarnya. Dan saat itu saya terganggu. Terganggu karena cara yang tidak wajar dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;uncivilized&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Ditambah lagi ibu yang satu ini menganggap celetukannya adalah wajar, lucu dan menghibur. Rasanya ingin sekali menyewa  mas &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Ryan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; untuk melakukan ‘tindakan signifikan’ atas ibu itu.. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur. Saya bahagia dengan apa yang sudah saya raih sekarang ini lengkap dengan segala konsekuensinya. Saya menghargai siapapun yang bisa memperlakukan saya sesuai dengan jatah saya. Sopan dan bermartabat. Waktu yang tepat. Ketika tidak sedang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;show &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;(apalagi saat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;show&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;) wajarlah ketika ada yang meminta berfoto ataupun tanda tangan. Dengan sangat senang hati saya melayani. Bukan masalah fotonya atau tanda tangannya atau apapun. Hanya masalah caranya. Tidaklah wajar ketika dimintakan dengan cara yang sangat tidak beradab, tanpa permisi dan menganggap saya benar-benar hanya sebagai produk, seperti hewan di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;pet shop&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; atau kebun binatang. Dan itu benar-benar terjadi. Saat itu saya sedang berlatih &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Taichi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dengan pelatih saya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Alex Marentek.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; Tiba-tiba ada sekelompok orang mendekati kami, memotret-motret dan tertawa-tawa persis seperti melihat binatang langka. Tanpa basa-basi, tanpa bicara permisi dan tanpa terima kasih. Nggak punya adat. Kampungan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Period&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar saya adalah manusia. Saya pun bisa terganggu dan (mungkin) tersinggung. Sama ketika ada seorang (yang ngakunya) teman yang melihat saya berjalan di sebuah mal yang ramai kemudian berteriak-teriak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;overacting&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; karena saat itu banyak orang memperhatikan pertemuannya dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si (ngaku) Teman bilang: “Weiits, Marcell!! Artis-artis!! Foto dulu dong ama ARTIS (dengan penekanan)!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab (dengan tenang): “Oh, sorry! Gua nggak biasa foto-foto ama ‘orang biasa’ (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;civilians&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; kalau kata &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Elizabeth Hurley&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si (ngaku) Teman emosi dan menjawab: “Kok lo gitu sii?? Sombong banget!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab: “Lo ngapain kayak gitu ngomong ‘artis-artis’ ama gua? Nggak bisa biasa-biasa aja yaa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si (ngaku) Teman jawab: “Kan gua cuman becanda!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab: “Sama persis. Gua juga. Enak nggak lo dibecandain kayak gitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si (ngaku) Teman jawab lagi: “Nggak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab : “Sama persis. Gua juga nggak enak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan si (ngaku) Teman ini tersenyum ‘kuning’ karena dia sadar saya tersinggung karena sikap &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;overacting&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;-nya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sekali si (ngaku) Teman ini adalah korban asumsi. Termasuk si ibu dan orang-orang tak beradab yang memotret saya tadi. Asumsi bahwa artis ataupun selebritis di Indonesia adalah orang yang harus setiap saat siap menghibur dan dihibur. Sebuah produk mainan yang siap dipasangi baterai dan dinyalakan kapanpun dibutuhkan. Dan kalau sudah rusak dan tidak produktif siap dibanting dan dibuang. Jadi kalau dikomentarin kayak gitu harus terima dan nggak boleh tersinggung. Dimanapun, kapanpun. Si (ngaku) Teman ini dengan mudah melontarkan kata-kata yang bukan saja mengganggu tapi juga sudah menghina pekerjaan saya. Kalaupun dia memang teman saya (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;that’s why I nicknamed him&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; si (ngaku) Teman &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;cause he’s not&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;) dia tidak akan memperlakukan saya berbeda dengan dirinya. Biasa aja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Relax. Nyanteeiii.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; Apa adanya. Sekali lagi saya hanya manusia biasa. Bidang keartisan dan hiburan memang pekerjaan saya. Bedanya adalah pekerjaan saya membutuhkan publikasi dan ekspos media sehingga ‘seolah-olah’ saya punya kewajiban untuk bertanggung jawab kepada masyarakat. Itu saja. Selebihnya saya manusia biasa yang juga bekerja mencari nafkah sama seperti yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resiko yang saya juga alami sebagai akibat lain dari asumsi negatif adalah dianggap sombong. Kalaupun akhirnya saya harus menelan pil pahit dianggap sombong hanya karena saya berusaha tetap menjadi diri sendiri dan menghargai diri saya apa adanya, saya tidak peduli. Prinsip saya: Saya yang sombong atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;situ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yang minder sama saya? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Wong &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;saya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;ndak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; ngapa-ngapain kok dibilang sombong! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Wuaaneh!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ya, ini juga akibat asumsi negatif. Saya penyanyi. Tapi bukan berarti setiap saat dimanapun, kapanpun, dengan siapapun  saya bernyanyi. Saya punya kegiatan lain. Saya mengantar anak saya Keenan untuk pergi sekolah, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;chatting&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dengan kekasih saya di luar negeri, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;meeting&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dengan manajemen dan tim kreatif saya, aktif persiapan mengikuti pertandingan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Taichi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dan berlatih &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Brazilian Jiu Jitsu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;hang out&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; bersama teman-teman saya. Normal. Biasa.  Orang berasumsi bahwa kalau penyanyi pasti tiap hari bernyanyi dimanapun, kapanpun, dengan siapapun. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Silly assumption&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;But it happened&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;.  Burung aja ada istirahatnya, soob! Apalagi gua burung aja bukan yaak?.. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat pernah ada sebuah wawancara dengan seorang pelawak senior idola saya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Kang Ibing&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;D’Kabayans&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dengan seorang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;presenter &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;korban asumsi yang (sok) asyik menanyakan pertanyaan nggak penting sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presenter: “Kang Ibing kan pelawak nii. Kalau dirumah suka ngelawak nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Ibing: “Kamu tanyain tukang becak yaaa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presenter: “Maksudnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Ibing: “Iya tanyain tukang becak, dia kalo dirumah suka ngebecak nggak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertawa terpingkal-pingkal jilat-jilat tembok. :D &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Aya-aya wae ateeuuuh!  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; Hidup Becak! ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi, kalau saya menghadiri pesta ulang tahun atau pernikahan kerabat saya, dan saya diundang sebagai tamu (saya tekankan lagi sebagai TAMU), bukan berarti karena saya penyanyi lalu saya harus setiap saat siap ‘ditodong’ untuk menyanyi, kaaan? Dan ketika saya menolak saya kena getah dianggap sombong dan tidak profesional. Aneh. Menurut saya, profesional itu membutuhkan persiapan dan kesiapan. Bukan dadakan kayak sambal. Seorang yang profesional menghargai profesinya. Seorang yang profesional tidak akan suka ‘ditodong’. Pesan saya: siapapun itu jika mengharapkan saya untuk secara profesional siap bernyanyi dimanapun dan kapanpun, saya juga berharap siapapun itu harus siap untuk bertindak secara profesional yaitu dengan: MEMBAYAR HONOR SAYA! :D Jadi kalau sendirinya tidak siap untuk profesional, jangan menuntut orang lain untuk profesional. Jangan nodong-nodong. Jangan sok kasih' Jebakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Batman'&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; (saya sendiri sampai sekarang nggak ngerti apa maksud dari 'Jebakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Batman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;'. Karena rasa-rasanya Batman tidak suka menjebak-jebak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Batman &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;cukup soleh :))  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Agree?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; Harus! :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi artis di Indonesia juga harus dikembalikan ke asal-muasalnya. Pekerja seni. Dan artis bukan berarti selebriti, selebriti juga belum tentu artis. Selebritis adalah orang-orang yang suka menghadiri ataupun membuat pesta. Kalau kebetulan banyak artis didalam banyak pesta bisa jadi karena tuntutan pekerjaan. Karena artis, seperti yang juga saya sudah alami, salah satu tempat kerjanya adalah pesta. Dua hal yang berbeda. Banyak tayangan di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;infotainment&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; yang dengan murahnya me-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;label&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;-kan seseorang dengan status artis dan atau selebritis. Padahal yang bersangkutan jelas-jelas artis juga bukan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;wong&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;ndak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; ngapa-ngapain. Bikin album musik nggak, main sinetron juga nggak tahu yang mana, model juga bukan. Masuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;infotainment&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; juga hanya karena bikin 'kasus' atau '&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;affair&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;'. Hanya karena ‘gaul’ terus dapat sebutan selebritis. Masih gaulan mana sih orang itu  sama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Dalai Lama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;? Bedanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Dalai Lama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; nggak suka &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;clubbing&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;To tell you the truth&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, asumsi negatif hanya melahirkan penderitaan. Asumsi lahir dari ketakutan. Orang takut akan cenderung berasumsi negatif. Dan yang lebih mengerikan lagi, orang yang suka berasumsi negatif akan mudah termakan oleh asumsi negatif orang lain. Setelah termakan asumsi negatif, dia akan berasumsi negatif lagi, begitu seterusnya berkembang tanpa henti. Seperti virus. Atau kanker. Makin parah dan akut. Untuk itu mulailah berlatih menjauhkan diri dari asumsi negatif. Salah satu caranya adalah dengan menjauhkan diri dari orang-orang yang suka berasumsi negatif. Jauhkan diri dari orang-orang yang kerjanya takut melulu terus suka nakut-nakutin orang lain, suka bergosip dan mengarang bebas, mau tahu  dan sok tahu urusan orang. Jauhkan diri dari apapun yang potensial membuat kita berasumsi negatif. Jangan jadikan kegiatan berasumsi negatif sebagai hobi. Masih banyak hobi lain yang jauh lebih bermanfaat, joo! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat kata-kata pelatih &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Brazilian Jiu Jitsu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; saya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Nicolai Holt&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, sebelum dia berangkat ke Inggris untuk selamanya. Kurang lebih begini: ‘Jika kamu ingin merasakan kebahagiaan, mulailah bergaul dan berinteraksi dengan mereka yang berpikiran positif, mereka yang hidup dipenuhi cinta dan mereka yang hidup tanpa rasa takut.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS. Terima kasih kepada Mbak Iis dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;de Latinos y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;ang sudah menggorengkan bakwan sayur dan tahu isi buat saya ngemil :)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-479677415263487688?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/479677415263487688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=479677415263487688&amp;isPopup=true' title='17 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/479677415263487688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/479677415263487688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/09/asumsi-negatif.html' title='Asumsi Negatif'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-5176216534411674009</id><published>2008-09-10T01:18:00.015+07:00</published><updated>2008-11-17T14:39:14.133+07:00</updated><title type='text'>Buah Proses</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Saya berpisah dengan Dewi. Banyak pihak menyayangkan perpisahan ini. Perpisahan yang menjadi perpisahan paling aneh karena tanpa konflik. Perpisahan yang mengharukan sekaligus membahagiakan. Mengharukan? Sudah jelas karena tidak ada perpisahan yang tidak mengharukan. Membahagiakan? Jelas  karena perpisahan saya dengan Dewi membuahkan begitu banyak pelajaran berharga. Pelajaran yang menjadikan diri saya semakin yakin bahwa apapun itu tidak ada satupun yang luput dari proses. Perpisahan inipun hanyalah bagian kecil dari sebuah proses besar perjalanan hidup saya. Saat kami sama-sama jatuh cinta di tahun 2002, menjalani hubungan pacaran selama sembilan bulan hingga akhirnya memutuskan menikah di bulan September 2003 adalah merupakan proses. Dilanjutkan dengan menjalani pernikahan yang tentunya tidak luput dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;ups and downs&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, lahirnya malaikat semata wayang kami, Keenan Avalokita Kirana, hingga akhirnya selama dua-tiga tahun terakhir berdua menyadari dan menerima bahwa kami berdua sudah tidak bisa saling mengisi dan memenuhi. Masing-masing kami bergerak dan bertumbuh menuju arah yang berlainan. Dan semuanya adalah hasil proses. Hasil proses yang aneh seperti banyak orang bilang. Apalagi ketika banyak pihak harus ‘dipaksa’ menerima kenyataan bahwa kami berdua masih saling menyayangi bahkan (tanpa malu-malu) mengatakan masih saling mencintai namun dalam bentuk yang sudah sama sekali berbeda. Kenapa cerai kalau memang saling mencintai? Yah, itulah kami. Hanya kami. Saya dan Dewi. Cinta kami bertransformasi. Dan kami menerima kenyataan itu. Kami telah berproses mengenal satu sama lain dan inilah hasilnya. Hasil dari berproses secara dewasa. Menerima dan akhirnya melepaskan. Kami masing-masing telah berani untuk jujur pada diri sendiri dan itu berharga. Jujur dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;legowo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; bahwa masing-masing kami sudah tidak bisa saling mengisi dan memenuhi. Kami berdua tidak malu mengakui kekurangan kami. Tanpa harus sengaja menciptakan konflik dan saling menyalahkan. Tanpa harus berdrama-drama. Tanpa harus mencari sensasi di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;infotainment&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dan akhirnya kehilangan integritas dan jati diri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Yup&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, aneh memang. Tapi nyata. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘Believe it, or not!’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; kalau kata almarhum &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Jack Palance&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Bukan rekayasa, nggak dibuat-buat. Saya dan Dewi nggak butuh sensasi. Nggak perlu. Kerjaan kami sedikit banyak selalu berhubungan dengan sensasi dan itu sudah cukup buat kami. Nggak kepikir. Boro-boro mau rekayasa-rekayasa. Nggak ada waktu, joo! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lain yang juga berharga yang saya dapatkan dari  proses dua-tiga tahun belakangan ini adalah SADAR dan SABAR. Orang sabar seringkali dihina, direndahkan, dianggap nggak punya pendirian, pengecut. Dan orang sadar seringkali dianggap sok suci, sok tahu dan sok benar. Saya hanya tersenyum. Kenapa? Karena kesadaranlah yang membawa saya akhirnya memilih untuk sabar menjalani proses saya. Ketika masalah berat mendera saya, saya memilih untuk tetap berada dalam keadaan yang stabil, yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;sober&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; walaupun, jujur, sama sekali tidak mudah. Karena saya yakin hanya orang yang stabil dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;sober &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;yang bisa menyelesaikan masalah dengan lebih baik. Saya tidak akan merusak kesadaran saya karena kesadaran adalah modal utama saya menjalani proses hidup ini. Saya menjadi tahu betul apa yang saya lakukan dengan segala akibat dan resikonya. Saya tidak takut dan tidak lari karena saya sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan saya justru orang pengecut adalah orang yang tidak berani berproses. Orang seperti ini punya kecenderungan untuk  mempercepat proses, bahkan kalau mungkin (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;which is not possible&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;) tidak perlu melewati proses karena yang bersangkutan tidak berani melewatinya dengan sadar, sabar dan tawakal. Orang yang pengecut adalah orang yang tidak sabar. Dan kecenderungan orang yang tidak sabar adalah menyalahkan orang yang sabar dengan mengatakan bahwa sabar adalah bentuk dari sikap pengecut, tidak jantan. Lucu. Sekali lagi saya hanya tersenyum, tertawa dan kadang terpingkal-pingkal sambil garuk-garuk aspal. Sabar nggak ada hubungannya ama kejantanan. Kejantanan itu manifestasi ego. Kejantanan itu problematika ranjang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Ayaaaam kali jantaaan, mas Booy!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sadar bahwa akhirnya dalam menjalani hidup tidak ada yang namanya benar atau salah. Yang ada hanyalah motivasi baik dan motivasi keliru. Perbuatan baik kalau didasari oleh motivasi keliru hasilnya tidak membahagiakan. Perbuatan tidak baik juga akan berkurang efek buruknya kalau dimotivasi oleh sesuatu yang baik walaupun tetap perbuatan itu tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sadar bahwa segala sesuatu harus melalui proses, kita tidak perlu mempercepatnya hanya karena ingin segera bertemu dengan hasil akhir. Hasil akhir pasti datang kook. Nggak usah dipaksa dipercepat. Segala sesuatu sudah ‘tertulis’. Nggak perlu dipertanyakan lagi. Kuncinya adalah  yakin dan sadar kemudian jalani proses sebaik-baiknya dengan tetap konsentrasi pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;present time&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;,  dan.. SABAR. Sabar bukan berarti menunggu. Bego kalo cuman nunggu doang. Sabar disini artinya bijaksana, tidak rusuh, tidak tabrak sana-sini kayak ayam rabun senja, kayak lalat terbang pas udah maghrib. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Kaleeeum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; tapi pasti. Itu saja yang saya yakini. Percaya atau tidak kesabaran telah membentuk saya menjadi manusia yang lebih kuat dan tahan banting. Berani keluar dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;comfort zone&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Kesabaran juga telah menuntun saya kepada kebahagiaan yang tengah saya jalani sekarang ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Amen to that&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Hidup sabar! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, apa mau dikata, itulah proses yang saya hadapi. Itulah hidup saya. Mohon maaf kepada mereka yang mencerca saya tapi tidak pernah saya gubris. Mohon maaf kepada mereka yang merasa lebih tahu tentang hidup saya padahal tidak sama sekali. Mohon maaf kepada mereka yang sempat turut serta dalam proses hidup saya dan akhirnya memilih untuk mundur teratur karena tidak sabar, tidak tawakal, tidak percaya.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;That’s your choice, not mine&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Wong&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sini berproses sama kayak situ kok. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Muassalahmu dewe&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; kalau situ nggak sabar! Hehehehe! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah dari kesadaran dan kesabaran itu selalu manis. Prosesnya yang tidak selalu mulus dan manis. Kita semua tahu itu. Orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;gemblung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; juga tahu :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua berbahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada yang tersayang Dewi Lestari, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;The Writer&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, ibu dari malaikat kecil saya, Keenan Avalokita Kirana, untuk perjalanan hidup yang tak tergantikan ini. Atjeu, kita sudah sama-sama gila sekarang taoook! Dewa Tapir siap menginisiasi kita, tjeuu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Hapunten Gusti nu Aguuuuung! :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepada sahabat saya Reza Gunawan, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;The Healer&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, atas kesabaran, pengertian dan cintanya pada Dewi dan Keenan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Appreciate it a lot, brother Manilow!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih paling besar kepada kekasih saya, Melati Adams, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;The Mother&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, yang telah menunjukkan kesabarannya mengikuti saya menjalani proses ini. Kesabaran kamu adalah kekuatan sekaligus pelajaran berharga untuk saya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Patience is a virtue. Love you, B! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;:-*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS. Mau martabak keju ama juice strawberry? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Anyone?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; :)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-5176216534411674009?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/5176216534411674009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=5176216534411674009&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/5176216534411674009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/5176216534411674009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/09/proses.html' title='Buah Proses'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-7150411179277206352</id><published>2008-08-13T01:14:00.011+07:00</published><updated>2008-11-17T14:38:06.489+07:00</updated><title type='text'>Basa Basi</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Saya kurang mampu berbasa-basi. Saya adalah pribadi yang punya kecenderungan tertutup. Saya harus merasa aman dan nyaman dulu baru bisa terbuka. Ya, itulah saya dan mungkin beberapa orang lain. Karena kecenderungan tertutup itulah maka saya agak kurang bersahabat dengan sikap sok kenal. Salah satu bentuk nyata dari sok kenal adalah basa-basi.  Buat saya, menjadi orang yang sok kenal sehingga harus memaksakan diri untuk berbasa-basi adalah menyakitkan. Mengapa? Karena saya sendiri kurang nyaman disok kenali oleh orang lain sehingga tahu rasanya ketika harus mensok kenali orang lain, berbasa-basi dengan orang lain. Namun karena pekerjaan saya memang membutuhkan kondisi mental yang kuat dari tindakan sok kenal orang lain, saya berlatih keras. Berlatih keras untuk bagaimana menjadi korban basa-basi sekaligus juga berbasa-basi. Pelan-pelan tapi pasti, saya berevolusi menjadi manusia yang mampu membedakan mana tindakan sok kenal dengan basa-basi yang tulus dan mana yang tidak tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah proses tanpa henti. Hidup adalah latihan tanpa henti. Saya terdaftar untuk ikut berlatih. Berlatih untuk mengikuti arus basa-basi karena percuma untuk melawan arus. Saya memilih untuk mengikuti arus. Namun mengikuti ikut arus bukan berarti tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya begini: saya cukup banyak menghadiri acara-acara (walaupun tetap tidak merubah sebutan ‘autis’ untuk saya). Saya bertemu banyak sekali orang dari banyak kalangan. Artis, sok artis, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;socialite&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, sok &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;socialite&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; atau apapun sebutannya. Seringkali saya juga bertemu dengan orang yang masih itu-itu juga karena banyak dari mereka masih berasal dari pergaulan yang sama. Dan lebih dari lima orang yang sama itu bertanya basa-basi kepada saya dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;templates&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; pertanyaan yang sama pula. Dan pertanyaan-pertanyaan yang paling &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;trendy &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;adalah: ‘ngapain?’, ‘sama siapa?’, ‘udah lama?’ bahkan pertanyaan yang sudah mulai menyinggung ranah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;privacy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; saya seperti: ‘kok sendirian? Dewi mana?’. Yang cukup ngeselin adalah saya pernah jelas-jelas datang ke konser besar sebuah band ataupun penyanyi ataupun DJ dari mancanegara dan masih ditanya ‘ngapain?’. Pengen garuk-garuk tembok dan jilat- jilat aspal rasanya :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berasumsi dan menuduh, namun saya yakin, dalam waktu kurang dari setengah jam setelah pertanyaan itu dilontarkan kepada saya, pasti yang bersangkutan lupa dia pernah bertanya apa kepada saya. Lagian kalaupun saya harus menjawab misalnya atas pertanyaan ‘Dewi mana?’ dan kemudian saya jawab  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;detail &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;(dan saya selalu cukup &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;detail&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; karena saya pengen orang lain&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; informed&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; bener-bener): ‘Dewi sedang sibuk menyelesaikan albumnya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Rectoverso&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, yang berisi sebelas lagu plus sebelas cerpen bertema sama dan akan rilis dekat-dekat ini dan diproduseri secara independen’, pertanyaan yang sangat mungkin muncul dibenak saya adalah: ‘Kira-kira orang itu ngerti nggak yaa? Bisa jelasin lagi nggak ya? Misalnya ketika ditanya sama orang lain yang bertanya sama dia:’Tadi ketemu Marcell yaa? Sama Dewi nggak? Dewi lagi ngapain?’ Saya nggak jamin jawabannya akurat. Dan saya juga yakin nggak akan ada lagi yang nanya begitu sama dia. Jangankan mikirin mau nanya  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;detail&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;nya. Nggak ada yang peduli &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;wong&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; cuma basa-basi, kok. Ntar pasti kalau ketemu lagi padahal baru dua hari yang lalu ketemu, pertanyaannya pasti masih sama: ‘Dewi mana?’ Heiloooo??? Basa-basi-busuk. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Crap&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Period&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ada juga yang bertanya basa-basi mengenai keputusan saya untuk menjadi pemeluk agama Buddha disaat saya sedang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;grocery shopping&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; di sebuah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;supermarket&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Mungkin juga serius bukan basa-basi. Pertanyaannya adalah: ‘kenapa sih kok pindah Buddha?’ dan pertanyaan ini diajukan disaat saya sedang memilih-milih tahu dan tempe untuk makanan saya. Pertanyaan itu jelas-jelas adalah pertanyaan sangat pribadi dan prinsipil. Pertanyaan seperti itu bukan pertanyaan standar untuk dibicarakan sambil  milih-milih tahu, tempe dan sayuran di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;supermarket&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Seberapa lama sih durasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;grocery shopping&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sampai perlu bertanya hal sedalam itu? Nggak akan cukuplaah. Jelas butuh waktu yang tidak sebentar karena pembicaraannya pasti menjadi panjang lebar. Tidak boleh asal-asalan. Butuh kesiapan mental untuk menjawab, mendengarkan dan berkomentar. Karena kalau setengah-setengah baik dalam mendengarkan, menjawab atau berkomentar bisa jadi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;insulting&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; untuk kedua pihak.  Kesimpulannya, pertanyaannya yang ‘nggak penting’ untuk saat itu. Nggak banget. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Again, it was just another&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; basa-basi-busuk. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Sorry&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita berpikir dulu sebelum nanya, penting atau nggak jawabannya. Cukup atau nggak waktunya. Pas atau nggak momennya. Latihan kepekaanlaah. Nggak usah jauh-jauh, minimal &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;benefit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;-nya untuk kehidupan pribadi si penanya: nambah pengetahuan nggak? Bikin hidup lebih baik nggak dengan mendapatkan jawaban? Kalau misalnya nggak nambah apapun ataupun udah nanya, dan kemudian dijawab panjang lebar dan akhirnya juga lupa jawabannya apa dan apalagi (amit-amit) pertanyaannya ntar juga lupa, yaa mending nggak usah nanya deeh. Efisien dan efektiflaah. Bukan cuman mengurangi pemakaian BBM aja yang ada hubungannya dengan efisiensi dan efektifitas, tapi juga bagaimana merubah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;mindset&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; untuk efisien dan efektif dan mutlak HARUS dimulai dari diri sendiri. Efisien dan efektif dalam bertanya  sekaligus juga efisien dan efektif dalam menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang mengalami pencerahan pernah berkata bahwa terdapat tiga jenis pertanyaan didunia ini. Pertama adalah pertanyaan yang harus dijawab, Kedua adalah pertanyaan yang tidak harus dijawab dan ketiga adalah pertanyaan yang harus dijawab dengan pertanyaan lagi. Perkataan Sang Bijak ini selalu menuntun saya untuk berlatih efisiensi dan efektifitas. Berguna sekali. Sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basa-basi itu adalah hak bukan kewajiban. Banyak hak ketika berubah menjadi kewajiban hilang nilai ketulusannya. Buat saya pribadi, cara kita berbasa-basi menunjukkan tingkat ketulusan kita sekaligus juga tingkat kecerdasan dan kecermatan kita. Daya tangkap dan daya tanggap kita. Basa-basi walaupun kecil tetap harus elegan. Basa-basi kita menunjukkan karakter kita sebenarnya. Basa-basi kalau nggak asyik yaa siap-siap dibete-in atau nggak dijawab dan dianggap ‘nggak’ pinter (saya nggak bilang ‘bodoh’ atau ‘tolol’ lhoo:)). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;So people&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, berhati-hatilah dalam berbasa-basi. Sadari bahwa basa-basi juga mampu menyakiti orang lain terlebih ketika dilontarkan tanpa  observasi dan tanpa dipikir (baca: tanpa ketulusan). Jauuuh lebih baik kita tersenyum dan melambaikan tangan dengan tulus tanpa kata-kata. Jauh lebih bermakna. Jauh lebih membahagiakan. Tapi ingat, selama tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua berbahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih semesta untuk perjalanan hari ini. Terimakasih buat Eva dari Warung Kemuning di Subud yang sudah membuatkan teh manis dan membawakan pisang :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS. Oh ya, ada yang lebih parah lagi, saya terang-terangan mengisi sebuah acara sebagai penyanyi dan acara itu jelas-jelas menyebutkan nama saya sebagai pengisi acara serta disiarkan oleh sebuah stasiun TV. Masih ada juga orang di belakang panggung dalam acara itu yang bertanya ke saya dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;simple&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; tapi cukup membuat saya bingung: ‘Nyanyi, Cell?’ &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Kumaha ngajawabna nyak? That’s stupid. Period.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-7150411179277206352?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/7150411179277206352/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=7150411179277206352&amp;isPopup=true' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/7150411179277206352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/7150411179277206352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/08/basa-basi.html' title='Basa Basi'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4041481561976227796.post-834107069719677269</id><published>2008-08-11T00:48:00.020+07:00</published><updated>2008-11-17T14:15:21.339+07:00</updated><title type='text'>Sunday Trip to Ragunan Zoo</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Pagi ini saya berangkat ke Kebun Binatang Ragunan bersama orang-orang terkasih saya: Keenan, pengasuhnya Bernadeth, supir saya Joko, istrinya Titin dan anak mereka Daffa. Masih dalam rangka &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;post-party&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; ulang tahun Keenan yang ke-4 tanggal 5 Agustus kemarin. Sejak malam sebelumnya saya sudah mempersiapkan diri saya untuk beberapa hal terburuk: berangkat terlalu siang (karena malam sebelumnya tidur kemalaman dan keinginan membiarkan Keenan untuk bangun tanpa dipaksa), yang bakal berakibat udara makin panas dan munculnya alergi kulit saya karena kepanasan (sigh), hari Minggu yang tentunya bakal mengakibatkan Kebun Binatang akan menjadi tempat yang ‘sangat’ sepi pengunjung, kesiapan mental menghadapi orang-orang yang kurang bisa menghargai waktu saya bersenang-senang dengan orang-orang terkasih dengan terus meminta berfoto sehingga waktu senang-senang saya tersita, serta rasa lapar yang akan menerjang karena sulitnya mencari makanan yang ramah vegetarian. Tapi saya nggak peduli. Saya tetap pergi. Saya HARUS &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;sowan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dengan ‘sahabat-sahabat’ saya di Kebun Binatang Ragunan:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun perjalanan saya di Kebun Binatang Ragunan (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;anyway, that was my first visit to Ragunan Zoo :D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;) hari ini nggak terlalu lama karena ternyata Keenan sedang nggak terlalu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;‘into’&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; hewan-hewan hari itu, (dia lebih semangat mau naik kereta dan makan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Tango wafer&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; sambil lari-lari tak tentu arah) serta sempat hampir kehilangan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;mood&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; karena kamera digital saya ngadat, ada satu hal yang paling menarik buat saya. Ketika saya berada didalam ruangan khusus tentang penangkaran dan perlindungan Orangutan yang didirikan oleh seorang ibu baik hati (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;at least&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; keliatan dari fotonya berpelukan bersama kera-kera dengan senyum yang sangat tulus) bernama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Schmutzer&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;, saya sempat melihat silsilah Primata dan didalam salah satu rantai silsilahnya terdapat rantai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Apes&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; (kera besar) yang terdiri dari tiga sub rantai: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Lesser Apes, Great Apes&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; dan.. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;HUMAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;! :) Ooops!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya sempat ‘tersinggung’. Saya terluka. Dari kecil saya diajarkan di sekolah untuk menyadari bahwa kita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya dari mahluk lain. Walaupun saya sudah tahu bahwa &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;so called&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; kera-kera adalah nenek moyang saya, tetap saja ada perasaan nggak terima ketika saya memperhatikan petunjuk silsilah itu. Ego saya terganggu. Saya nggak sama dengan kera, monyet, ketek, mawas atau apapun itu walaupun saya juga tahu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;pakde Darwin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; mati-matian meyakinkan semua orang tentang Teori Evolusi dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;Missing Link&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;. Saya ini manusia lhoo. Berakal budi lhoo. Berakhlak lhoo. Tapi nyatanya? Paling tinggi? Berbeda? Nggaklah, karena faktanya selama masih berada satu ras ama kera, monyet, ketek, mawas yaa terimalah kenyataan bahwa nggak beda-beda amat. Paling tinggipun tetap aja pembandingnya monyet. Kurang ajar! :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar bahwa saya bukan siapa-siapa. Marcellius Kirana Hamonangan Siahaan bukan apa-apa. Petunjuk silsilah itu menyadarkan saya. Saya nggak merasa minder ketika saya tahu bahwa saya ternyata beda-beda tipis ama Siamang. Sebelas duabelas ama Bonobo. Setali tiga uang ama Wau-wau. Saya nggak dendam. Tapi yang saya tahu, perbedaan saya dengan mereka adalah saya punya kesadaran dan kesempatan. Kesempatan untuk menyadari bahwa saya hanyalah bagian kecil, sangat kecil dalam semesta ini. Saya bukan penguasa semesta. Saya tidak berkuasa atas apapun kecuali diri saya sendiri, pikiran, perkataan dan perbuatan saya sendiri. Saya punya kesadaran dan kesempatan lebih dari kera-kera itu. Mereka berjalan, bertingkah laku hanya berdasarkan naluri. Mereka berusaha harmonis dengan alam karena secara naluriah tahu akibat dari melawan kehendak alam. Melawan kehendak alam berarti binasa. Cepat atau lambat. Saya bukan hanya tahu secara naluriah tapi saya mengerti dan sadar akan kesempatan itu. Diri saya adalah semesta kecil. Mencintai diri saya sebagai semesta kecil menyadarkan saya untuk dengan sendirinya mencintai semesta besar dimana saya menjadi bagian terkecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua mahluk berbahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Semesta untuk perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Keenan anakku, Berna, Joko, Titin dan Daffa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Kebun Binatang Ragunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih cintaku Melati Adams, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;for your love, understanding and continuous support. Nan unei kazelikiren&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;! :-*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS. Saya sempet berkelakar dengan supir saya Joko dan istrinya Titin membayangkan akan ada sebuah kebun bernama Kebun Orang Aneh sebagai ‘saingan’ dari Kebun Binatang. Terinspirasi dari begitu banyaknya orang dengan kelakuan aneh-aneh dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;uncivilized&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt; di Kebun Binatang Ragunan yang jujur, jauh lebih ‘heboh’ dan ‘unik’ dari hewan-hewan yang kami lihat disana. Dijamin lebih seru. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;No offense, people. Peace. I’m just the part of the missing link. Forgive me ;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4041481561976227796-834107069719677269?l=the-tao-of-marcell.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/feeds/834107069719677269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4041481561976227796&amp;postID=834107069719677269&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/834107069719677269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4041481561976227796/posts/default/834107069719677269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/2008/08/sunday-trip-to-ragunan-zoo_5678.html' title='Sunday Trip to Ragunan Zoo'/><author><name>Marcell Siahaan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11909038834356674240</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_w8Gmet1o7Lg/SJ74r1GKPTI/AAAAAAAAAAU/Ox_2Xi-du-8/s1600-R/IMG_1358.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry></feed>
